[Artikel] Mapenta Capai Usia Tiga Puluh Lima Tahun

Oleh : Wisnu Permana

Tiga puluh lima  tahun sudah, usia dari Mapenta. Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Islam Bandung hadir di kampus biru ini. (15/12) nanti, salah satu LKM tertua di kampus biru ini akan berusia 35 tahun. Sudah banyak suka dan duka, serta prestasi yang sudah diraih oleh Mapenta Unisba. Pada tanggal 20 april 1978 sekelompok mahasiswa Unisba dari berbagai fakultas berkumpul mangadakan pertemuan untuk membentuk suatu perhimpunan mahasiswa pencinta alam yang dihadiri kurang lebih 20 orang mahasiswa. Hasil pertemuan itu sepakat, bahwa perhimpunan mahasiswa pencinta alam Unisba diberi nama Odyssey yang diambil dari nama seorang petualang atau pengembara dari Yunani yang sangat berjasa pada negaranya.

Mahasiswa pencinta alam Odyssey ini dalam waktu singkat langsung dikenal di kalangan pencinta alam se-Jawa Barat. Saat itu, karena secara kebetulan Odyssey mengutus enam orang anggotanya pada pertemuan dan latihan gabungan pencinta alam se-Indonesia. Kemudian disebut dengan Gladian Nasional pencinta alam se-Indonesia, yang diadakan pada bulan November 1978.

Himpunan yang saat itu dipimpin oleh Bapak Asmarajaya (M 001 PRS) berusaha mencoba mengajukan permohonan kepada pihak Unisba, agar secara resmi nama Odyssey dapat diterima dan sah sebagai wadah unit kegiatan mahasiswa pencinta alam unisba. Pada prinsipnya pihak kampus tidak keberatan untuk membentuk suatu perhimpunan mahasiswa pencinta alam di Unisba, namun yang tidak diperbolehkan oleh Universitas pada saat itu adalah penggunaan nama Odyssey yang dianggap mendewakan seseorang yang sangat bertentangan dengan syariat Islam.

Berdasarkan kesepakatan bersama, nama Odyssey diubah menjadi Mapenta, singkatan dari Mahasiswa Pencinta Alam. Setahun kemudian pada tanggal 15 Desember 1979 jam 00.00 WIB Mapenta resmi dan sah menjadi salah satu wadah unit kegiatan mahasiswa (UKM) di bidang kepencintaalaman di lingkungan unisba, dengan surat keputusan BPKM No.85/SK/DOR/BPKM/XIII/1979. Tentu saja, setelah perjalanan selama 35 tahun, banyak suka dan duka yang telah dilalui oleh Mapenta. Namun, hal tersebut yang menjadikan kekeluargaan dan persaudaraan antar anggotanya begitu erat. Jika engkau ingin melihat karakter seseorang yang sesungguhnya, maka ajaklah dia naik gunung. Memang benar, tidak heran persaudaraan di Mapenta begitu erat, karena masing-masing dari mereka telah mengetahui karakter masing-masing, tanpa ada yang ditutup-tutupi.

Berbagai prestasi telah dicapai oleh LKM ini, baik tingkat universitas maupun prestasi eksternal, baik itu tingkat nasional maupun internasional. Bertepatan dengan ulang tahun ke-34 Mapenta, juga ulang tahun ke-55 tahun Unisba, Mapenta Unisba telah melakukan ekspedisi ke Lobuche East, salah satu dari ratusan gunung di Pegunungan Himalaya, Nepal.

Namun pada intinya, bukanlah berapa banyak puncak gunung yang telah ditaklukkan, namun bagaimana menaklukkan diri sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana kita melawan diri sendiri dari rasa malas, itulah yang sulit. Outdoor Leadership telah lama dipergunakan untuk membentuk kepemimpinan dan karakter seseorang menjadi tangguh, baik di kalangan militer maupun sipil sejak berabad-abad yang lalu. Karakter tersebut tidaklah mudah untuk dibentuk. Bukanlah tugas dari kami yang membentuk leadership, kami hanya mengarahkan saja. Alam yang membentuk karakter seseorang.

Bagaimana dia melawan dirinya sendiri dalam mendaki gunung yang terjal, melawan rasa malas karena kedinginan di gunung. Selain itu, bagaimana dia melawan dirinya sendiri di tengah tekanan badai di gunung es, problem solving ketika kehabisan makanan di tengah hutan, dan cara untuk survival dan escape dari setiap permasalahan yang hanya bisa dilakukan di alam terbuka. Itulah inti dari semua perjalanan yang Mapenta lakukan selama ini.

Sejatinya mendaki gunung adalah kehidupan. Bagaimana mencapai puncak (tujuan hidup). Dalam proses itu, harus dipersiapkan segala perbekalan makanan, logistik, hingga persiapan fisik dan mental. Perjalanan panjang menuju puncak, semakin tinggi, semakin ganas angin (rintangan hidup) yang harus dihadapi. Di puncak gunung sana, ada orang yang bersujud akan kebesaran Tuhan, ada juga yang mengeluhkan perjalanan panjang tersebut dan kapok untuk naik gunung, ada juga yang takabur dan menjadi sombong, mentertawakan saudara mereka yang tidak bisa mencapai puncak. Demikian juga dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang bersyukur pada kesuksesannya, yang mendekatkan diri pada Tuhan, namun ada juga yang takabur dan menjadi sombong setelah meraih kesuksesan.

Dalam mendaki gunung, tidak ada yang bisa menolongmu, selain dirimu sendiri. Namun, bukan berarti kita mendaki gunung seorang diri. Maksudnya disini adalah, modal utama dari mendaki gunung maupun kehidupan sehari-hari ada di dirimu sendiri! Sejatinya manusia adalah pemenang, karena sejak awal kita adalah pemenang, kita adalah sel sperma yang menang, menaklukkan sel sperma lainnya dan masuk dalam ovum. Namun dalam kehidupan kita, terkadang kita tidak menyadari hal tersebut.

Setelah mencapai puncak, adalah bagaimana kita turun kembali. Sebagian besar kecelakaan dalam pendakian terjadi saat turun. Selain karena medan yang terjal dan licin, disebabkan oleh kesombongan kita setelah menaklukkan puncak gunung. Demikian dalam kehidupan, banyak orang yang tergelincir saat sudah di puncak karirnya karena rasa sombong maupun keteledoran diri sendiri. Sejatinya lebih mudah untuk naik gunung, dibandingkan untuk turun gunung.

Filosofi mendaki gunung dalam Mapenta adalah, bukan bagaimana puncak tersebut didaki. Akhir sebuah perjalanan adalah kembali pulang dengan selamat di rumah. Bila tidak bisa menaklukkan puncak gunung, tak usah dipaksakan, pikirkan bagaimana kembali pulang dengan selamat di rumah. Dalam hidup, sesungguhnya adalah gerak pulang, kembali pada Yang Maha Kuasa. Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk ”pulang” dengan ”selamat” pada Yang Maha Kuasa, itulah hal terpenting dan menjadi tujuan akhir kita. Semoga tulisan singkat ini dapat menjadi sebuah evaluasi bagi kita semua. Selamat ulang tahun Mapenta ke-35! Bravo Mapenta! Itikad baik dan harga diri!

 

Penulis merupakan anggota dari LKM Mapenta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *