Lingkaran Setan dalam OSPEK

Ilustrasi Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek). (Foto/Antara)

Oleh Verticallya Yuri S. E. Pratiwi

Sebelum masuk perkuliahan, mahasiswa baru di Indonesia akan dituntut untuk menjalani Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek). Sebuah acara yang ‘katanya’ adalah masa pengenalan antara kampus dengan mahasiswa baru. Terkadang, mengharuskan mahasiswa mengerjakan tugas tertentu, dari tugas biasa seperti mencatat materi bahkan membuat atau membawa barang-barang tak lazim.

Sudah jadi rahasia umum, jika Ospek juga menjadi ajang senior ‘balas dendam’. Lingkaran setan yang dibuat bertahun-tahun lamanya terus berputar mencari mangsa baru. Rahasia umum juga, perpeloncoan terjadi di masa Ospek. Bahkan meski memakan korban pun, Ospek tetap dilakukan tiap tahunnya.

Permasalahan dalam Ospek selalu sama: kekerasan fisik dan verbal oleh senior para mahasiswa baru (maba). Ajang pengenalan kampus ini pun tak jarang malah berakhir jadi ajang pamor senior di depan maba. Pengenalan kampusnya tidak seberapa, tapi teriakan dan bentakan seniornya terus teringat sampai wisuda. Bahkan bisa jadi dendam kesumat tersendiri untuk mereka yang sensitif dan tidak terima.

Seperti kasus tahun 2007, di Taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) yang dialami Agung Bastian Gultom. Kemudian seorang mahasiswa baru bernama Fikri yang meninggal saat mengikuti Ospek di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Itu contoh dua kasus yang terjadi karena Ospek.

Jika begini,

Masih diperlukankah Ospek?

Apa ajang pamor senior berselimut pengenalan kampus dan pelatihan mental itu harus sampai memakan korban jiwa?

Padahal aturan sudah ditetapkan. Tapi korban masih saja ada. Lalu apa yang harus diperbaiki? Sebenarnya apa yang salah disini?

Pada akhirnya, sistem yang disalahkan.

Padahal, yang membuat sistem itu adalah manusia juga. Panitia, pihak kampus dan siapa saja yang terlibat. Inilah orang-orang yang membuat sistem tersebut, yang memungkinkan sistem itu dapat diterapkan. Pola pikir perubahan pada sistem yang ada harus diterapkan terlebih dahulu pada cara berpikir para pihak yang menjadi pelopor adanya acara Ospek dilakukan.

Jika bertujuan sebagai ajang pamor saja, hanya untuk menunjukan senioritas pada Maba, lebih baik Ospek tidak perlu dilakukan.

Karena,

Kekerasan bukan jawaban untuk melatih mental.

Adu fisik bukan jawaban untuk unjuk kekuatan.

Senioritas tidak perlu ditunjukkan lewat bentakkan.

Ketegasan tidak harus lewat teriakkan.

Jika ingin penghormatan, lakukan dengan elegan.

Bukan dengan perpeloncoan.

Eksistensi sebagai senior agar dihormati, dengan menjadi contoh dan teladan yang baik. Permintaan dihormati seperti apapun tidak akan berguna jika hanya keluar dari mulut saja. Rasa hormat akan muncul sendiri jika memang tindak-tanduk seseorang pantas untuk dihormati. Jika hanya berbekal teriakan dan bentakan tidak jelas dengan ludah muncrat kemana – mana dan bau mulut menyengat, jangankan hormat, yang ada maba pada kabur dan enggan mendekat. Senior hanya akan jadi korban ke julidan para maba.

Kalau pun Ospek tetap harus dilakukan, pembenahan tidak bisa hanya pada sistem yang digunakan. Orang-orang dibalik layar, orang-orang atas, dan para eksekutor acara yang harus dibenahi dan dievaluasi. Sistem akan mengikuti jika pengguna dengan baik menggunakannya.

Mahasiswa sering dijuluki sebagai agent of change, masa soal Ospek saja tidak kunjung beres?

Bagaimana urusannya ingin memperbaiki negara nanti jika urusan Ospek saja masih kalut dan semrawut. Ketika mahasiswa negara lain sudah sibuk mencari cara pindah ke planet lain, sedangkan mahasiswa di sini masih sibuk mencari arti bom hijau dan kawan – kawan, atau membuat topi dari bola plastic, bahkan karung jadi tas untuk dibawa saat ospek.

Rasa cinta pada kampus, hormat pada senior, dan rasa aman juga nyaman bukankah itu yang harusnya ditekankan pada para maba di awal masa perkuliahannya? Senior bukannya menyiksa, bukankah harusnya membantu para maba mengurangi culture shock yang lumrah terjadi ketika masuk ke fase atau lingkungkan baru.

Untuk para mahasiswa baru sendiri, tanpa teriakan atau bentakan senior, bukan berarti kalian bisa seenaknya melanggar peraturan bahkan tidak menghormati. Jika ada yang salah maka bicara. Jangan hanya diam saja, dan berakhir menjadi korban.

Sejatinya sebuah masa bernama OSPEK ini, akan berjalan menyenangkan dan lebih bermakna jika semua pihak memiliki tujuan dan niat yang sama. Tidak mencampurkan maksud pribadi apalagi dendam.

Sudah, tutup buku pengalaman buruk ospekmu.

Jika yang kau terima buruk, apa akan diberikan dalam bentuk yang buruk juga?

Wahai Maha dari para siswa. Para agent of change. Tittle-mu itu jangan hanya sekedar julukan saja.

 

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Hukum Unisba 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *