[Editorial] Menguliti Makna Ta’aruf di Kampus Biru

Mahasiswa meninggalkan Unisba usai Ta’aruf hari kedua di Jalan Tamansari No. 1, Kota Bandung pada Selasa (4/9/2018). (Vigor/SM)

Perjuangan itu bukan proses penderitaan menuju tujuan, tapi proses memantaskan diri untuk mencapai tujuan.

Ingatkah kalian dengan pelopor kebangkitan perempuan pribumi bernama Raden Adjeng Kartini? Semasa hidupnya, kita ketahui perempuan kelahiran Jawa Tengah ini dikenal dengan perjuangannya, berupa emansipasi wanita. Kumpulan surat-suratnya yang ditelurkan R.A Kartini; ditujukan bagi sahabatnya di ‘Negeri Kincir Angin’. Suratnya pun dikenal sampai saat ini “Door Duistermis tox Licht” atau biasa disebut “Habis gelap terbitlah terang”.

Masanya itu, sungguh betapa besar perjuangan Kartini untuk melindungi kaumnya dari diskriminasi. Buku yang dicetuskan pun akhirnya menjadi pendorong semangat bagi para wanita untuk memperjuangkan hak-haknya. Tidak hanya soal menulis, Kartini pun saat itu mendirikan tempat memborong ilmu sebanyak-banyaknya; sekolah di Jepara dan Rembang.

Layaknya perjuangan pahlawan masa lampau, sebanyak 3.292 mahasiswa baru Unisba berjibaku untuk menghadapi masa Ta’aruf yang berlangsung sejak Senin (3/9) dan berakhir pada Kamis nanti (6/9).

Namun, yang perlu digarisbawahi adalah bentuk nyata, yang mahasiswa dapatkan dari Ta’aruf. Sebelum menyongsong menjadi mahasiswa seutuhnya, Unisba selalu mengagendakan Ta’aruf sebagai sarana menjalin ukhuwah antarsesama civitas akademika (rektorat, yayasan, dosen, mahasiswa).

Jika ditengok pada hari pertama, mahasiswa baru memasuki babak pengenalan universitas dari petinggi kampus yang berujung pada dilantiknya ribuan mahasiswa Unisba. Dilanjut hari kedua yang menitikberatkan pada mahasiswa mengenali seluk-beluk organisasi di Kampus Biru.

 

Pejuang Pahlawan Masa Kini: Kita Sendiri

Selama kegiatan Ta’aruf, mahasiswa harus rela datang pagi – pulang sore hari. Bentuk awal perjuangan sebagai mahasiswa baru. Selama kegiatan, mahasiswa harus duduk santai, kata Ta’aruf. Lalu mendengarkan gagasan dari pemateri yang saling bergantian. Lantas jika disimak, celah masih banyaknya mahasiswa yang terlihat tidur ataupun asyik sendiri saat pemateri menyampaikan gagasan.

Apakah para mahasiswa dapat mencernanya lalu mengaplikasikan dari lingkup Unisba yang bermoto 3M (Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid)? Atau Mustahil?

Setelah menyelesaikan Ta’aruf, mahasiswa belum bisa bersantai karena selanjutnya Pelatihan Pengembangan Pribadi Muslim (P3M). Kegiatan yang dinamai Ta’aruf fakultas ini diinisiasikan langsung oleh universitas dan dikembangkan melalui fasilitator atau instruktur.

Mahasiswa dari tiap fakultas bergabung menjadi satu kelas untuk mengisi nutrisi keilmuan dari mentor. Untuk menutup lubang kebosanan dari mahasiswa; diselingi dengan games. Selamat datang di P3M!

Dulu, mungkin kita mengenal sosok Thomas Alva Edison yang dicap sebagai penemu terbesar sepanjang sejarah. Di usia yang baru menginjak 11 tahun, dirinya sudah mampu membangun laboratorium kimia sederhana. Sesuatu yang teramat langka ditengok masa ini.

Kegiatan Ta’aruf selalu saja dihiasi oleh hal unik. Salah satunya adalah Wardah Nurul ‘Izza. Mahasiswa Fakultas Farmasi ini didaulat sebagai mahasiswa termuda di angkatannya; 16 tahun. Ceritanya, ia mengikuti program akselerasi saat SMP karena iseng. Kisahnya yang melalui jalur pendidikan cepat, menjadi awal langkahnya menjejaki pendidikan berikutnya, Unisba.

“Bahagiakan orang tua, ikhlas dalam menjalankan sesuatu,” kata mahasiswi yang ingin lulus tepat waktu. Seyogyanya, sebagai mahasiswa patut menyontohkan apa yang dilakukan Wardah. Seperti pepatah yang menyebutkan “Ada niat berarti setelahnya ada jalan”.

Prosesi Ta’aruf yang berlangsung selama empat hari menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru mencapai ke-Islam-an yang hakiki. Jika menengok kata mutiara dari tahun ke tahun yang begitu diimani Unisba tercantum dari lirik lagu; tentunya mengingat kalau gelaran bukan tujuanmu!

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *