Suasana perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia (RI) di Gedung Sate, Jalan Diponegoro No. 22, Kota Bandung, diwarnai aktivitas pedagang yang menjajakan dagangannya di tengah keramaian warga pada Senin, (17/8).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Kibaran merah putih menjulang di antara padatnya warga yang memenuhi halaman Gedung Sate. Lagu-lagu nasional mengalun, langkah kaki berpadu dengan riuh warga, sementara di pinggir halaman sejumlah gerobak berjajar menanti keramaian.
Sardikin berdiri di belakang gerobak hijaunya dengan siomay dan bakso tahu yang masih tersusun rapi. Sudah lima tahun berjualan, tetapi dalam sehari penghasilannya hanya berkisar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu.
Pagi itu, baru satu pembeli yang berhenti. Piring yang sedang disantap menjadi tengara kecil dari rezeki yang datang di pagi itu.
Tak jauh dari sana, Dudin menawarkan es jus rasa mangga dan sirsak. Pedagang asal Singaparna, Tasikmalaya, itu datang tanpa tahu bahwa Gedung Sate akan menjadi tempat perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia (RI).
Ia datang hanya untuk berjualan. Namun, keramaian yang terbentang di hadapannya ternyata tak banyak mengubah isi kantong.
Ingatan Dudin kemudian beranjak pada masa ketika hasil bekerja masih bisa ia sisihkan. Dari uang itu, ia bahkan bisa membiayai anaknya hingga kuliah dan meraih gelar Strata 1 (S1).
Kini, menabung terasa seperti perkara yang kian jauh. “Dari segi ekonomi bukannya makin naik, malah makin menurun. Dulu kan bisa menyimpan, sekarang mah boro-boro buat makan sendiri aja kelelahan,” ucap Dudin sembari tetap melayani pembeli.
Di hari ketika kemerdekaan dirayakan, Dudin dan Sardikin justru sibuk menghitung hal lain. Bukan ramainya orang, melainkan hasil yang bisa mereka bawa pulang.
Riuh upacara perlahan surut, menyisakan antrean sate yang memanjang dan kamera-kamera yang masih terangkat. Di sela keramaian itu, Sri Guswati berbicara tentang kemerdekaan yang belum sepenuhnya dirasakan.
“Belum, belum semua buktinya dari Bansos (Bantuan Sosial, Red) itu tidak merata, ya, jadi ada yang kalangan bawah itu belum merasakan,” tutur Sri dengan ramah.
Pembicaraan Sri kemudian beranjak pada pendidikan. Baginya, kemerdekaan belum benar-benar sampai jika akses pendidikan masih belum dirasakan secara merata.
Pandangan lain datang dari Evan Fuad yang tengah berdiri di antara kerumunan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Dengan kemeja abu-abu dan celana panjang, warga Bandung itu memandang kemerdekaan dari persoalan ketimpangan ekonomi yang masih dirasakan masyarakat di sejumlah daerah.
“Masih banyak lah kekurangan yang dirasakan masyarakat, belum sampai tahap masyarakat benar-benar menikmati kemerdekaan,” kata Evan dengan nada serius.
Kerumunan perlahan surut. Sardikin masih berada di belakang gerobak hijaunya, sementara Dudin tetap menjajakan es jus mangga dan sirsaknya.
Keduanya belum beranjak pulang. Masih ada pembeli yang mereka tunggu dan dagangan yang berharap terjual sebelum matahari terbenam.
Barangkali, di situlah tengaranya. Di balik kibaran merah putih dan perayaan yang semarak, masih ada kemerdekaan yang belum sepenuhnya dirasakan semua orang.
Reporter: Violetta Kahyang Lestari Fauzi/SM
Penulis: Siti Nur Halizah/SM
Editor: Siska Vania/SM
