Di Era Seperti Ini, Perlukah Membangunkan Sahur?

Ilustrasi membangunkan sahur. (Foto/Media Institut Mosintuwu)

Suaramahasiswa.info Sahur … sahur … sahur … sahur …

Bapak-bapak, ibuk-ibuk mari yo kita sahur…

Begitu kiranya seruan para pemuda yang keliling kampung membangunkan warga, sambil membawa kentongan dan barang-barang bekas yang dijadikan alat musik. Di era yang serba canggih ini kemudahan melakukan aktivitas memang sangat ditunjang dengan penggunaan smartphone, salah satunya bangun sahur. Tapi kamu juga bisa kok bangun sahur menggunakan alarm kampung, biasanya sih disebut gerebek sahur.

Tradisi membangunkan sahur di Indonesia sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Pada mulanya beduk dipilih untuk membangunkan sahur, karena pada saat itu kondisi pemukiman di Indonesia masih banyak dipenuhi hutan dan jarak satu rumah ke rumah yang lainnya pun berjauhan. Biasanya beduk ditabuh keliling kampung saat jam sahur tiba.

Seiring berkembangnya zaman, terjadilah proses akulturasi budaya. Salah satunya seperti di Jakarta, budaya betawi berdampingan dengan budaya Cina sehingga hal ini pun berpengaruh pada kegiatan membangunkan sahur. Saat itu dipilihlah petasan karena memiliki suara yang mengagetkan dan dianggap mampu membangunkan warga.

Sekitar abad ke-19 keberadaan petasan digantikan oleh alat musik tradisonal. Nyanyian-nyanyian khas  Betawi pun disertakan dalam kegiatan ini, sehingga orang-orang yang dibangunkan pun menjadi terhibur.

Meskipun membangunkan sahur sudah menjadi tradisi yang selalu ada di bulan ramadhan, apakah hal itu masih relate di era modern saat ini? Pasalnya sekarang kita semua sudah memiliki smartphone yang dilengkapi dengan fitur alarm. Selain itu kondisi lingkungan saat ini sudah tidak sama lagi seperti dulu, apalagi di pemukiman padat penduduk. Bahkan satu tembok bisa dimiliki oleh dua rumah sekaligus, dan jika bangunannya semi permanen kita dapat mendengar apa yang dibicarakan oleh tetangga sebelah.

Belum lama ini di sosial media tersebar video sekumpulan pemuda yang membangunkan sahur, alih-alih membuat senang warga, malah menimbulkan pertikaian karena suara tabuhannya terlalu keras. Banyak juga komentar di sosial media yang mengeluhkan jika waktu membangunkaan sahur itu terlalu dini, sekitar pukul 02.00 pagi.

Melansir dari Halodoc mengenai jam bilogis manusia, pada pukul 00.00-03.00 dini hari tubuh sedang berada pada fase lelah dan mengantuk karena hasil dari produksi kelenjar melatonin. Selain itu tubuh juga sedang melakukan proses detoksifikasi atau pengeluaran racun dari tubuh.

Menurut Nasional Sleep Foundation (NSF) jam tidur yang dibutuhkan oleh orang dewasa sekitar 7-9 jam per hari, sedangkan untuk manula sekitar 7-8 jam per hari. Jika manusia kekurangan jam tidur akan mengakibatkan beberapa masalah seperti gangguan sistem saraf pusat yang menjadi tidak fokus, terganggunya sistem pencernaan, menurunkan sensitivitas insulin, menurunnya kekebalan tubuh, dan menimbulkan permasalahan kulit seperti mata panda.

Bukan hanya mengenai jam biologis tubuh, ternyata membuat kegaduhan juga termasuk ke dalam pelanggaran hukum dipadana, Menurut Pasal 503 angka 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang larangan membuat gaduh di malam hari. Hukuman yang dikenakan yakni kurungan selama-lamanya tiga hari atau denda Rp.225.000

Jadi sebenarnya boleh engga sih ngebangunin orang sahur?

Tentunya hal ini menjadi dilema tersendiri, antara ingin mendulang pahala dengan mengingatkan warga sahur tapi juga takut mengganggu. Mengingat kondisi lingkungan yang kini sudah jauh berbeda, serta perkembangan zaman yang kian canggih rasanya kita perlu mencoba cara lain untuk membangunkan sahur.

 Untuk menjaga  tradisi membangunkan sahur tetap lestari, dan keberadaannya tidak mengganggu warga, kita bisa loh tetap melakukan gerebek sahur. Caranya dengan mengurangi intensitas alat penabuh, dan kekuatan dalam membunyikannya. Tidak hanya itu, kita bisa juga melestarikan tradisi ini tanpa harus cape-cape berjalan kaki, seperti para pemuda di Banda Aceh yang membangunkan warga melalui speaker masjid dengan menggunakan syair.

Mereka mengaku mendapat respon positif dari warga, ketimbang menggunakan cara sebelumnya yang dianggap mengganggu. Aksi yang dilakukan ini juga membuat ibu-ibu dan bapak-bapak lebih cepat terbangun.

Nah jadi gitu guys! Dengan cara ini kita masih bisa melestarikan budaya tetapi juga tidak mengganggu waktu istirahat orang lain. Jangan sampai bulan penuh berkah ini yang tadinya ingin kita jadikan sumber amalan, eh malah jadi sumber kemadharatan dan mendzolimi orang lain.

Penulis: Laily Kurniawatu

Editor: Puspa Elissa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *