[Editorial] Kuesioner Memang Sebuah Pertanyaan

Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang” (Berita kepada kawan, Ebiet G Ade)

Universitas Islam Bandung terus berupaya untuk meningkatkan kualitas dari segala aspek. Fasilitas, Sumber Daya Manusia (SDM) adalah salah dua komponen yang seyogianya harus digenjot terus. Adapun cara Unisba untuk mengetahui kekurangan elemen tersebut adalah dengan kuesioner yang berfungsi sebagai alat ukur. Dari situlah, dapat terlihat tanggapan mahasiswa mengenai Unisba secara  menyeluruh; fasilitas, kinerja dosen, serta keluhan lain yang dialami.

Mudah saja bagi si Kampus Biru untuk membuat mahasiswa mau mengisi kuesioner. Selama ini, kuesioner tersebut dijadikan syarat wajib untuk pengambilan kartu UAS. Alhasil, mahasiswa akan rutin mengisi kuesioner, setiap semester. Pertanyaan mendasarnya; Apakah kuesioner tersebut bisa membawa dampak baik bagi Unisba?

Yang selalu menjadi sorotan sejumlah mahasiswa tatkala mengisi kuesioner adalah tentang  fasilitas. Hal ini rutin menjadi bola panas tiada berujung juga jika membicarakan Unisba. Pun menjadi pertanyaan lain, apakah kuesioner membantu perkembangan fasilitas yang ada?

Koko  Heriadi, Kepala Bagian Sarana Prasarana Unisba menyebutkan ia tidak tahu menahu sama sekali mengenai hasil kuesioner. Koko pernah mengetahui hasil kepuasan mahasiswa tersebut, tapi dalam bentuk general saja. “Sebenarnya kami terbuka untuk berbagai keluhan,” ucap Koko. Lantas,  apakah kuesioner yang notabene menjadi alat ukur kepuasan mahasiswa, diindahkan begitu saja  dalam konteks pembangunan fasilitas? Jawabanya tidak, jika melihat pengakuan Koko.

Sejumlah mahasiswa pun meng-iyakan bahwa kuesioner hanya sebatas formalitas saja. Karena merka beranggapan dengan adanya kuesioner, keluhan mereka tidak didengar dan  Unisba hanya begini-begini saja.

Badan Penjamin Mutu (BPM) Unisba adalah bagian yang mengolah data hasil kuesioner. Melalui Nan  Rahminawati, Ketua Badan Penjamin Mutu ia mengaku, BPM hanya bertugas mengolah data, data yang  ada lalu disampaikan saat saat rapat pimpinan Unisba. Selebihnya, kuesioner diserahkan  kepada pihak terkait, semisal ke Fakultas dan Sarana Prasarana.

Wakil rektor 1, Rachmat Ceha mengamini  segala rupa data kuesioner selalu  disampaikan oleh BPM, dan hal-hal terkait akan diserahkan pada hal-hal terkait pula. Sampai di sana sebenarnya permasalahan sudah selesai. Tapi kembali muncul pertanyaan. Tindak lanjut macam  apa yang kongkret dari hadirnya kuesioner?

Apakah kita juga harus bertanya pada ‘Rumput yang Bergoyang’ layaknya Ebiet G ade?

Kertas Adalah Korban Kuesioner

Di era digital ini, Unisba masih saja senang menggunakan penggunaan data fisik dalam segala  rupa kebutuhan akdemik. Misalnya saja perwalian. Kuesioner pun iya. Mahasiswa mengharuskan membuat print-out kuesioner jika ingin mengambil  kartu UAS.

Sudah jamak diketahui, kertas bersumber dari pohon. Mari kita menghitung jumlah mahasiswa aktif yang berkuliah di Unisba. Angka 12.000-an mahasiswa adalah  data tahun kemarin yang bersumber dari data Litbang Suara Mahasiswa. Katakanlah jumlah yang  mengisi kuesioner adalah 10.000 maka dalam hitungan sederhana: kertas yang dibutuhkan kurang  lebih adalah 10.000 berarti setidaknya ada dua puluh rim kertas yang dibutuhkan untuk satu kali  kuesioner. Jumlah yang tidak sedikit bukan?

Solusi yang dibutuhkan yang cukup realistis adalah memaksimalkan sistem akademik yang  berbasis online, data yang ada diinput pun langsung bisa diolah di sana. Selain mudah diakses,  juga menghemat segala rupa, terutama kertas. BPM pun sebagai pengolah data bisa dimudahkan.  Sudah seharusnya Unisba jangan menjadikan kertas sebagai korban, dan seharusnya pula Unisba  memaksimalkan sumber daya kemajuan yang ada.

Perlu ada sinergitas dalam segala bentuk untuk membangun Unisba yang lebih baik. Peran  mahasiswa pula cukup urgen. Dalam hal pengisian kuesioner misalnya, acapkali ditemukan  mahasiswa yang mengisi asal-asalan dalam mengisi kuesioner. Bukankah kita ingin didengar?  Setidaknya, kuesioner adalah cara yang baik untuk menilai dan memberikan masukan.

Hingga akhirnya Kuesioner masih menjadi episode kelabu, secara fungsi dan  dampak. Menjadi tugas kami untuk menjadikan ini terang benderang. Agar kita, tidak hanya  ‘bertanya pada rumput yang bergoyang’ melulu.

Redaksi