[Editorial] Semoga Tak Hanya Tampilan Kami Saja nan Sporty

Jenuh juga rasanya memantau proyek pembangunan ‘si biru’. Tentu anda juga malas untuk disodori kabar macam itu melulu.

Lagak anak-anak Unisba di lapangan, acap kali luput dari pandangan. Sebelumnya, kami telah mengikuti bagaimana mereka menitikan keringat di laga Liga Mahasiswa, cabang bola keranjang tepatnya. Anak-anak Unisba, bermain kepayahan untuk tiga game awal, hingga akhirnya harus rela dikalahkan Universitas Pendidikan Indonesia, dramatis bersama Universitas Padjajaran, dan merelakan laga kontra Univeritas Parahyangan. Total hanya memenangi game kontra tim Poltekpos dan ITB, dan tak berhak pula melaju ke jenjang selanjutnya.

Laga cabang futsal pun dimulai Ahad lalu. Universitas Andalas jadi mukadimah. Sayang seribu sayang, kita harus mengalah 1-0.  Senin ini, tim futsal kita dijamu sang tuan rumah Telkom University, hasil terbaru, kampus biru menang dengan kedudukan 2-1. Berita baik lainnya datang dari Windu Rosdiana Dewi. Mahasiswa MIPA 2012 ini mengharumkan nama kampus biru via mendali emas dalam cabang Taekwondo di gelaran Bandung Taekwondo Festifal.

Olah raga memang menyatukan banyak hal. Hal ini sayang tak terjadi di tanah kita, Unisba. Basket, Sepakbola, dan Taekwondo boleh jadi terus melaju. Sisanya? belum ada kabar kami masih berusaha menghimpun.

Sederet kabar ini, rasanya punya korelasi dengan fasilitas kita -maaf bila harus ditarik kesana lagi. Mau apa ditanya, Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB) si pemenang Liga Mahasiswa cabang basket dua berturut-turut  itu sampai memasang umbul-umbul bergambarkan pemain basket kenamaan mereka, tatkala timnya lolos ke partai final. Latihan yang rutin di lapangan yang dijamin oleh kampusnya. Coba lihat, apa Unisba punya lapangan untuk berlatih? Punya, multifungsi malah, bisa tempat berlatih bisa tempat merumput kuda besi.

Jadwal latihan teman-teman UKM olah raga pun sering bentrok dengan jadwal akademis, bahkan jadwal main bola bocah-bocah kelurahan Tamansari. Wajar saja bila perjuangan mereka dianggap tidak maksimal di laga-laga antar kampus. Lihat teman-teman UKM bela diri. Selain memang harus menyimpan barang di satu sekre yang notabene juga menumpang ke ELC, mereka pun harus rela diganggu latihannya dengan hilir mudik manusia di pelataran Gedung Khiez Mutaqien.

Anda tentu pernah menonton shaolin Soccer. Sekelompok orang lulusan perguruan shaolin ini memang sukses memenangkan laga dengan persiapan yang serba kepepet. Mereka tak punya banyak uang untuk sewa lapangan, beli kaos tim, bahkan untuk bayar pemain. Namun ajaibnya -atau karena tokoh protagonis selalu menang- mereka menjuarai turnamen tak bernama itu.

Unisba memang tidak memasukan shaolin sebagai mata kuliahnya. Maka, apa bisa kita memenangi laga tanpa didukung papah mamah? Ya maksud kami, sepetak tanah yang direstui rektorat untuk ajang melempar atau menendang, bahkan memukul sekalipun.

Seminggu lalu kami pergi ke puncak gedung kedokteran baru di Tamansari 20. Di sana ada lapak nganggur barang sebesar lapang futsal, atau basket, atau volli. Serba guna berarti. Pemandangan ini juga lah yang memberikan asa, tentang sedikit berharap untuk direstuinya lahan itu jadi tempat kami berseri, mengatur strategi. Tentu kebahagiaan sederhana bila melihat Universitas Islam Bandung tak hanya ramah pada keagamaan dan keilmuan, melainkan juga pada ranah olah raga.

Fasilitas kampus memang tidak kontan terhadap prestasinya. Namun kami percaya fasilitas pula punya pengaruh barang sedikit terhadap minat mahasiswa. Lihat saja, penampilan mahasiswa Unisba, sudah sporty betul ‘kan? Maka mana mungkin rela menganggurkan lapak kosong?

 

Redaksi