[Editorial] Sepakbola dan Logika Unisba Adalah Warek Tiga

“Seorang terpelajar itu harus adil, sejak dalam pikiran!” (Pramoedya Anata Toer, Bumi Manusia)

Akhir Juli lalu, tepatnya pada Rabu, 20 Juli 2016, Unisba resmi melantik Wakil Rektor tiga. Asep Ramdan, eks Dekan Fakultas Syariah ini ditunjuk menjabat sebagai Warek tiga. Kemahasiswaan dan Ruhudin adalah bidangnya, sejumlah program dicanangkan oleh pembantu rektor baru. Pemahaman agama dan pengetahuan umum tidak boleh ada dikotomi kata Asep Ramdan.

Dalam perjalanannya sungguh disayangkan, universitas sekelas Unisba yang selalu dielu-elukan menempati peringkat 33 dari seluruh PTN dan PTS di Indonesia baru melantik pembatu rektor yang ketiga. Padahal, universitas lain di tanah air dari awal sudah mempunya wakil rektor yang jumlahnya tiga, bahkan lima.

Sebut saja Universitas Islam Nusantara (UNINUS), universitas yang mempunyai nama Islam di tengah namanya ini mempunyai tiga wakil rektor, sebelum Unisba. Universitas Padjajaran bahkan mempunyai empat pembantu rektor.

Banyaknya pembantu rektor, tentu akan mempermudah beban kerja rektor. Nalar Unisba on the track karena dengan bertambahnya wakil rektor tentu kinerja di tataran ‘top man’ Unisba akan lebih baik. Apalagi jika kita melihat latar belakang dilantiknya warek tiga, dikarenakan bidang kemahasiswaan yang sudah overload. Bagaimana tidak kelebihan beban, Unisba tahun ini bahkan menargetkan 2900 mahasiswa baru.

Ya, Unisba dalam jalur yang benar. Sungguh tidak adil, Unisba yang dianggap besar ini sebelumnya hanya mempunyai dua pembantu rektor. Unisba tidak kecil kan? Beruntung, kali ini Unisba sudah adil sejak dalam pikiran, tinggal kita menunggu, apakah lakunya juga demikian.

Sepakbola Adalah Kerja Sama, Bukan Individu, pun dengan Unisba

Euro 2016 menasbihkan Portugal sebagai juara. Ya, Portugal menjadi Juara baru dalam sejarah sepakbola Eropa. Cristiono Ronaldo sang mega bintang benar-benar bersinar dalam kejuaraan ini. Meskipun di partai final ia hanya bermain 25 menit.

Sepak terjang Portugal sebelum menjuarai Euro tidaklah mudah, di fase grup, Portugal hanya mampu merengkuh tiga poin dari tiga hasil imbang. Selacau—julukan Portugal—pun harus puas untuk menjadi peringkat tiga terbaik untuk lolos ke babak eleminasi.

Euro di atas mengajarkan kita banyak hal. Satu dari sekian banyak itu adalah logika, nalar yang benar. Yakni, sepakbola tidak dijalankan oleh dua kaki, atau satu orang, tapi 11 orang, bahkan lebih (ditambah pelatih, pemain cadangan, dan manajemen tim). Sehebat apapun Ronaldo, tanpa ada bantuan tim ia bukan apa-apa. Memang Ronaldo membantu Portugal lolos ke fase eleminasi setelah bermain imbang 3-3 lawan Hungaria. Namun, tanpa asisst dari Joao Mario dan Quaresma, Ronaldo tak akan mungkin mencetak dua gol, dan cerita Portugal sebagai juara mungkin hanya cerita belaka.

Liga Inggris juga pada tahun kemarin menghadirkan Leicester City sebagai juara baru. Siapa yang menyangka, tim semenjana macam Leicester City bisa menjuarai liga. Tapi itulah fenomenanya. Ranieri yang sedari awal dipatok target untuk tidak degradasi oleh manajemen malah bisa membawa Leicester juara. Kembali logika kita diuji, mengapa bisa? Menurut analisis sederhana nan dangkal dari saya, Leicester juara karena kerjasama, sinergitas para pemain dan elemen di dalam tim adalah kuncinya.

Semua kejadian di atas masuk akal, jika kita benar-benar memafhuminya. Unisba harus yakin akan hal itu. Dengan rektor yang merasa perlu untuk mengisi kekosangan pada jajaran pembantunya, pada akhirnya ia melantik wakil rektor tiga—setelah ada persetujuan dari Yayasan. Tinggal menunggu kinerja serta sinergitas maksimal dari semua elemen agar si kampus biru bisa terbang setinggi langit, macam perjuangan Portugal dan Leicester. Karena adil dalam berpikir saja tidak cukup, perlu ada laku yang cukup, cukup adil.

Redaksi