Kisah Pedagang di Tengah Aksi Tolak UU Cipta Kerja

Seorang pedagang baso tahu siomay sedang berjualan di tengah keramaian aksi tolak UU Cipta Kerja di depan Gedung DPRD Jawa Barat, pada Selasa (6/10/2020). (Foto: Ifsani Ehsan Fahrezi/SM)

Suaramahasiswa.info, Unisba – Rasanya demokrasi memang paling nikmat jika dirayakan bersama di jalan, ditambah lagi teriakan aspirasi yang menggaung ke seluruh sudut kota dengan kepalan tangan yang melayang di udara. Sungguh, setiap detik berada di tengah kerumunan masa dapat menggelitik adrenalin dalam melawan ketidakadilan.

Siang itu, di tengah hiruk pikuk keramaian serikat buruh dan mahasiswa yang tengah menggaungkan penolakan terhadap Undang-Undang (UU) Cipta Kerja di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandung, pada Selasa (6/10), mata saya terfokus pada para pedagang yang tidak henti melayani pembeli nya.

Dari sudut kiri lokasi demonstrasi terlihat masih banyak pedagang yang nangkring tanpa peduli teriakan massa, dari pedagang asongan hingga pedagang makanan, semua bertahan tanpa terlihat khawatir akan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa menimpa dagangan mereka kapan saja. Gas air mata, petasan, dan water cannon pun rasanya sudah tidak memiliki harga diri lagi.

Penasaran akan alasan mereka berdagang, saya memutuskan untuk menghampiri beberapa pedagang yang ada disana. Namanya Ian, penjual cilok ini beralasan berjualan di sekitar lokasi demonstrasi dalam rangka mencari keuntungan saja. Sebab ia merasa mendapatkan keuntungan lebih saat berjualan di tengah demonstrasi mahasiswa berlangsung. “Saya disini dari jam 9 pagi, ya saat ada demo gini memang lumayan lah ada keuntungan lebih,” tutur Ian saat diwawancarai pada Selasa (6/10).

Setelah menghampiri Ian, perhatian saya beralih pada pedagang es goyobod yang rasanya akan menyegarkan dahaga. Ketika berbincang, penjual es goyobod itu justru mengalami penurunan omzet ketika berjualan di tengah demonstrasi. Menurutnya, massa aksi demo hanya fokus pada kegiatan serta tidak melirik dagangan nya, sehingga dagangan nya tidak habis secepat hari-hari biasa.

Ah saya jualan di sini hanya kebetulan aja lagi demo, biasanya memang suka lewat sini. Lagian orang-orang juga pada fokus ke demo,” ujar pedagang yang akrab disapa Apan.

Para pedagang sadar akan risiko-risiko berdagang ditengah massa aksi. Kerusuhan mungkin saja terjadi, tapi mereka tidak mungkin berhenti berjualan sebab kegiatan tersebut merupakan satu-satunya sumber penghasilan.

Adapun demikan, ketika saya berada dekat dengan para pedagang, suasana demonstrasi seolah berubah menjadi biasa saja. Di belakang saya banyak orang berdiri seolah menonton suatu pertunjukan di depan gedung DPRD sembari menikmati jajanannya, hal itu membuat perasaan mencekam dan jantung yang berdebar sedikit mereda. Satu hal yang saya catat, bahwa urusan perut memang tidak bisa dihindari dalam situasi apapun.

Reporter: Sophia Latamaniskha

Penulis: Sophia Latamaniskha

Editor: Tazkiya Fadhiilah Khoirunnisa

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *