[Editorial] Kualitas! Kualitas! Kuantitas!

Kenaikan kuota yang ditargetkan oleh Bagian Humas Unisba, memang sejalan dengan prediksi sebagian besar ahli mengenai demografi Indonesia kedepannya. Urgensi kependudukan ini baiknya dapat dipahami seksama, terutama bagi instansi pendidikan macam Unisba ini. Bila tidak, bukan hanya ‘si biru’ yang akan menanggung akibatnya, berikut negara pun siap-siap kehilangan  kualitas dari jajaran pemuda. Mengingat Human Development Index kita saat ini masih berada di posisi 111 dari 182 negara di dunia, lain di tinggkat ASEAN, Merah Putih hanya mampu bertengger di urutan ke 6 dari 10 negara. 

Walau Demographic Devident ditargetkan akan membludak di rentang tahun 2020 hingga 2030 mendatang. Bagi sejumlah instansi pendidikan, fenomena Bonus Demografi ini sudah mulai terasa. Bukan hanya Unisba, Unpas pun mengalami kejadian serupa, dari 9.000 target mahasiswa baru yang diincar, saat ini kurang lebih 10.000 jiwa telah terdaftar, dan masih berpotensi bertambah, mengingat gelombang penerimaan mahasiswa yang ke-3 belum terlaksanakan. Lain cerita dengan Unisba, kampus biru menargetkan 3.000 mahasiswa saja di tahun ajaran 2015-2016 ini. Naik sekitar 433 jiwa dibanding jumlah penerimaan mahasiswa 2014 lalu. Namun, jumlah infansi tak sebanding dengan angka sarjana yang ditelurkan, fasilitas penunjang baik bangunan maupun SDM pengajar.

Adalah Theodore Schultz di awal 1960-an yang mengemukakan ide tentang pentingnya investasi di sektor pendidikan untuk meningkatkan output di bidang perekonomian. Ia pun menunjukan pada perkembangan ekonomi AS, sebagian besar disumbang dari modal kualitas manusia. Senada dengan ide pendahulunya, Becker (1992) pun melanjutkan bahwa investasi manusia dapat digerakan di sektor pendidikan, pelatihan dan pemeliharaan kesehatan.

Sejatinya, Bonus Demografi dapat dimanfaatkan negara sebagai ajang meningkatkan perekonomian negara. Di mana angka penduduk produktif (15-64 tahun) jauh melebihi jumlah non-produktif (<15 atau >64). Namun, bak pisau bermata dua, Bonus Demografi bisa saja menjadi bencana, bila penduduk usia produktif itu tidak dikelola secara baik. Sedikit fakta yang dibeberkan Badan Pusat Statistik 2013 lalu, adalah sebanyak 0,92 persen pemuda di Indonesia tidak bisa membaca dan menulis atau buta huruf. Miris! Untuk itu pula, baiknya instasi pendidikan macam Unisba ini, bisa menampung kenaikan jumlah pendaftar, tanpa mengesampingkan kualitas SDM lulusannya.

Selasa, 18 Agustus 2015

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *