Resensi

I Felt A Funeral in My Brain

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penulis : Will Walton

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 309 halaman

Tahun penerbitan : 2018

Bagaimana cara kamu menghadapi sebuah kehilangan dalam hidupmu? Mungkin kita bisa belajar dari Avery, seorang remaja yang bergulat dengan musim panas yang paling menyulitkannya. Novel karya Will Walion ini mengisahkan kehidupan Avery. Ketika ia sedang mencari jati dirinya, Avery pun harus dapat berkompromi dengan kehidupannya dan menyatukan semuanya, mulai dari arti persahabatan, ibu yang mengecewakannya, dan kepedihan tak terpahami menyusul kematian orang yang dicintai.

Bagaimana kita menavigasi kematian dan kehidupan, ketika satu-satunya peta yang kita miliki adalah diri sendiri. Saat hidup Avery yang serba kelabu, musik pop, puisi serta cinta yang kompleks nan tulus, adalah kekuatan yang justru menyelamatkan hidupnya. Yuk tandai novel ini ke list to read kamu!

 

Entrok

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penulis : Okky Madasari

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 288 halaman

Tahun penerbitan : 2010

“Apa aku salah kalau sejak lahir aku nggak kenal Gusti Allah? apa aku yang salah kalau dari dulu hanya tahu bagaimana berterimakasih pada leluhur?” tangis Marni pecah.

Novel Entrok yang berati bra atau pakaian dalam ini menyajikan kisah seorang ibu dan anak, Marni dan Rahayu. Sumarni dilahirkan sebelum bangsa ini merdeka, menyadari payudaranya yang mulai tumbuh marni bertekat untuk membeli entrok.

Bagi seorang buruh pengupas singkong entrok merupakan barang yang mustahil untuk dimiliki. Tak mau menyerah, Marni menjadi kuli di pasar. Hari demi hari, uang berhasil ia kumpulkan. Bersama Simbok, Marni akhirnya dapat membeli entrok.

Marni menikah dengan seorang kuli yang ia kenal di pasar. Bersama suaminya, Marni mencari uang mulai dari pengupas singkong, kuli, tukang panci, hingga rentenir. Suaminya yang pemalas dan senang bermain wanita membuat Marni ingin berpisah.

Namun Marni harus mengurungkan niatnya sebab ia tak ingin membagi dua hartanya bila perpisah. Atas semua kenikmatan yang ia peroleh Marni selalu memanjatkan syukur pada leluhurnya. Cemo’ohan sebagai rentenir dan pemuja iblis Marni hiraukan.

Rahayu kecil terus tumbuh, terbentuk diera yang serba mudah dan pendidikan yang tinggi serta pemeluk agama yang taat membuat Rahayu melawan ibunya.

Tak tahan dengan cemo’ohan yang sering ia terima, Rahayu dewasa semakin menganggap Marni musyrik. Hubungan ibu dan anak ini semakin dingin semenjak Rahayu menikah. hmm biar nggak penasara dengan kelanjutan novel karya Okky Madasari ini mending baca bukunya langsung guys..

 

Christopher Robin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sutradara: Marc Foster

Pemeran: Ewan McGregor, Orton O’Brien, Hayley Atwell, Bronte Carmichael, Mark Gatiss, Jim Cummings, Chris O’Dowd, Brad Garrett, Toby Jones dan Nick Mohammed

Masih ingatkan sama sosok anak kecil yang berteman baik dengan Winnie the Pooh? Yap Christopher Robin (Ewan McGregor), Agustus mendantang Disney akan mengudarakan versi live-action-nya. Dalam trailernya kita bakalan melihat petualangan Christopher Robin dewasa. Kini ia telah memiliki seorang istri dan anak perempuan yang lucu.

Dalam trailernya Christopher harus menghadapi tekanan untuk membantu majikanya menyelamatkan Winslow Enterprises, berbagai kendala ia temui. Kalau dalam versi klasiknya ia berada di Hundred Acre Wood, kali ini Christopher dalam kehidupan nyatanya didatangi oleh teman-teman binatang semasa kecilnya. Lokasi penggarapan film ini diambil di London.

Gimana nih? Film ini berasa mengajak penonton setia Winnie the Pooh bernostalgia bersama. Jangan lupa yah ajak keluarg dan teman semasa kecil buat nonton film ini.

 

Professor Marston & The Wonder Woman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sutradara: Angela Robinson

Pemeran: Luke Evans, Rebecca Hall, Bella Heathcote, Connie Britton, Over Platt, Allie Gallerani, JJ Field, Alexa Havins, Maggie Castle Conroy

“Perang tidak akan terjadi jika wanita menguasai dunia dan pria mencoba menjadi seperti perempuan.” Kira-kira begitu pemikiran yang muncul dari Professor Marston, seorang tokoh utama laki-laki yang menciptakan wonder woman. Film Profesor Marston and the wonder woman akan menarik ke-super heroan wonder woman yang penuh fantasi pada dunia yang riil dan lebih ilmiah.

Tokoh wonder woman dalam cerita ini terbentuk bukan karena memiliki kekuatan super di mana bisa melawan monster jahat. Sebuah alur hidup yang dinamis mempertontonkan bagaimana perempuan menjadi seorang manusia yang kuat dalam realita kehidupan. Dengan latar psikologi film ini mampu memperlihatkan wonder wonder dari dimensi lain. Konflik cinta yang rumit dan anti mainstream akan membuat penonton geleng-geleng kepala saat menonton film ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *