Permasalahan Klasik Uang Kuliah di Kampus Biru

Teks: Raden Muhammad Wisnu

Mahasiswa Jurnalistik 2012 Unisba

Dari tahun ke tahun, permasalahan yang sama selalu terulang. Ya, pembayaran uang kuliah di kampus biru. Pertama, adalah sistem pembayaran yang primitif. Dimana mahasiswa mengantri layaknya mengantri sembako di Student Center. Yang menjadi masalah, petugas yang sedikit tidak diimbangi dengan jumlah mahasiswa aktif Unisba yang berjumlah ribuan, serta tenggang waktu yang biasanya mepet. Ketidakseimbangan tersebut juga berimbas pada pelayanan yang kurang ramah, mungkin karena petugas juga kelelahan.

Seharusnya seperti kampus tetangga, dimana sudah menggunakan pihak ketiga seperti transaksi elektronik secara otomatis oleh bank yang diajak kerjasama dengan pihak kampus. Unisba memang sudah bekerjasama dengan pihak BRI Syariah untuk masalah ini, namun mengapa tidak seluruh mahasiswa tidak otomatis mendapatkan rekening saat pendaftaran mahasiswa baru seperti di kampus tetangga? Mengapa mahasiswa harus secara mandiri mendaftarakan untuk salah satu alternatif secara mandiri? Alih-alih mendaftar sendiri, mengapa tidak langsung saja dari awal menjadi nasabah BRI Syariah sehingga pembayaran tinggal menggunakan autodebet dan tidak harus mengantri berjam-jam?

Kedua, informasi pembayaran biasanya selalu dilakukan dengan cara yang kurang komunikatif jika ditinjau dari sisi komunikasi, dimana menggunakan spanduk di sudut kampus. Rasanya sebuah pemborosan ruang dalam pembuatan spanduk tersebut dan polusi pemandangan, kurang sedap dipandang mata. Dan kejadian yang selalu berulang-ulang, pembayaran pasti diperpanjang, dan akan ada spanduk pengganti baru dalam pemberitahuannya, masih di tempat yang sama. Lagi-lagi polusi visual serta pemborosan anggaran dalam pembuatan spanduk. Jika memang waktu pembayaran yang kurang dikarenakan ketidakseimbangna petugas dengan jumlah mahasiswa yang ribuan, mengapa tidak sejak awal tenggang pembayaran yang diperpanjang? Alih-alih melakukan perpanjangan tenggang waktu, Unisba selalu saja melakukan perpanjangan tersebut, lengkap dengan spanduk pengumumannya. Pada tahun ini juga fatal, tanggal 26 Desember adalah batas akhir pembayaran, namun diperpanjang dengan alasan cuti bersama Libur Natal. Dan lagi-lagi dengan menggunakan spanduk pengganti.

Unisba memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, saya percaya itu. Untuk apa Unisba memiliki Fakultas Ilmu Komunikasi, namun untuk informasi pembayaran uang kuliah tidak dilakukan secara komunikatif? Apakah Unisba tidak bisa menggunakan orang-orang di fakultas tersebut untuk melalukan komunikasi yang efektif untuk pembayaran? Sehingga tidak buang-buang anggaran dan menyebabkan polusi visual? Dan apakah Unisba sendiri tidak mengetahui adanya cuti bersama tanggal 26 Desember sehingga pembayaran diperpanjang? Lembaga sebesar Unisba tidak mengetahuinya?

Ketiga, penggunaan ruang Student Center selama beberapa minggu untuk pembayaran uang kuliah tentu saja mengganggu. Banyak agenda acara kegiatan kemahasiswaan seperti BEM, LKM dan UKM di kampus ini terganggu. Sudah mah ruangan ngan aya sakitu-kituna, ini dihambat oleh agenda rutin pembayaran uang kuliah, baik UKT, USKS maupun UPU. Mahasiswa jadi harus memutar otak apabila kegiatan mereka dibatalkan karena masalah tempat. Dan pihak kampus tidak mau pusing untuk mengusahakan tempat pengganti, karena memang tidak ada tempat pengganti karena keterbatasan lahan. Entah sudah berapa banyak acara lembaga kemahasiswaan kampus yang terpaksa batal atau diundur karena rebutan tempat dengan pembayaran uang kuliah.

Solusi dari masalah tersebut bisa langsung teratasi jika pembayaran sudah secara elektronik, dimana seluruh mahasiswa Unisba otomatis menjadi nasabah BRI Syariah, sehingga antrian tidak terjadi, dan ruangan Student Center dapat digunakan untuk kegiatan organisasi kemahasiswaan di kampus alih-alih hanya untuk pembayaran uang kuliah.

Masalah ini lebih pada kurang terbukanya pihak yayasan dan rektorat pada mahasiswa tentang arus kas universitas maupun yayasan, serta mahasiswa yang merasa pembayaran yang mahal tidak seimbang dengan fasilitas yang didapatkan. Sebagai catatan, kampus sebelah dengan pembayaran uang kuliah yang relatif sama nominalnya, mendapatkan fasilitas yang lebih banyak dan lebih nyaman baik dari gedung perkuliahan hingga kualitas pelayanan dan dosen.

Terakhir, kritik ini saya harapkan dapat membangun Unisba sehingga kedepannya dapat memberikan hasil yang lebih baik pada semua pihak. Kritik yang baik adalah kritik yang dilengkapi dengan solusi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *