Taraksa #5 : Yang Bertahan, Bagian 2

Dan kelabu pun menari-nari di atas kepalaku. Awan yang berarak perlahan menuju tanah pertikaian, seolah ingin ikut merayakan pemusnahan masal. Ada suara petir yang membahana. Ada kilat-kilat yang membutakan bola mata. Hujan turun seraya menyapu bersih darah yang kental, menggosok licin tanah kristal, bersiap menelan tetesan-tetesan berikutnya.

Teriakan nyaring dari kejauhan bergerak cepat sekaligus perlahan, menuju corong telinga kiri dan kanan. Mantera-mantera yang mengalun mengiringi tubuh besar yang terpelanting, disambut perisai-perisai yang terkoyak menjadi kepingan. Peri-peri bertubuh kokoh, disapu bebatuan membara yang terus datang tanpa pengampunan, atau sejenak berhenti membiarkan hadirnya kesempatan. Rambut dan geligi meleleh, sisa tubuh lainnya justru beku. Serbuan batu antariksa amat panas terus ditelan udara musim dingin panjang, mendatangkan kekacauan yang bergejolak, kericuhan yang kalut, Namun, tidak satu pun dari prajurit langit gentar. Mereka (justru) menari bersama ledakan membentuk irama nada beriringan. Wajah mereka tidaklah lelah, apalagi gelisah. Mereka menusukkan tombak layaknya seorang bocah yang bermain di halaman rumah. Mereka biarkan tengkorak luluh-lantak, layaknya ibu yang menjalani rutinitas memasak tiap hari, mereka telantarkan tungkai yang terburai, layaknya pasangan muda yang menata ulang ruang makan.

Merekalah kaum yang temukan rumah di balik baju zirah.

Para Samsap, begitu Ahimsa sebut mereka. Yang bersumpah takkan mundur sebelum temui ajal.

Lagi-lagi aku hanya bisa berlari. Sesekali diam dibalik menara batu atau perisai tak bertuan. Namun perang ini terlalu ganas untuk bisa janjikan tempat bersembunyi. Betapa aku ingin berdoa, jika saja Tuhanku tidak memutuskan menculik Chiandra. Tempat ini terlalu bising. Aku terlalu ketakutan hingga nyaringnya melodi malam terasa berlipat ganda. Satu persembunyian ke persembunyian lainnya – balok-balok batu dari menara yang runtuh hampir meratakan kepalaku dengan tanah. Serpihan perisai yang terpecah tajam hampir memisahkan kepalaku dari tubuh. Aku yang terguling dan terhempas, berlarian ke segala penjuru sambil terus menepis arit Sang Kematian. Terus begitu sampai lelah menyadarkanku suatu fakta ; sengitnya serbuan Sang Kaisar tak akan berakhir dengan sembunyi.

Perlahan, dengan sedikit mengendap kulalui hujan batu berekor api. Tombak Sang Kucing yang tertinggal, terkubur di reruntuhan namun dapat dengan jelas kulihat. Tidak ada ruang untuk seekor anjing yang gemetar, pikirku. Mungkin saja masih ada tempat untuk seekor serigala. Mungkin.

Kukejar taringku. Mendapatkannya kemudian terus menyerbu ke Garis Depan, Bersisian dengan Sang Panglima Sampsap yang berdiri meneriakkan nyanyian, menabuh genderang sambil berkali-kali hujamkan pedang. Bersamanya aku angkat tombakku tinggi-tinggi. Ia melirikku, sungguh aneh melihat lengkung senyum di wajah seorang jenderal pasukan penjaga. Sampai juga dirimu, serigala. Ia menungguku. Kulihat sekelilingku yang juga perlahan mencuri tatap, menjadi saksi segala usahaku. Mereka semua menungguku. Maka, ketika mereka akhirnya mulai nyanyikan senandung perang Ahmisa yang terlarang, kusambut mereka dengan sebuah hujaman ke salah satu batu yang berjatuhan.

Serangan mereka yang dahulu ganas, sekarang menjadi tak terhentikan, Batu-batu sebesar bukit mereka belah menjadi serpihan hanya dengan beberapa ayunan. Aku berperang. Taraksa yang pengecut singsingkan tombak bersama tentara pelindung bumi. Warga desa pasti tak akan percaya. Bahkan kusungguh ingin tertawa.

Hingga datangnya raungan lain, raungan yang sama sekali berbeda dengan desing amarah antariksa.

Di salah satu celah tembok yang runtuh sepasang bola mata berkilat gelap. Bebatuan terus jatuh di sekitarku, menghancurkan barisan pasukan sebagaimana sebelumnya namun para peri seperti berhenti mempedulikan. Barulah kulihat ketakutan di wajah mereka. Barulah aku tahu bahwa susunan menara didirikan bukan sekedar untuk menahan bebatu angkasa. Tabir kabut tidak dilemparkan dengan susah payah untuk sekedar menghalau jatuhnya peluru langit. Binatang yang selama ini ditakutkan baru saja terbangun dari tidurnya.

Dengus nafas bergema menggetarkan seluruh sisi tembok. Auman kedua yang memekakkan telinga merobek dinding hingga ke sum-sum, membuat seluruh bangsa penjaga langit berenang dalam gemetar masing-masing. Namun, yang kurasa adalah denyut jantung yang terpompa cepat, lenguhan otot kaki yang tak sabar melompat, siap menerjang, darahku yang mendidih berteriak ‘serang’. Setiap bagian tubuh ini seakan telah siap bertemu takdir, akan saat ini, momen ini, ketika semua yang kurampas dari langit sebelumnya akhirnya akan diuji. Menyajikan tidak banyak pilihan, hanya dua. Maju atau mati.

Sebuah lolongan panjang kubalaskan untuk auman Zallaka. Diikuti oleh tabuhan perang yang kembali meletus, ketakutan yang pecah dan tergantikan oleh koar terakbar yang pernah tanah ini perdengarkan. Hari ini akan kami tundukkan Sang Pemenggal, akan kami robek kulit besinya dan kami cabut mata hitamnya dari kepala.

Hari ini kami akan mati tanpa perlu bangkit kembali.

Kutendang keras-keras pijakanku seperti pegas, otot-otot kakiku membuat tubuhku melesat cepat menuju garis depan. Di belakangku para peri berbaris sambil berjalan serempak. Derap langkah-langkah besar bertemu gemuruh hujaman senjata, para tentara yang menemukan gerbang surga telah di depan mata. Seketika udara abu-abu berubah menjadi kilatan kuning tak berhingga, seolah bangunan terbumbung di belakangku adalah kura-kura petir berekor puluhan juta. Para peri mulai lemparkan senjata.

Dan yang selanjutnya terjadi sama sekali tak tegambarkan. Kejadian hanya menjadi bersitan cahaya atau darah perak kaum peri yang bertebaran. Absurditas waktu melompat tak tertangkap, bergerak liar tak linear, memaksa ingatanku bertanya apakah satu peristiwa terjadi sebelum atau sesudah peristiwa lainnya. Benakku mengurut seorang peri yang mati sebelum terhunus, lidah yang meneriakkan gelora pertempuran setelah tenggorokkannya terkoyak, kehancuran bahkan sebelum penghancuran. Medan pertempuran yang menjanjikan tipu muslihat, membuatku pertanyakan akal sehat.

Hingga aku melihat seluruhnya usai. Tanah tandus berhiaskan ketiadaan. Angin dingin dan bebatuan panas serta asap yang tak lagi kental. Udara terlumat dan hamburan reruntuhan. Barisan tameng roboh tanpa sisakan satu pun yang berdiri.

Hanya Zallaka yang terhuyung-huyung, penuh luka namun menolak takluk.

Bunyi besi yang tertabrak kilat, tanda Sang Penempa belum cukup lemah untuk kalah. Ia tak akan pernah jatuh. Namun apa arti tumpukan senjata tanpa yang memegang gagangnya. Apa arti asap pembuta ketika tubuh telah tercecer dimana-mana, apa arti menara tanpa pelindung, arti medan perang tanpa pasukan yang berseteru.

Bisa jadi berarti aku.

Aku yang ditunggu. Ditunggu untuk menutup hari ini.

Menutup defile terakhir para peri dengan ganjaran kemenangan.

Kemenangan yang pertama. Kemenangan yang terakhir. Kubiarkan tubuhku bergerak dahului dari logika. Menerjang Sang Penebas Leher sembari abaikan diri yang nyatanya fana.

Dan hari itu selesai. Sepenggal momen keberanian dari serigala yang lapar membiarkan langit ini cicipi aroma kemenangan.

Aku yang tenang. Yang tak pedulikan hancurnya sekeliling penuh puing-puing.

Sebuah bola mata besar kucabut dari tengkorak, lempengan kulit keras kurobek dari tengkuk Sang Makhluk. Kuangkat bola mata yang beku, kubalutkan selimut kulit di sekujur tubuhku.

Semua demi lewati gerbang merah dengan jilatan api tak padam.

*Serial Taraksa adalah kisah yang terinspirasi dari petilan #nokturna. Digagas pertama kali oleh Majalah EPIK, cerita ini akan diangkat sebagai naskah seni pertujukan : Teater EPIK vol. 5. Cerita bersambung ini akan terus berlangsung sampai mendekati waktu pertunjukan. Hingga saat itu, kami akan turut memediasi cerita ini.

Info lebih lanjut :

@taraksa_
@majalahEPIK
www.facebook.com/TeaterEPIK
www.majalahepik.com