Paling Kiri Hingga Si Caper di Tengah Demonstran

Ilustrasi Demonstrasi. (Fahriza Wiratama/SM)

Suaramahasiswa.info, Unisba – Polemik pengesahan undang – undang (UU) Cipta Kerja (Ciptaker) Omnibus Law oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), memicu mahasiswa dan buruh untuk kembali merayakan pesta demokrasi. Aksi yang dimulai sejak Selasa hingga Kamis (6-8/10) dihadiri berbagai kalangan, mulai dari yang paling kiri hingga yang paling edgy.

Mereka berorasi dengan lantang menyampaikan keresahan, kesedihan dan amarah yang bergumul di dalam dada tepat di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dengan intonasi yang berapi-api, orasi sering kali membakar semangat massa aksi.

Tidak hanya orasi, saat aksi berlangsung mereka mengusung beberapa papan atau kertas yang bertuliskan kalimat – kalimat sindiran yang bernafaskan kritik. Namun saat demo serentak pada Kamis (8/10), ada beberapa tulisan nyentrik yang justru membuat masyarakat salah fokus, sebab tampak tidak relevan dengan tujuan demonstrasi.

Melansir dari TirbunKaltim.com, poster dengan tulisan “Demi rakyat, aku rela skincareku ambyar” menjadi sorotan aksi demonstrasi di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim). Belum lagi poster bertulisan “PAP T*T* DONG” yang dibawa oleh seorang massa aksi, poster kemudian diunggah oleh  @cakrajingga_ di instagramnya.

Pemilik akun sangat menyayangkan hal tersebut, menurutnya isi poster membuat demo menjadi tidak terfokus pada tuntutan. Pada unggahan tersebut banyak warganet yang juga gatal mengomentari, mulai dari komentar dengan nada kecewa hingga marah pun membanjiri kolom komentar. “Please jangan bodoh demi konten,” ujar @cakrajingga_ melalui captionnya.

Berbeda dengan aksi di Makassar, lima mahasiswi Universitas Negeri Makassar (UNM) yang ikut serta dalam demonstrasi penolakan undang-undang (UU) cipta kerja (Ciptaker), memilih menari di tengah panasnya suasana demo. Menurut mereka, menari ala – ala konten tiktok dengan menggunakan jas almamaternya, merupakan bentuk ekspresi kekecewaan terhadap situasi yang sedang terjadi.

Walaupun demikian, berjoget ala – ala tiktok tersebut berbeda seperti tarian yang ditampilkan oleh mahasiswa Papua di depan istana negara pada tahun 2019 silam, atau massa aksi di Amerika Serikat yang menari bersama sembari membawa spanduk berisikan protes terhadap isu black lives matter. Mereka jelas menunjukkan rasa kecewa terhadap tindakan diskriminasi yang terjadi saat itu.

Tidak hanya menari dan poster nyentrik, sepasang mahasiswa yang sedang bermadu kasih di tengah kerumunan massa aksi pun menjadi cerita lain. Video yang tersebar di salah satu platform sosial media, menampilkan seorang mahasiswa membuka lebar jas almamaternya untuk melindungi mahasiswi yang berdiri di sampingnya dari tetesan air hujan.  “ Inilah bukti kalau mereka tidak paham akan apa yang di demo,”  tulis seorang warganet di kolom komentar.

Aktivitas saling menjaga dalam demonstrasi memang harus dilakukan demi keamanan agar barisan tidak mudah disusupi oleh provokator. Sehingga setiap peserta seharusnya tetap berada dalam barisan, tidak memisahkan diri untuk menikmati hari berdua saja.

Begitulah beberapa aksi nyentrik saat demonstrasi Undang – Undang (UU) Cipta kerja (Ciptaker) berlangsung. Ada warna baru yang mengisi demonstrasi di era informasi yang serba cepat ini, membuat aksi terasa cukup berbeda. 

Seorang dosen hukum tata negara dan administrasi negara Universitas Islam Bandung (Unisba), Abdul Rohman memperhatikan jika perubahan kultur zaman memang berperan dalam praktik demokrasi saat ini. Namun demikian, demonstrasi telah diatur dalam hukum beserta tata caranya. Oleh karena itu ketika memutuskan akan berdemonstrasi sebaiknya massa aksi sudah siap dengan argumen yang kuat dan dapat dipertanggung jawabkan.

Jika berkaca dari demonstrasi yang terjadi pada tahun 1998, mereka lebih sering duduk bersama menyatukan pandangan terhadap isu yang akan disuarakan. Hal itu kemudian menjadi kekuatan besar pergerakan yang berhasil meruntuhkan rezim orde baru. Seluruh mahasiswa dari berbagai elemen turun tidak hanya sekedar memekik “Merdeka!” namun tahu pasti akan setiap langkah yang mereka ambil hanya satu, reformasi.

Pada dasarnya, aksi demonstrasi merupakan momentum yang pas untuk penyampaian aspirasi atau gagasan yang relevan terhadap suatu masalah. Sadar akan urgensi pergerakan, dari gejayan menuju senayan membuahkan hasil dan bukan sekedar cerita antara aku dan kamu saja. Peristiwa berdarah yang terjadi saat itu harus membuat rasa perjuangan semakin membara hingga merdeka tidak menjadi sekedar pekikan.

Penulis: Shafanissa Alifia Shafira

Editor: Sophia Latamaniskha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *