Pujangga

Dongeng Semangkuk Bubur

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

OLEH SALSABILA PUTRI PERTIWI

FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI 2014

Di tempat ini, mengaduk bubur adalah hal terlarang. Yoga tahu, tapi ia tetap terkejut saat sekelompok massa menggerebek gerobak tukang bubur tempatnya makan kala itu.

“Bubar, bubar! Tidak boleh ada bubur yang diaduk di sini!” seru mereka sambil mulai mengobrak-abrik lapak tersebut, “Berantas pengaduk bubur!”

Si tukang bubur terperanjat, sementara para pelanggan mulai kasak-kusuk panik. Ada yang langsung lari terbirit-birit. Yoga lekas melirik ke arah mangkuk buburnya, juga beberapa pengunjung lainnya, yang telah mencampuradukkan bubur mereka. Beberapa telah ludes dilahap, jadi mereka agak lebih beruntung. Ia bergeming di tempat. Seorang bertopi dari kelompok itu mendatanginya.

“He, kau!” ia membentak Yoga, “Kau apakan buburmu itu?”

“Diaduk,” jawab Yoga singkat, “Ada masalah?”

“Ada masalah?”

“Lho, ya, jelas ada!” lelaki itu berkacak pinggang, “Tahu aturan di sini, kan? Bubur tidak boleh diaduk.

Itu merusak tatanan telur, kecap, sambal, seledri, daging ayam suwir, bawang goreng, dan kerupuk di atasnya.

Sudah ditaburkan sedemikian rupa, lha, malah kau ratakan dengan bubur putih itu.

Lihat ini,” ia meraup sesendok bubur kecoklatan dari mangkuk Yoga, kemudian menuangkannya kembali, “Kau sebut ini bubur? Tahu ini apa? Muntah… Seperti muntah, tahu, jorok! Membosankan! Tidak estetis sama sekali.”

Tahu apa orang ini soal estetika? Yoga membatin kesal. “Itu keterlaluan, Pak.

Yang kami lakukan hanya mencampurkan bubur dengan bahan-bahan pelengkapnya. Toh, bubur ada untuk dimakan pada akhirnya; di mana letak dosanya? Bubur yang tidak diaduk akan menimbulkan rasa yang tidak merata.

Ragam cita rasanya berlangsung dalam beberapa suap pertama, sementara sisa bubur di bawahnya hanya akan menjadi bubur polos biasa.”

“Bubur dan segala kelengkapannya diciptakan dengan tingkatan-tingkatan rasanya sendiri. Jangan menyalahi kodrat itu!”

“Persetan dengan kodrat! Bukankah tidak adil, tidak semua bagian dalam semangkuk bubur memiliki rasa yang sama?”

Lelaki bertopi pun melotot. “Malah membantah, kamu!” sergahnya, “Itu aturan dari Raja—langsung dari atas sana!”

“Atas mana,” ejek Yoga, “Akhirat? Toh, Raja tak pernah kembali ke tempat ini sejak kerusuhan terjadi beberapa tahun yang lalu. Jangan-jangan ia kabur agar kebiasaannya mengaduk bubur tidak terbongkar.”

“Kurang ajar,” hardik si lelaki bertopi; ia memberi tanda kepada kawan-kawannya untuk mendatangi tempatnya mengonfrontasi Yoga, “Tangkap pemberontak ini! Jangan sampai ia menodai singgasana Raja menjelang kepulangannya dengan celotehan tentang bubur menjijikkan itu!”

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di dalam penjara, Yoga menyaksikan para tahanan silih berganti. Ada yang tampak pasrah, ada yang kebingungan, ada yang melawan, bahkan ada yang telah babak belur. Sepertinya operasi aduk-bubur masih berlangsung.

Suatu hari, ia kedatangan tamu tak terduga di sel tahanannya. Sipir datang dan menjebloskan seorang pemuda ke dalam sel Yoga, kemudian mengunci kembali pintu jeruji itu dengan suara berdebam. Yoga memandang penghuni baru tersebut dengan tidak percaya.

“Yogi?”

Pemuda bernama Yogi itu (bukan kembaran atau adikku, tambah Yoga, kami hanya kebetulan bernama mirip) langsung mendongak.

Sorot mata yang awalnya menunjukkan kemarahan berganti menjadi kekagetan.

“Bang Yoga!” serunya, “Kau tertangkap juga, eh?”

“Begitulah,” jawab Yoga, “Bagaimana situasi terakhir di luar?”

Yogi pun duduk bersandar pada tembok. Yoga bisa melihat darah mengering di sudut bibirnya.

“Kacau, tapi rapi,” ujar pemuda itu, “Kau tahu maksudku, Bang. Operasi berjalan semakin gencar. Yang mengaduk bubur ditangkapi—beberapa di tempat umum, tapi lebih banyak yang diam-diam.

Aku termasuk yang kedua. Mungkin agar masyarakat tidak panik dan menimbulkan pertanyaan atau perlawanan besar. Khas pengikut sang Raja,” kemudian, “Oh, ya. Sudah dengar beritanya, belum? Kabarnya, Raja akan pulang.”

Yoga menghela napas panjang. “Pantas saja,” katanya getir, “Para abdi itu ingin terlihat kinclong di hadapan Raja tentunya.”

“Ya… Kalau benar ia kembali.”

“Apa maksudmu, Gi?”

“Kabar kepulangan Raja masih simpang siur, sebenarnya. Kabar burung. Ada yang bilang, Raja sudah dalam perjalanan pulang. Ada pula yang mengatakan kalau Raja justru tak ada itikad untuk kembali. Namun tentu segala upacara penyambutan telah dipersiapkan dengan matang oleh para pengikutnya ‘yang paling setia’,”

Yogi mencibir, “Mereka telah menggelar pesta menjelang penyambutan sebelum aku ditangkap.

Rakyat pun mulai dilatih untuk bersimpuh di sepanjang jalur kepulangan Raja. Dan, jelas sudah, operasi aduk-bubur juga menjadi bagian dari persiapan ini.”

“Terlepas dari kebenaran kabar Raja yang akan kembali ke sini?” “Ya. Lagipula, siapa lagi di sini yang masih percaya kebenaran?”

Mereka tak berkata apa-apa selama beberapa saat. Suasana kembali sunyi. Sesekali terdengar derap kaki di luar ruang tahanan. “Padahal hanya perkara semangkuk bubur yang diaduk…” Yogi kembali membuka mulut, kali ini bergumam kepada diri sendiri, “Ketidaksukaan atas sesuatu dapat terjadi sejauh ini, eh? Diaduk atau tidak, toh, bubur akan habis juga.

Ini semua soal selera. Kita ini bagai seledri, ayam suwir, dan rekan-rekannya yang disingkirkan karena seseorang tidak suka berbagai tambahan tersebut. Bedanya, kita dipidana karena mencampurkan semua tambahan itu agar menyebarkan rasa yang sama pada bubur yang hendak dimakan.”

Yoga mendengarkan ocehan Yogi sembari terkekeh pelan. “Tidurlah, Yogi. Tampaknya kau lelah.”

“Raja batal pulang! Berita terhangat! Akibat wangsit spiritual, Raja menyatakan batal pulang!”

Sayup-sayup suara loper koran di luar penjara membuat Yoga dan Yogi tersentak. Mereka saling berpandangan penuh tanya.

“Batal pulang?”

“Wangsit apa?”

Sebelum mereka sempat menjawab pertanyaan masing-masing, penghuni sel di seberang mereka bersuara.

“Raja batal pulang,” ujar orang itu, “Kabarnya sudah berseliweran sejak kemarin. Nyatanya, memang Raja tak pernah benar-benar berkata akan kembali ke sini. Aku sudah berusaha memberitahu orang-orang, akan tetapi para ajudan Raja justru menjebloskanku ke sini tadi malam.”

“Kau sendiri siapa? Tahu dari mana kabar itu?”

“Oh, aku Rio. Wartawan koran lokal,” Rio menjawab, “Kami telah lama curiga karena Raja tak pernah mengatakan waktu persisnya ia akan pulang. Berita tentang wangsit itu tulisanku. Menurut laporan yang kami curi-dengar dari percakapan dua pengikut Raja, ia sedang bersemedi ketika mendapat ‘anjuran’ untuk tidak kembali ke sini karena situasi tidak kondusif.

‘Pengaduk-bubur’ masih berkeliaran, katanya,” ia berdecak keras, “Aku langsung menuliskan segala hal yang kudengar setelah mengonfirmasi dari salah satu orang dalam kami yang menjabat sebagai staf ahli kerajaan.

Sial, akhirnya aku ditangkap dan dituduh anti-kerajaan. Tapi setidaknya beritaku naik cetak.” “Lalu,” tanya Yoga, “Bagaimana dengan ketentuan mengenai bubur yang selama ini makin didisiplinkan jika Raja saja urung pulang?”

“Kurasa teror ini abadi, bukan begitu?” Yogi mengedikkan bahu, “Atau justru akan lebih terang-terangan diterapkan. Bagaimanapun caranya supaya Raja bisa pulang ‘dengan tentram’, barangkali itu yang dipikirkan oleh para pengikutnya.”

“Itu,” tambah Rio, “Atau ada maksud lain: memanfaatkan titah Raja terkait bubur yang tidak boleh diaduk supaya lebih banyak orang yang bisa ditendang jauh-jauh. Dengan kabar bahwa Raja tidak jadi kembali akibat alasan keamanan, pengikutnya bisa menggunakan alasan itu untuk ‘membersihkan’ lingkungan mereka.”

Mereka terdiam.

“Itu gagasan yang mengerikan,” ungkap Yoga, “Bahkan perkara bubur saja dipolitisasi, heran.”

“Ah,” keluh Rio, “Semua persoalan bubur ini membuatku ingin makan satu atau dua mangkuk bubur.”

“Diaduk?”

“Tidak. Aku tidak suka bubur yang diaduk.”

Keheningan menyelimuti mereka dengan canggung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *