Situasi berlangsungnya diskusi refleksi "Merawat Ingatan & Lawan Balik" atas penyerangan aparat dan penangkapan massa pascaaksi yang diselenggarakan di Gedung Akuarium Universitas Islam Bandung (Unisba), Jl. Tamansari No.1 Kota Bandung, pada Sabtu, (18/4). (Foto: Siti Nur Halizah/Job).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Sekitar seratus peserta dari mahasiswa berbagai kampus menghadiri diskusi bertajuk, “Merawat Ingatan & Lawan Balik” di Universitas Islam Bandung (Unisba), pada Sabtu (18/4). Kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk refleksi atas penyerangan aparat ke kampus serta penangkapan massa pascaaksi dalam sejumlah demonstrasi termasuk May Day, Agustus-September, dan Rancangan Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI).
Farhan Alfarizy, bagian penyelenggara Kelas Liar Bandung Bergerak menyebut kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Media Bandung Bergerak dengan sejumlah organisasi mahasiswa. Di antaranya Pers Suara Mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Syariah dan BEM Fakultas Dakwah Unisba
Adapun, Farhan menuturkan kegiatan tersebut bertujuan agar masyarakat tidak melupakan peristiwa yang terjadi tahun lalu. “Tujuan awal adalah merefleksikan dan bagaimana kita tidak melupakan karena pascaaksi kemarin ada 48 orang yang ditahan, Unisba dan Unpas (Universitas Pasundan, Red) represif oleh kepolisian dan TNI,” tuturnya pada Sabtu, (19/4).
Kegiatan ini diisi dengan berbagai rangkaian acara, mulai dari penampilan musik akustik oleh mantan tahanan politik hingga diskusi terkait peristiwa pascaaksi. Diskusi tersebut menghadirkan Deti Sopandi dari Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI), serta Dosen Fakultas Hukum Unisba, Syahrul Fauzul.
Salah satu peserta, Ferry Anwar dari Fakultas Syariah ungkap kegiatan tersebut merupakan bentuk merawat ingatan atas peristiwa pascaaksi Agustus lalu. Menurutnya, peristiwa tersebut berdampak pada meredanya gelombang aksi di Kota Bandung hingga saat ini.
Ferry menambahkan, minimnya aksi lanjutan pasca peristiwa Agustus lalu disebabkan trauma akibat intimidasi aparat yang membuat gerakan mahasiswa belum aktif kembali. “Gerakan-gerakan dari akar rumput itu belum terbuka kembali. Mungkin, ada rasa-rasa trauma trigger dari intimidasi-intimidasi aparat, entah polisi atau TNI di Agustus kemarin,” tuturnya pada Sabtu, (19/4).
Sementara itu, peserta lainnya, Sachika, mahasiswa Ilmu Komunikasi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), mengatakan kegiatan tersebut memberinya wawasan baru terkait isu yang sebelumnya ia ketahui dari media. Ia berharap, kampus dapat mendorong mahasiswa lebih kritis dan tidak apatis terhadap isu di lingkungan sekitar.
Ferry berharap kegiatan tersebut dapat mendorong masyarakat untuk kembali bersuara dan memperjuangkan hak. Sementara itu, Farhan mengharapkan kegiatan refleksi tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan tidak berhenti pada kegiatan ini saja.
“Semoga kegiatan tidak berhenti di sini, banyak refleksi kegiatan yang sudah terjadi di tahun kemarin, nggak hanya merefleksikan yang terjadi di masa lampau karena melihat pasca penyerangan Unisba, tidak ada lagi aksi yang besar. Mungkin kedepannya nggak hanya penyerangan, penangkapan dalam kampus pun bisa saja dilakukan oleh negara.” Tutup Farhan.
Reporter: Fajar Al-Fariji/Job
Penulis: Siti Nur Halizah/Job
Editor: Muhammad Chaidar Syaddad/SM
