Wahai Mahasiswa, Donorkanlah Darahmu!

Ilustrasi donor darah. (Meilda Amdza/SM)

Oleh Raden Muhammad Wisnu

Slogan mahasiswa adalah agen perubahan (agent of change) bukan hanya jargon belaka. Jika kita lihat sejarah bangsa ini, pada tahun 1966, Orde Lama tumbang karena pergerakan mahasiswa. Demikian juga, pada tahun 1998, Orde Baru pun tumbang karena pergerakan mahasiswa. Jika dahulu tahun 1945 para pendiri bangsa meneriakan “Berjuang sampai titik darah penghabisan”, saat ini, dalam arti yang sesungguhnya, sebagai anak muda kita pun dapat melakukannya, yakni dengan mendonorkan darah kita.

Seringkali di media sosial kawan-kawan mahasiswa mendapatkan broadcast message yang berisikan urgensi permintaan darah dari kerabat yang dirawat di sejumlah rumah sakit di Kota Bandung karena sakit, kecelakaan, atau melahirkan sehingga membutuhkan pasokan darah. Sayangnya, stok darah di Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung tidak ada.

Menurut data yang dilansir oleh pengembang aplikasi smartphone Reblood, saat tampil di acara Mata Najwa beberapa waktu yang lalu, PMI setidaknya membutuhkan 1.000 kantung darah dalam setiap harinya. Bahkan, Indonesia kekurangan satu juta kantung darah dalam setahun!

Sayangnya, di kalangan anak muda, jangankan menjadi pendonor darah, sekitar 50 persennya saja bahkan tidak tahu golongan darah mereka sendiri! Reblood menginginkan aksi donor darah jadi gaya hidup dan rutinitas anak muda, bukan hanya kegiatan reaktif jika ada broadcast messange saja di media sosial.

Berdasarkan pengamatan saya, yang sudah mendonorkan darahnya sebanyak 40 kali, lebih dari setengah teman-teman saya sejak saya berkuliah di Universitas Islam Bandung, ditolak untuk mendonorkan darah karena menganut gaya hidup yang tidak sehat, alih-alih memiliki penyakit yang serius. Antara lain dikarenakan pola tidur yang tidak teratur, terlalu banyak mengkonsumsi junk food dan kurangnya aktivitas fisik (olahraga) sehingga tekanan darah dan kadar hemoglobin darah tidak memenuhi standar untuk persyaratan donor darah.

Padahal dengan segudang aktivitas, anak muda tentunya harus memiliki tubuh dan jiwa yang sehat. Sesibuk apa sih mahasiswa sehingga tidak dapat meluangkan waktunya untuk berolahraga? Sekelas Deddy Corbuzier dan Agnes Monica saja yang aktivitas dan mobilitasnya tinggi, masih menyempatkan diri untuk berolahraga setidaknya selama satu jam dalam sehari.

Jika olahraga di gym dirasa mahal,  karena keterbatasan finansial karena masih berstatus sebagai mahasiswa, cobalah olahraga murah seperti jogging dan olahraga yang hanya menggunakan berat tubuh seperti push up, pull up, squat dan plank! Saat ini sudah banyak tutorial dari para influencer olahraga yang tersebar di berbagai platform media sosial.

Juga, makanan sehat itu tidaklah mahal. Cobalah untuk mengunjungi pasar tradisional untuk membeli sayuran dan buah-buahan segar, dan belajar memasak sendiri di rumah atau di kosan. Untuk dirimu sendiri juga kok. Beli rokok bisa, tapi beli sayur dan buah-buahan masa gak bisa? Nongkrong setiap sore di cafe instagramable saja bisa, tapi meluangkan waktu olahraga dan mengkonsumsi makanan sehat masa gak bisa?

Selain itu, ada banyak manfaat dari mendonorkan darah untuk kesehatan kita, lho! Antara lain sepeti menurunkan risiko terkena penyakit jantung dan pembuluh darah, menurunkan risiko kanker, membantu menjaga berat badan ideal, hingga secara tidak langsung kita cek kesehatan di laboratorium PMI secara gratis! Cara ini bisa digunakan untuk mendeteksi penyakit seperti sifilis, HIV, hepatitis atau penyakit lainnya secara dini.

Untuk menyumbangkan darah, prosesnya sangatlah mudah. Kita hanya perlu datang ke kantor PMI, kemudian mengisi formulir yang telah disediakan. Setelah itu, kita akan diperiksa oleh dokter dan petugas apakah tekanan darah serta hemoglobin darah kita layak untuk disumbangkan atau tidak. Jika lolos, maka proses donor darah bisa dilakukan.

Proses donor darah dari pendaftaran hingga selesai tidak memakan waktu yang lama, hanya 30-45 menit saja, tergantung antrian dari para pendonor yang lain. Setelah selesai mendonorkan darah, akan disuguhkan makanan dan minuman seperti teh manis, telur rebus, biskuit untuk mengembalikan energi dan meregenerasi darah yang telah kita transfusikan.

Wahai anak muda, sebagai garis penerus sejarah perjuangan bangsa ini, kalian bisa juga berjuang untuk bangsa “hingga titik darah penghabisan” dengan mendonorkan darahnya, secara rutin! Tidak perlu muluk-muluk melakukan demonstrasi besar-besaran mengkritik pemerintah, cukup dengan mendonorkan darah secara rutin, kalian sudah berkontribusi besar untuk membangun peradaban bangsa ini!

Menolong orang lain tidak harus dengan mensedekahkan sebagian dari harta benda kita saja, tapi bisa juga dengan mendonorkan darah kalian. Dengan begitu, kita sudah menyelamatkan nyawa banyak orang dan membangun peradaban bangsa ini secara nyata! Nah, ayo donor darah, wahai anak muda! Dan sebagai penutup, izinkanlah saya mengutip salah satu hadis berikut ini sebagai penutup:

“Tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah: 2)

 

Penulis adalah konsultan lingkungan hidup. Dapat dihubungi lewat Twitter @wisnu93

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *