Selamat Datang Mahasiswa Biasa di Kampus Biasa

Oleh: Wildan A. Nugraha*

“Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan, berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.”

Bukan ingin sok idealis atau merasa paling benar, tapi satu paragraf dari buku Catatan Seorang demostran besutan Soe Hok Gie tersebut, seolah menggambarkan keadaan mahasiswa pada zaman milenium ini. Mungkin ucapan saya tidak sependapat dengan anda, tapi cobalah jujur kawan. Sudah kah kita (mahasiswa) berani menyatakan benar sebagai kebanaran, dan salah sebagai kesalahan secara tegas?

Tiga tahun lalu, sama seperti anda hari ini, saya duduk di bangku yang sama seperti anda (para mahasiswa baru). Dengan semangat dan antusias (mungkin) mendengarkan ‘cerita’ dari beberapa narasumber yang intinya untuk mengenalkan karakter kehidupan mahasiswa.  Jika kalian berpendapat ini adalah suatu hal yang membosankan, saya sependapat dengan anda. Tapi saya yakin, perasaan antusias anda terhadap kampus ini dan teman-teman baru nan cantik mengalahkan perasaan bosan itu bukan?

“Jangan lihat dari mana almamaternya, tapi mau jadi apa kamu setelah melepaskan almamater itu.”

Ungkapan dari seorang pria pelontos (Pidi Baiq) yang menuliskan catatan Dilan dan Milea ini cukup membuat kita (seharusnya) berpikir; almamater hanyalah sebuah tempat untuk mencari ilmu. Unisba hanyalah kampus yang di buat oleh para ulama Masyumi pada 1958 yang berada di tengah kota Bandung dan kini dalam masa perkembangan. Prestasi ? bisa dilihat dari peringkat Unisba di daftar Kopertis yang menduduki peringkat ke 64 dari Kopertis wilayah IV Jawa Barat dan Banten.  Dengan kata lain, tidak ada yang spesial dari kampus ini. Ya, kampus ini biasa-biasa saja.

Mari beralih kepada mahasiswa yang ada di dalamnya . Ketika kualifikasi kampus diukur berdasarkan peringkat pada kordinasi perguruan tinggi swasta (Kopertis). Kualitas mahasiswanya mau-tidak-mau merujuk pada kondisi lingkup organisasi internal di dalamnya, serta jurnal ilmiah yang dipublikasikan.

Dengan luas tanah 10.808 m2 unisba hanya memiliki 25 organisasi yang mendukung minat dan bakat dari total kurang lebih 12.000 mahasiswa, tetapi dari jumlah 25 ormawa kampus saja hanya 14 –sampai saat ini- yang berperan aktif dalam ranah internal organisasi kampus biru ini. Begitu pun dengan alat perpanjangan tangan universitas yang dimiliki, (BEM & DAM) yang malah banyak di tinggal anggotanya. Contoh jelasnya saja terjadi pada pucuk pimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa & Dewan Amat Mahasiswa yang kini ditinggal pemimpin; mereka tidak menggenapkan umur kepemimpinannya. Untuk jurnal dipublikasikan. Sampai saat saya mengaduk kopi dan membaca tulisan ini dikirim, saya belum menemukan alamat web yang khusus melihat jurnal dan penelitian ilmiah milik mahasiswa Unisba di luar dari skripsi mahasiswa untuk program kelulusanya.

Menurut anda adakah yang istimewa dari kampus biru ini ?

Dewasa ini..

Maaf maksud saya, sudah seharusnya mahasiswa pada saat ini lebih dewasa untuk melihat kondisi sekitar. Ikut berperan aktif dalam lingkup kampus, mengikuti penelititan dan mempublikasikanya dan apapun itu untuk membentuk kampus ini menjadi istimewa. Jangan pernah risaukan perkataan, “Anaknya teh Unisba pisan”, karena tak ada yang lebih useless daripada menjadi mahasiswa yang misinya hanya mengejar nilai A, kuliah-pulang-kuliah-pulang, atau menghabiskan waktu hanya untuk berburu junior cantik. Mari bersama-sama menciptakan keistimewaan pada kampus yang biasa-biasa saja seperti ini.

*Penulis adalah Pemimpin Pers Suara Mahasiswa

Share Button
  • Alexandra Hwang

    Unisba menunjukan trend positif dengan menempati peringkat 32 Nasional Kemenristek dikti lho. Unisba tentu istimewa, jika kita melihatnya dengan nyata, bukan kritisi semu seperti yang Wildan sampaikan. Segala perubahan positif seperti web jurnal, pembuatan gedung memerlukan waktu dan support, mari kita dukung.

    • M Roby Iskandar

      Saya sependapat dengan mbak alexandra bila kita sebagai mahasiswa harus bersifat netral -sehingga tak berujung “kritik semu”. Tapi seberapa lama mbak alexandra mau menunggu perubahan positif kampus mbak yang utopis itu? Selain jangan terjebak kritik semu, kita pun harus melek akan “cinta buta” loh mbak.

      • Alexandra Hwang

        Saya cinta Unisba, oleh karena itu saya menginginkan perubahan. Dan saya tahu, untuk mewujudkannya memerlukan waktu dan support, mari kita dukung. Setiap perubahan terdapat rintangan yang harus dilalui, dan ketika Unisba terjatuh (tidak dapat melaluinya ) kita harus bantu Unisba berdiri dan membantunya untuk melalui masalah tersebut, bukan hanya diam lalu menggelengkan kepala ataupun menertawainya. Perubahan apa yang kita harap dari hanya mencela.

      • moch hilman

        ga mungkin ga ada trend positif klo kepercayaan masy thd Unisba meningkat trs; sy sependpt dgn Alexandra bhw Unisba berada di peringkat 32 dari 3000an PTN/PTS se Ind, dan di bwh peringkat unisba malahan ada bbrp PTN di bwhnya;memang ada yg kurang memadai yaitu masalah PARKIR

  • Biji Nangka

    Unisba kampus biasa aja? Nggak jg tuh. Unisba kampus istimewa kok, terutama mahasiswa/i nya sangat istimewa. Bahkan udh dimiulai di awal abad milenium ini. Inget film “action” Bandung Lautan Biru? Itu pemeran wanitanya dari kampus mana ya? Juga ingat, di pertengahan 2005 maraknya “ayam kampus” itu ada di kampus mana ya? Hehe.. Lanjut ke 2008/2009, waktu itu menyeruak foto syur wanita kampus yg akhirnya jadi “selebgram” (istilah kerennya), itu dr kampus mana ya? Yang terakhir, ada salah satu alumni kebelet pgn masuk surga lalu akhirnya gabung ISIS, dan ketika itu sang pejabat tinggi kampus kalang kabut, buat konpers sana sini. Hmmm, sangat istimewa bukan kampus Unisba.

    • Alexandra Hwang

      Jelek di cerca. Bagus tak jadi bahan cerita.

      • Biji Nangka

        Apa yang bagusnya bray? Iya bagus, Unisba rajin bikin Milad. Hahaha

      • M Roby Iskandar

        saran nih ya mbak. sapatau punya berita bagus mending langsung kirim aja ke redaksi.suaramahasiswa@gmail.com ya tapi setau ane enggak dapet honor. Tapi kalau embak ngejar honor bisa kirim ke net CJ lah.

  • moch hilman

    seharusnya rektorat membekukan “suara Mahasiswa” in, ga ada gunanya ni media

    • Biji Nangka

      Hahaha contoh org2 peninggalan orba ya begini nih, sumbunya pendek, jadi keliatan “pinter”-nya. Bangga ya kuliah di UNISBA? Dulu kuliahnya gak pernah titip absen ya mas? Wkwkwk

    • M Roby Iskandar

      Sok weh ku pak rektor hilman mangga

  • Imultidimensi

    Kopertis adalah lembaga di tingkat daerah di bawah Kemenristekdikti. Kopertis Wilayah IV Jabar dan Banten tidak membuat pemeringkatan perguruan tinggi, apalagi menempatkan Unisba di posisi 64. Kemenristekdikti sebagai induk yang membuat penilaian dan pemeringkatan terhadap 3320 PT di Indonesia Dan Unisba menduduki peringkat 32.

    Mengenai organisasi kemahasiswaan yang jumlahnya sekian, lalu antusiasme berorganisasi, perlu dilihat pula jumlah mahasiswa yang mengasah potensi mereka dengan membentuk komunitas selain di organisasi resmi (LKM/UKM), aktivitas wirausaha, juga yang kuliah sambil bekerja. Kita sama-sama tidak ingin melihat mahasiswa hanya sekedar kuliah, nongkrong dan pulang.

    Buat saya, mahasiswa Unisba dalam berbagai heterogenitasnya, dalam berbagai level aktivitasnya, para alumni, mahasiswa lama maupun baru, adalah orang-orang luar biasa. Kontribusi mereka membuat kampus ini menjadi luar biasa.

  • moch hilman

    hasil survey Tempo sbgai media nasional seharusnya bisa dijadikan rujukan bgmn masy menilai Unisba; Unisba merupakan peringkat ke 10 PTS favorit tkt nasonal; FK Unisba malah peringkat ke 2 di bwh Usakti, mhs Unisba bnyk juga yg terpilih sbg mojang/jajaka pinilih misal di Bangka Bdelitung, Kab Bandung, kab Bandung barat dsb,…..tapi 1 hal yg hrs disesali yg kelihatannya cenderung menurun adalah tulisan ilmiah/opini para mhs di media; dulu waktu saya kuliah di Unisba tulisan mhs Fikom sering nongol di PR atau media lokal lainnya; tapi skrg sangat sulit dijumpai, hanya sering kita baca tulisan Kabag Humas atau dosen sering muncul di PR atau Kompas