Indonesia Tanpa Stigma, Sport Festival 2013 Siap Digelar

Suaramahasiswa.info, Bandung – Rumah Cemara siap menggelar Sports Festival 2013, Minggu (22/12) di Plasa Balai Kota Bandung. Melalui Konfrensi Pers yang digelar di Sixty Meeting Point & Café Jln. Naripan No. 30 Bandung, Selasa (17/12), Rumah Cemara memaparkan detil kegiatan Sport Festival. Konpres tersebut juga menghadirkan beberapa pembicara yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan, diantaranya moderator Tri Irwanda dari Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Jawa Barat, Adit Tarlim perwakilan Rumah Cemara, Ari Maria dari Indorunners, Betty dari Srikandi Pasundan, dan Rainy dari perkumpulan Orang Tua dan Anak Down Syndrome (POTADS).

Festival Olahraga yang perdana diselenggarakan di Indonesia ini merupakan peringatan hari AIDS sedunia. Akan diikuti pula oleh orang-orang yang sering termarjinalkan, seperti penderita HIV/AIDS ODHA, pecandu narkoba, para waria, gay, penderita down syndrome serta masyarakat umum. Tujuam dari festival inipun guna  mewujudkan visi misi rumah cemara, yaitu Indonesia tanpa stigma.

Dua kategori olahraga yang diperlombakan, yaitu lomba lari dan street soccer, tergolong unik, karena sistem pemenang akan ditentukan lewat penilaian, bagaimana ia berselebrasi dan jiwa solidaritas yang tinggi. “Kita gunakan ketentuan itu, karena Pemenang bukan segalanya, kita juga membuka festival ini untuk masyarakat, agar ia bisa merasakan bagaimana bermain dengan para orang-orang dengan stigma, mari berolahraga dengan saya,” ungkap Adit Tarlim selaku Grant Manager Rumah Cemara. Selain dua kategori olahraga yang diperlombakan, akan diadakan juga coaching clinic tinju dan rubgy.

Rainy dari (POTADS), menanggapi festival olahraga ini dengan positif. Kehidupan yang penuh dengan perbedaan bukan berarti menjadikan orang-orang memilih dan membedakan lewat stigma kepada orang-orang yang sering termarjinalkan. “Merasa gembira sekali dengan festival ini, memadukan mereka-mereka yang berbeda, mereka berbeda tapi bukan untuk dibedakan. Buktinya anak saya penderita down syndrome, tapi ia bisa bermain musik dan ingin ikut bermain bola,” ungkapnya dalam perbincangan konpers.

Mengusung olahraga perubahan dinilai juga sebagai pengenalan kepada publik tentang harapan-harapan perubahan tanpa stigma. Sampai saat ini, perubahan tanpa stigma pun sudah terlihat, buktinya dengan meningkatnya followers twitter rumah cemara. Hal itu dinilai rumah cemara merupakan jalan mudah guna mengajak mereka untuk bergabung lewat visi misi kami yang mereka sodorkan “Secara besar beberapa hal yang kami amati yaitu dengan meningkatnya suport masyarakat umum lewat followers di twitter, sehingga jauh lebih mudah mengajak mereka bergabung lewat visi dan misi kami,” ungkap Adit Taslim. (Adil Nursalam/SM)