Suara Mahasiswa

Nakal, Tajam, Menggelitik

Alternatif Artikel

Punk: Ideologi, Musik, dan Sentimen Berpakaian

Ilustrasi punk. (Fahriza Wiratama)

Suaramahasiswa.Info – Di tengah kondisi perekonomian Inggris yang tidak merata, sarat dengan problematika sosial dan membutuhkan solusi terhadapnya membuat segerombolan anak-anak yang berlatar belakang keluarga kelas pekerja Inggris, memberikan jawabannya dengan penampilan yang garang, urakan, dan bebas merdeka. Mereka menyebut dirinya sebagai Punk. Lahir pada akhir tahun 1970-an dengan dominasi anak-anak kelas pekerja membuat punk memiliki citra yang keras, miskin dan terkesan bodo amat. Gerakan ini juga merupakan bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah Inggris kala itu.

Dalam pergerakannya mereka gencar menyuarakan perlawanan dengan style yang urakan dan tak enak dipandang. Dengan musik-musik mereka yang bising ditambah lirik yang berdasarkan realita membuat punk hadir ke dalam ideologi sebagai respon terhadap pentingnya kebebasan atau kemerdekaan terhadap individu.

Tampilan yang Urakan

Rambut mohawk, celana ketat dengan sedikit balutan budaya tartar, sepatu boots dan berbagai aksesoris lainnya merupakan simbol perlawanan yang digaungkan kaum punk. Rambut mohawk selalu diartikan dengan anti-penindasan sekaligus kebebasan. Gaya rambut ini adalah sebuah wujud eksistensi punk yang radikal, karena pola hidup punk yang berbeda dengan tatanan kehidupan masyarakat yang selalu seragam akibat ulah kapitalisme. 

Arie Gaums, seorang punk yang aktif di pergerakan musik Saparua 95 mengutarakan, rambut mohawk yang menjadi identitas seorang punk itu adalah bentuk protes terhadap orang kulit putih Amerika yang bertindak rasis terhadap suku Indian. Namun ada juga yang menyocokkan arti rambut dengan tegaknya hati dan pikiran seperti kata yang sudah umum di kalangan punk Britania. Menurut postingan Arti Punk “Kalau rambut bisa berdiri tegak kenapa hati dan pikiran mau diperintah untuk ditindas”.

Model celana ketat yang selalu melekat pada kaki seorang punk juga menyimbolkan himpitan hidup, tekanan sosial, dan apapun yang berbau penindasan. Karena itulah kaum punk merobek celana bagian lutut sebagai bentuk atau simbol kebebasan gerak dan ide. Mereka menggunakan sepatu boots dengan alasan yang lebih ekonomis, karena awet dan tahan lama.

Kultur Punk

Menurut Arie Gaums kultur punk yang tumbuh dan berkembang pada jamannya terbagi menjadi tiga bagian yaitu punk intelektual, punk budug, dan punk style. Punk intelektual adalah punk yang kritis terhadap keadaan sosial, isu-isu yang diambil nya selalu menyoal ketidakpuasan individu terhadap keadilan sosial. Lalu punk budug adalah seorang punk yang ngagembel tak jelas arah dan tujuan. Serta punk style yang hanya memakai brand dan identitas punk untuk sebatas mode berpakaian semata, mereka disebut posser yang berarti hanya memakai apa yang tidak mereka mengerti maknanya.

Segmentasi punk hadir ke dalam berbagai macam bidang garapan, bukan hanya fashion dan ideologi, punk berhasil masuk kedalam musik, gaya hidup, bahkan budaya. Kehadiran punk di tengah kultur masyarakat cukup memberikan pengaruh yang begitu kentara dari sejak kemunculannya hingga saat ini. Perjuangan-perjuangan buruh dan mahasiswa seringkali diisi oleh lagu-lagu band punk seperti Marjinal, Superman Is Dead dan masih banyak lagi.  Gaya hidup yang serba cuek dan percaya diri juga disinyalir karena dampak daripada kultur punk yang berkembang menjadi sub-kultur dari punk itu sendiri.

Musik Punk

Punk dan musik adalah entitas yang tidak dapat dipisahkan. Dikutip dari CNN Indonesia, musik seperti yang dikatakan Bobby Marjinal selalu menjadi senjata bagi kaum punk untuk menyuarakan semangat perlawanan kelas dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Dampak yang terlihat begitu jelas datang kepada dunia musik punk, dengan pengaruhnya yang luas, musik punk dapat memberikan warna tersendiri bagi kehidupan sosial. Kaum punk menjadikan musik sebagai sarana untuk menyuarakan pendapatnya dengan memberikan penggambaran yang jelas terhadap kondisi sosial masyarakat yang terdampak kasus, seperti kasus keluarga, sosial, ekonomi, hukum, agama dan ketidakadilan lainnya.

Memang kebanyakan lagu-lagu punk membicarakan noda-noda hitam dan dosa jariyah penegak hukum sebagai pengatur kebijakan negara, terhadap masyarakat kelas menengah ke bawah. Tak jarang membuat pihak yang bersangkutan gerah dengan kelakuan kaum punk dan selalu mengasumsikannya dengan hal yang berbau negatif. Zhilan Zalila, mahasiswa Fikom 2018 berpendapat bahwa musik punk sangat berpengaruh besar terhadap kondisi sosial. “Karena musik punk itu bukan hanya melulu soal keresahan seorang, bisa juga menyatakan keresahan sosial yang terjadi. Punk juga menyadarkan saya bahwa dunia itu tidak baik baik saja” Ujar mahasiswa yang juga akrab sisapa Kojjol.

Banyak orang menjadikan punk sebagai a way of life nya, bukan hanya dari kalangan menengah kebawah yang terhimpit masalah ekonomi dan ketidakadilan. Adapun sebagian orang dari latar belakang keluarga dan ekonomi yang cukup juga menjadikan punk sebagai pilihan hidupnya. Karena punk telah mewadahi jiwa seseorang yang rindu akan kebebasan yang bermuara dari tindak-tanduk nya sendiri. Punk selalu identik dengan ketidak-terikatannya dengan aturan atau menjauhi segala aturan yang dirasa mengganggu kehendak pribadi. Karena itulah cap Anarkis selalu melekat pada kaum punk.

Bukan tanpa alasan kenapa punk tidak ingin berurusan dengan aturan, bagi seorang Punk kehendak adalah segalanya, segala yang bertentangan dengan hati nuraninya dianggap problem bagi kebebasannya. Punk merupakan produk humanis yang selalu di salah artikan karena penampilan nya yang berbeda. Jika mahasiswa yang turun ke jalanan menyerukan keadilan, kaum punk berekspresi dan berjuang menyejahterakan rakyat dan memerdekakan dirinya lewat teriakan lirik-lirik lagu untuk memperjuangkan apa yang seharusnya kaum punk perjuangkan.

Penulis : Muhammad Irfan Hardiyansyah/Job

Editor : Eriza Reziana

1 COMMENTS

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *