Suara Mahasiswa

Nakal, Tajam, Menggelitik

Alternatif Artikel

Intip Ragam Tradisi Dalam Menyambut Malam Lailatul Qadar di Indonesia

Ilustrasi seorang sedang berdoa di malam lailatul qadar. (Ifsani Ehsan/SM)

Suaramahasiswa.info – Pada bulan ramadhan, terdapat malam kemuliaan di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Pada malam itu awal Rasulullah Saw memulai beri’tikaf. I’tikaf berarti berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan suci Ramadhan, mengharapkan datangnya Lailatul Qadr di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

Di Indonesia sendiri banyak sekali tradisi dalam menyambut bulan suci ramadhan. Setiap daerah memiliki ciri khas masing – masing.  Begitupun dalam menyambut malam lailatul qadar, malam lailatul qadar adalah malam yang mulia. Malam lailatul qadar juga disebut sebagai malam seribu bulan, hal itu karena nilai ibadah dan kebaikan yang ada pada malam tersebut setara dengan seribu bulan lamanya. Inilah momen yang dinanti umat Islam saat berpuasa.

Beberapa daerah di Indonesia memiliki cara yang unik dalam menyambut bulan suci penuh berkah ini. Mulai dari malam selikuran hingga selo buto. Simak yuk!

Malam Selikuran, (Solo, Surakarta)   

Malam Selikuran adalah tradisi yang dilakukan dengan mengarak tumpeng dengan diiringi lampu ting atau pelita. Biasanya tradisi ini dilakukan pada malam ke–21 bulan ramadhan, karena malam lailatul qadar dipercaya ada di malam–malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan.

Dilansir oleh kompas.com, tradisi malam Selikuran sudah ada sejak Pakubuwana X menjadi raja Surakarta. Selain kegiatan mengarak tumpeng sembari diiringi lampu pelita, tradisi ini juga melakukan kegiatan do’a bersama di Masjid Agung, dan membawa tumpeng–tumpeng itu ke masjid untuk dinikmati bersama–sama.

Tumpeng yang disajikan pun memiliki arti dan nama yang unik. Tumpeng sewu namanya, artinya seribu tumpeng. Tumpeng seribu itu melambangkan jika malam yang sedang mereka rayakan adalah malam seribu bulan. Tujuan dari adanya tradisi ini adalah do’a bersama dan mengharap akan pahalanya dalam menyambut malam lailatul qadar.

Nujuh Likur, Bengkulu.

Malam Nujuh likur ini sebenarnya hampir sama dengan tradisi malam selikuran yang berada di Solo dan Surakarta. Karena kegiatannya menyalakan penerangan di setiap sudut desa. Bedanya, tradisi ini dilakukan dengan cara keliling dari satu rumah ke rumah yang lain untuk menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh tuan rumah dan diakhiri dengan berdo’a bersama. Tujuannya agar seorang tuan rumah yang berbagi rezeki mendapat limpahan pahala dan rezeki.

Dilansir dari diskominfotik-cetakberita, malam nujuh likur artinya malam ke-27. Tradisi 7 likur sebenarnya merupakan tradisi yang dilakukan sejak masa lalu secara turun-temurun oleh masyarakat Melayu dengan melakukan penyalaan lampu atau penerangan tradisional yang ditempatkan disekitar masjid, diberbagai penjuru jalan, halaman rumah dan teras-teras rumah penduduk.

Jika tradisi malam selikuran identik dengan lampu pelita sebagai ciri khas dalam pencahayaan disetiap sudut desa, tradisi malam nujuh likur menggunakan obor sebagai ciri khas pencahayaan yang turut wajib dalam memeriahkan tradisi ini.

Dile Jojor, Lombok Barat (NTB)

Tradisi dile jojor juga hampir mirip dengan tradisi nujuh likur, dan malam selikuran. Tradisi yang kegiatannya melakukan penerangan disetiap sudut desa menggunakan obor, bahkan makam pun menjadi tempat pencahayaan dari bagian tradisi ini. Berharap dusun desa yang tadinya gelap, menjadi terang karena adanya obor yang di simpan di berbagai sudut tempat.

Jika tradisi malam selikuran di rayakan setiap malam ke-21 ramadhan, dan nujuh likur dirayakan setiap malam ke–27 ramdhan, maka tradisi dile jojor ini pelaksanaannya dilaksanakan disetiap malam ganjil pada 10 hari terakhir ramadhan. Tradisi maleman dengan menyalakan dile jojor, telah dilakukan warga Dusun Tenges-enges sejak jaman dulu. Tradisi ini bertujuan agar warga tetap terjaga dan beribadah untuk menyambut malam Lailatul Qadar.

Sama seperti halnya tradisi malam selikuran, dan nujuh likur. Tradisi dile jojor juga terdapat proses makan bersama di masjid dengan masyarakat setempat. Biasanya acara makan–makan bersama ini dilakukan setelah sholat maghrib sebelum sholat tarawih, atau bisa dikatakan buka bersama.

Malam Ketupat, Betawi

Masyarakat Betawi memiliki cara unik dalam menyambut malam lailatul qadar. Masyarakat Betawi sering menyebut tradisi ini sebagai malam ketupat. Karena setiap penyambutan malam lailatul qadar, masyarakat Betawi selalu menghidangkan makanan yang akan dimakan secara bersama–bersama dengan sanak saudara maupun tetangga.

Tujuannya selain menyambut malam lailatul qadar dan pahalanya, makan bersama ini dilakukan untuk mempererat tali silatuhrahmi. Makanan utama dari tradisi ini adalah ketupat dan kue abug. Kue abug itu terbuat dari tepung beras ketan yang isinya terdapat gula merah dan kelapa, serta dibungkus menggunakan daun pisang yang dibentuk menjadi segitiga.

Selo Buto, Tidore (Maluku Utara)

Sama seperti beberapa daerah diatas yang sudag disebutkan, Tidore juga memiliki tradisi sendiri dalam menyambut malam lailatul qadar. Nama tradisinya adalah Selo Buto. Prosesi tradisi Selo Buto diawali dengan menancapkan sejumlah tiang kayu setinggi dua meter di pekarangan rumah warga membentuk lingkaran dengan diameter sekitar lima meter, yang menjadi tempat mengikat batang enau, pisang, jagung dan tebu.

Pohon enau, pisang, jagung dan tebu yang diikatan di setiap tiangnya harus dengan daunnya dan khusus untuk buah pisang dan jagung harus memiliki buah yang matang, dan semuanya merupakan hasil dari panen masyarakat setempat.

Proses selanjutnya dari tradisi Selo Buto, yaitu sejumlah pria menabuh tifa atau gendang rebana dan kemudian belasan pria masuk ke lingkaran sambil menari cakalele, beberapa pria di antaranya memegang salawaku atau perisai dan parang.

Tarian cakalele dilakukan selama sekitar 30 menit, kemudian pria yang memegang parang menebas semua batang tanaman yang diikat di tiang kayu dan pada saat itulah terjadi hiruk, pikuk karena warga yang sejak awal menonton berebut mengambil buah pisang, jagung dan tebu.

Tradisi ini memicu semangat masyarakat dalam menyambut malam lailatul qadar. Tradisi ini juga memberikan nilai moral dalam bersedekah. Dengan membagikan makanan seperti pisang, jagung, tebu yang sudah di parang, dan masyarakat bebas mengambil makanan itu dengan cuma–cuma. Tentu pembagian makanan itu sesuai takaran yang ada, agar masyarakat yang menghadiri bisa mendapatkan bagiannya. 

Begitu beragamnya budaya di Indonesia dalam menyambut malam yang penuh kebaikan ini. Apapun tradisinya, makna dalam berbuat kebaikan jangan sampai luntur. Apakah didaerah mu ada tradisi unik dalam menyambut malam lailatul qadar?

Penulis: Reza Umami/Job

Editor: Fahriza wiratama

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *