Unisba Haruskan Dosen Minimal Bergelar S2

Suasana ruangan Badan Penjamin Mutu (BPM) Unisba yang berada di Jalan Tamansari no 20 Bandung, Rabu (16/3). Unisba masih mempunyai dosen yang masih bergelar S1 berjumlah 40 orang.  Saat ini, mereka sedang menempuh program studi pasca sarjananya, namun masih dalam proses penyelesaian. (Agam/SM)

Suaramahasiswa.info, Unisba Sejak munculnya Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dalam ayat 2 pasal 46 yang menjelaskan bahwa “Dosen memiliki kualifikasi akademik minimum a. lulusan program magister untuk diploma dan sarjana; dan b. lulusan program doktor untuk pasca sarjana,” yang berlaku hingga akhir tahun 2015. Setelah dikonfirmasi, ternyata Unisba sudah menerapkan sistem untuk semua dosen harus menempuh pendidikan minimal S2.

Hal ini diamini oleh Nan Rahminawati, Ketua Badan Penjamin Mutu Unisba bahwa Unisba tidak lagi menerima dosen bergelar S1. Menurutnya, bagi dosen yang tidak S2,  sanksinya tidak bisa dilibatkan dalam pengajaran dan tidak mendapat hak karena tidak mengikuti persyaratan. “Setiap dosen yang masih S1, kami sekolahkan melalui Beasiswa Pendidikan Pasca Sarjana (BPPS) atau dari Pendidikan Tinggi (Dikti),” jawabnya saat ditemui oleh Suara Mahasiswa di ruangannya, Rabu (16/3).

Saat dikonfirmasi ke bagian Akademik, Yan Bachtiar mengatakan memang benar dosen di sekolahkan oleh universitas, ada juga yang menggunakan biaya sendiri. “Kami tidak menyekolahkan mereka dalam waktu yang bersamaan. Kalau semua sekaligus siapa yang akan mengajar? Tapi jika dalam jangka waktu tertentu tidak lulus, maka biayanya dihentikan,” papar Kabag. Akademik Unisba itu.

Dari data kepegawaian yang kami peroleh, total keseluruhan dosen yang masih bergelar S1 berjumlah 40 orang. Sebanyak 29 dari Fakultas Kedokteran, Dakwah satu orang, Fikom dengan dua dosennya, MIPA berjumlah tujuh  orang dan satu dari Teknik. Saat ini, mereka sedang menempuh program studi pasca sarjananya, namun masih dalam proses penyelesaian. Rahminawati juga menceritakan bahwa universitas harus menyerahkan laporan ke Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDPT) untuk dievaluasi.

“Setiap bulannya universitas harus menyerahkan laporan mengenai dosen, mahasiswa, nilai, dan komponen lainnya. Apabila ditemukan dosen S1, maka Unisba akan terkena masalah, misalnya bisa mempengaruhi akreditasi setiap prodinya,” lanjutnya.

Hikmat Taofiq, Kepala Seksi Pengadaan dan Pengembangan Ketenagaan turut menjelaskan ihwal ini. “Unisba sendiri, rasio antara mahasiswa dan dosen tidak sesuai. Kalau pun harus meminjam nama dosen saat akreditasi, ada batasan tertentu. Jika sudah habis waktunya mesti dikembalikan lagi. Jadi, dosen harus segera menyelesaikan S2nya agar tidak merugikan nama Unisba,” tutur pria yang bekerja di Kepegawaian Unisba itu. (Intan Silvia/SM)

Share Button