Suara Mahasiswa

Nakal, Tajam, Menggelitik

Alternatif Artikel Film Review

The Midnight Sky, Kisah Ilmuwan yang Terjebak di Kutub Utara

Foto: Netflix.com

Suaramahasiswa.info – George clooney kembali menjadi produser, sutradara, dan aktor lewat film terbaru yang berjudul The Midnight Sky. Film ini diproduksi Smokehouse Pictures dan Anonymous Content yang rilis di layanan streaming Netflix pada pertengahan Desember lalu. The Midnight Sky merupakan film adaptasi dari sebuah  novel Good Morning, Midnight karya penulis asal Amerika Serikat, Lily Brooks-Dalton. Novel itu pertama kali rilis pada tahun 2016 silam.

Film ini bercerita tentang seorang ilmuwan yang bernama Augustine yang berada di bumi pada tahun 2049. Melihat kondisi bumi pada saat itu, Augustine berusaha untuk menghubungi para awak pesawat luar angkasa agar tidak kembali dan tetap tinggal di planet yang mungkin telah mereka temui. Meski begitu, menghubungi para awak pesawat luar angkasa adalah hal yang tidak mudah. karena kondisi tempat tinggal Augustine dan bumi itu sendiri yang berada dalam situasi yang sangat sulit.

Dalam film ini mempunyai dua layer utama diantarannya layer pertama yaitu tentang karakter Augustine dan  layer yang kedua yaitu diambil dari sudut pandang para awak pesawat luar angkasa yang sedang dalam perjalanan kembali ke bumi. Sebenarnya film ini cukup sederhana karena jika dilihat hanya tentang orang yang ingin menyampaikan pesan tentang bumi. karakter Augustine ini terbilang irit dialog, karena jarang sekali berbicara. selain irit dialog juga, bagian ini hanya sedikit  pemain. karena hanya ada dua karakter yang bermain dan berinteraksi yaitu Augustine dengan seorang anak kecil yang bernama Iris. pada bagian Augustine juga terdapat beberapa scene masa lalu Augustine.

Memasuki pertengahan film masing-masing dari layer ini mulai memperlihatkan tentang kesulitan dan tantangan yang dihadapi oleh para pemain di dua medan yang berbeda. Jadi beres masalah yang di bumm, kemudian muncul masalah pada pesawat luar angkasa. Scene yang ditampilkan juga berhasil membuat penonton merasa greget, apalagi dengan akting dari para karakter tersebut. selain tantangan yang semakin rumit, chemistry antar karakter juga mulai berkembang. diantaranya adalah chemistry Augustine dan Iris di bumi dan chemistry para karakter yang berada di pesawat luar angkasa.

Film ini lebih bersifat personal dan sempit. karena lebih berfokus kepada masalah pribadi yang dihadapi oleh beberapa karakter di bandingkan tentang bencana di bumi yang dihadapi para karakter dan juga harus menghadapi masalah tersebut. hal ini karena tak lepas dari pengaruh isi cerita novelnya, Good Morning, Midnight karangan Lily-Brooks Dalton. karena di dalam novel memang diceritakan bagaimana film berpusat pada suatu hubungan.

Lambat dan membosankan, namun setidaknya ada hal yang bisa kita ambil dari The Midnight Sky. Hal tersebut yaitu untuk selalu percaya akan kebaikan yang kita lakukan. Meski dunia ini kejam, bengis, dan segala macam, percaya lah untuk selalu menebar benih kebaikan seperti Augustine yang terus berusaha memberi tahu awak pesawat luar angkasa. padahal dirinya sudah tua dan cukup lemah, apalagi ia tinggal di kutub utara.

Musik yang ada di dalam film tersebut bisa menangkap efek atmosferik dan juga emosional dari setiap karakternya. Kalau didengar-dengar memang musik semacam ini jika sudah selesai menonton, pasti masih terngiang-ngiang di kepala. untuk tampilan pesawat luar angkasanya juga seperti yang diharapkan. mulai dari space shuttlenya yang besar, lorong-lorong zero gravity, hingga ada juga pojok hologram yang didesain khusus oleh para astronot dan sesuai dengan best moment mereka saat di bumi. 

Musik yang ada di The Midnight Sky bisa menangkap efek atmosferik dan juga emosional dari karakternya. Kalau didengar-dengar memang musik-musik semacam ini spesialisasinya Desplat, sih. Jadi pantas saja jika selesai menonton, musiknya masih terngiang-ngiang di kepala.

Akhir dari film ini lumayan canggung, walaupun memberikan sebuah informasi. Walaupun begitu, secara teknis, film ini sangat mengesankan, karena efek visual yang tajam dan dengan desain produksi yang membantu membenamkan penonton ke dua dunia, yang pertama di kutub utara Bumi, dan yang kedua di ruang angkasa. selain itu, film ini sangat bagus dalam menggambarkan rasa kesepian yang diperlihatkan oleh para pemainnya, akibat dari resiko pekerjaan yang harus mereka tanggung.

Penulis: Efiana Salfini

Editor: Raihan Rachmansyah

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *