[Editorial] Surat Terbuka Redaksi Suara Mahasiswa #2

Foto: Dokumentasi SM.

Sosialisasi, Bagai Menghisap Tembakau yang Digulung Kertas Ijazah: Memabukan!

SOSIALISASI /so·si·a·li·sa·si/ n 1 usaha untuk mengubah milik perseorangan menjadi milik umum (milik negara); 2 proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat dalam lingkungannya; 3 upaya memasyarakatkan sesuatu sehingga men-jadi dikenal, dipahami, dihayati oleh masyarakat; pemasyarakatan;

Pahpir dan Ijazah

Beberapa waktu lalu, dua alumnus Universitas Islam Bandung terpaksa harus ‘mengelus dada’ perihal ijazahnya. Bobby A. Prasetyo terlibat obrolan panjang dengan Kabag. Akademik, Iyan Bachtiar. Diakuinya, pihak universitas tidak bisa memberikannya ijazah karena ia tak mengikuti pelantikan wisuda.

“Ya kalau semua mahasiswa mengikuti cara pikir kamu, nanti kita (Unisba) tidak ada wisudawan dong,” kata Bobby mempraktikan ungkapan Iyan.

Berawal dari obrolan ini, Suara Mahasiswa mencoba menelusuri sejumlah fakta di lapangan. Diakui Iyan Bachtiar, bila “Tidak ada yang namnya penangguhan ijazah. Tapi, tentu ada persyaratan ketika ingin merumahkan ijazah.”

Menurut Iyan yang menjadi pokok permasalahannya adalah dua mahasiswa tersebut tidak mendaftar untuk pelantikan sarjana. Hal ini berhubungan dengan penyantuman nama di SK rektor yang disetorkan kepada Dikti.

Ironi, kedua mahasiswa ini punya alasan tersendiri perihal absennya dipelantikan sarjana. Bobby Agung mengaku merawat orang tua yang sedang sakit dan wawancara kerja menjadi alasannya. Sedangkan Septian bercerita, bila ia telah mendapat restu dari salah satu staf akademik Fakultas Ilmu Komunikasi, atas ketidak hadirannya.

“Saya diharuskan bayar untuk wisuda, tapi bukan untuk ijazah. Dengan alasan pendataan alumni ke instansi (Dikti),” jelas Bobby. Namun, Rakhmat Ceha, Wakil Rektor I Unisba menegaskan, pembayaran adalah satu hal dari persyaratan yang harus dilengkapi mahasiswa.

Satu benang merah dari ‘kecolongan’ ini adalah masalah sosialisasi. Iyan mengakui pihaknya belum pernah terpikirkan untuk mensosialisasikan perihal wajibnya prosesi wisuda.

Remah Sepah Tembakaunya

Sosialisasi jugalah yang menjadi permasalahan lain, dikasus yang lain. Semisal rokok di lingkungan kampus. Setidaknya sedari 2015 Kampus Biru sudah menetapkan pelarangan merokok di lingkungan Unisba. Sejumlah titik dijadikan tempat bertenggernya viber menyerukan haram berasap di area tersebut.

Nyatanya? Tengoklah asap-asap yang masih mengepul di sudut-sudut kampus. Apakah itu pertanda berjalannya aturan ini?

Tidak seperti permasalahan wajib berkerudung, larangan merokok tidak memiliki SK Rektor tersendiri. Peraturan ini merujuk Undang-undang tentang Kesehatan, Kawasan Tanpa Rokok, pasal 15, nomor: 36/2009. Hukum tertinggi di negara ini.

Sayang, tidak ada ada tindakan tegas untuk para pelanggar. Hal ini lah yang memancing banyak kritikan. Salah satunya dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Santi Indra Astuti yang vokal menyoroti masalah ini. “Tidak cukup hanya himbauan dilarang merokok yang nyatanya masih dilanggar sejumlah dosen, tenaga administrasi, dan mahasiswa. Perlu ada regulasi khusus dan sanksi nyata,” tegasnya dalam tautan jejaring sosial yang dibagikan kepada kami.

Namun nyatanya setiap kali ditanyakan kepada pihak rektorat, jawaban saling melempar dan abstrak lah yang kami temukan. Dalam wawancara kami bersama Rektor Unisba, Thaufiq Boesoirie, ia menegaskan seluruh kampus Unisba masuk dalam kawasan tanpa rokok. Tak ada ruangan khusus merokok, karena baginya bila ada sama dengan melanggar aturan tersebut. Merokok di luar gerbang kampus, adalah solusi yang ia tawarkan. Namun kembali jawaban mengambang yang kami temui saat menanyakan sanksi.

Mabuk: Epilog

Sosialisasi jadi kendala tersendiri untuk beragam masalah di kampus biru. Membagikan lembar-lembar tebal berisi aturan dan pemasangan viber dengan tulisan “jangan ini” – “jangan itu” jadi cara yang dipilih. Efektifkah? Dapat pembaca lihat tersendiri.

Adakah cara yang lebih efektif untuk mensosialisasikan sebuah program? Tentu para mahasiswa yang mengaku dirinya young, wild, and free bisa menjawab pertanyaan ini.

*diolah dari berbagai sumber

Redaksi

Share Button