Ilustrasi Gapura Unisba Olympic dengan seseorang mengangkat piala penuh kebanggaan. (Ilustrasi: Linda Puji Yanti/SM).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Bandung (Unisba) menggelar Unisba Olympic 2025 sejak Minggu, (29/6). Gelaran tersebut mengalami keluhan dari peserta terkait transparansi keuangan hingga sedikitnya partisipan.
Ryan Andika, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) BEMU menjelaskan bahwa perubahan nama Unisba Olympic dari yang sebelumnya Pekan Olahraga Mahasiswa (POM) dikarenakan adanya penambahan cabang lomba akademik. “Kan tahun kemarin cuma ada perlombaan fisik aja ya, terus e-sport. Nah, kalo sekarang itu ada lomba akademiknya kayak essay,” ujarnya saat diwawancarai pada Kamis, (17/7).
Koordinator Acara Unisba Olympic, Guntur Ramadhan ikut menambahkan bahwa diadakan lomba esai tersebut merupakan rekomendasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) BEMU. Sebelumnya, sosialisasi terkait perubahan nama telah dilakukan oleh BEMU melalui rapat pimpinan dengan setiap BEM Fakultas.
Meskipun semangat pembaharuan diusung, pelaksanaan Unisba Olympic tidak luput dari kendala. Ryan Andika menyimpulkan, kurangnya peserta menjadi kendala utama karena bertepatan dengan masa libur perkuliahan.
Akibatnya, cabang olahraga basket terpaksa dibatalkan karena minimnya peserta. Tidak hanya itu, perlombaan essay yang dijadwalkan pada tanggal (28/6) harus diundur hingga hari Sabtu, (26/7) karena kurangnya pendaftar.
“Esai kalau ga salah tuh, baru ada 4 orang, mungkin nanti Kemendikbud BEMU akan follow up lagi, karena terakhir pendaftaran tuh di tanggal 24 (24 Juli-Red) masih pembukaan pendaftaran,” ungkap Guntur pada Sabtu, (19/7).
Selain itu, pertandingan futsal yang semula dijadwalkan pada tanggal 5-6 Juli harus diundur menjadi 7-8 Juli. Perubahan ini terjadi karena adanya pembatalan lapangan futsal sepihak oleh pihak pengelola sehingga panitia pelaksana harus segera mencari lokasi pengganti.
Chesta Ziennel Adabi, peserta cabang futsal ungkap rasa kecewanya terkait biaya pendaftaran. Menurutnya, dengan biaya pendaftaran Rp450.000 per tim tidak sebanding dengan fasilitas yang didapatkan selama perlombaan.
“Yang pertama, minta es kemarin karena memang agak sakit, ada nyeri di bagian kaki, tapi katanya belum beli. Oke, terus aku minta lagi kan, minta spray, katanya gak ada. Terus aku lihat tuh, tandu juga kayaknya gak ada,” tutur Chesta saat di wawancarai pada Jumat, (18/7).
Chesta juga menilai, jika persiapan yang dilakukan panitia belum matang. Terlihat dari pelaksanaan technical meeting yang dilakukan sebanyak dua kali karena informasi terkait perlombaan yang belum jelas.
Sejalan dengan Chesta, Aimar Danindra Sitorus, peserta cabang EA Sport FC 25 juga menyatakan biaya pendaftaran sebesar Rp50.000 tidak sebanding dengan durasi permainan. Ia juga menyoroti kurangnya fasilitas kursi bagi penonton dan peserta yang belum bertanding sehingga harus berdiri sepanjang permainan.
“Menurut saya sih belum ya (Kinerja panitia-Red). Soalnya kebanyakan panitia numpuk disatu titik gitu nggak kebagi-bagi, jadi rame semua panitianya di venue,” ujar Aimar pada Jumat, (18/7).
Menanggapi hal tersebut, Guntur mengakui kenaikan biaya tersebut disebabkan untuk peningkatan kualitas pelayanan dan konsep acara. “Ada upgrade dari pelayanan, terus konsep lebih diperhatikan lagi mengenai itu,” ucapnya.
Guntur menjelaskan bahwa pengelolaan dana masih dalam tahap perhitungan dengan bendahara, sehingga Ia belum memiliki gambaran jelas mengenai pengeluaran. Akan tetapi, mayoritas sumber dana tersebut berasal dari biaya pendaftaran dan pihak kemahasiswaan, bukan dari sponsor.
Sementara itu, Ryan berjanji akan adanya transparansi dana yang akan ditempel di mading Sekretariat BEMU. “Kalau dana, nanti kita akan ada transparansi dana ya, nanti kita akan tempel di dekat sekre BEMU di mading.” Ucapnya.
Ryan berharap, mahasiswa dapat menggali potensi di bidang olahraga maupun akademik melalui Unisba Olympic. Guntur juga berharap, Unisba Olympic di tahun berikutnya dapat lebih baik dan meriah. Ia optimis karena tahun ini sudah memberikan “warna baru” dari acara POM sebelumnya.
Di sisi lain, Chesta berharap adanya peningkatan kualitas pelayanan dalam setiap aspek penyelenggaraan acara. “Kalau menurut aku mah, paling lebih dipelajari dulu aja sih perihal teknis perlombaan, alat-alat yang perlu dibutuhinnya apa aja gitu buat panitia biar sama-sama enak ke pesertanya juga,” pungkasnya.
Reporter: Violetta Kahyang Lestari Fauzi/SM & Wiam Fadlul Rahman/SM
Penulis: Siska Vania/SM
Editor: Adelia Nanda Maulana/SM
