Perjalanan

Pesona Wisata di Selatan Kaki Gunung Gede Pangrango

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ditandai dengan bagian Selatan Gunung Gede Pangrango dan berakhir di pesisir pantai kidul, mampu membuat Sukabumi menyuguhkan surga wisata alam yang memanjakan mata. Kudapan khasnya pun sayang untuk di lewatkan.

TEKS DAN FOTO ABYAN ARRASID

Di akhir bulan Januari, bersama tetesan air hujan menambah dinginnya kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Cukup merogoh kocek Rp 18.500 di hari libur saya sudah dapat memasuki semua wisata alam. Sedangkan pada hari biasa tiketnya seharga Rp 16.000.

Dari gerbang utama, jalan menuju tempat parkir dipagari hutan pinus yang tinggi menjulang. Untuk menuju danau, saya berjalan menuruni bukit sepanjang 400 meter. Dari kejauhan saya mendengar lantunan suara merdu dari alat musik tradisional sunda, Bangbaraan. Alat musik itu dilantunkan oleh pria yang mengenakan pangsi, ikat sunda didahinya serta membawa tas anyaman dari bambu.

Setibanya saya di Situgunung terlihat perahu rakit untuk menyusuri area danau. Tak jarang ditemui hewan-hewan liar yang hidup disini seperti lutung, musang bahkan babi hutan. Pengunjung juga bisa melakukan tracking melingkari situ gunung melalui jalur khusus yang sudah di sediakan. Namun saat saya berkunjung fasilitas ini ditutup karena hujan beberapa waktu lalu, cukup beresiko untuk melakukan tracking. Terdapat tempat wisata yang lain yaitu Curug Cimanaracun yang hanya dapat di akses melalui jalur tracking ini. Sayangnya obyek Curug Cimanaracun kurang diminati karena akses jalan tracking cukup sulit untuk dilalui.

Asep Solehudin seorang warga lokal bercerita, danau ini dibuat oleh seorang pangeran dari Kerajaan Mataram yang memberontak pihak Belanda. Namanya Mbah Jalun, ia melarikan diri bersama istrinya dengan menelusuri hutan Gunung Gede Pangrango hingga akhirnya tiba di daerah sini dan menetap. Beberapa lama kemudian lahirlah putranya yang merupakan anak pertama. Mbah jalun kemudian membuat danau ini dalam rangka mensyukuri kelahiran anaknya. “Dengan menggunakan alat sederhana seperti kulit sapi, Mbah Jalun membuat Situgunung ini yang artinya danau yang berada di gunung,” ucapnya.

Selesai menikmati suasana Situgunung saya bergegas kembali mengambil kendaraan untuk menuju ketempat Curug Sawer, masih di area Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Saya kembali menitipkan motor di pos pertama gerbang masuk Situgunung. Terlihat pengunjung sudah mulai banyak berdatangan.

Akses perjalanan menuju Curug Sawer hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Tibalah saya dikawasan curug, Jalan berlumpur bekas hujan turun menuntut pengunjung untuk ekstra hati-hati dalam menempuh perjalanan. Saat saya di kawasan curug, cipratan air curug menguap hingga terasa dari kejauhan. Dikelilingi oleh pohon pinus, dingin dan sejuk sangat terasa dari alam. Tidak lain karena air yang jatuh dari ketinggian 35 meter terhempaskan, sehingga keseluruh penjuru curug secara acak seperti saweran.

Memaknai Potensi Alam Bukit Gunung Sunda

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keesokan harinya, saya memasuki area wisata bukit Gunung Sunda, bertempat di perkampungan Jambelaer, Cisaat. Terlihat bendera merah putih di atas bukit saat saya menjajaki pintu masuk kawasan tersebut. Akses menuju puncak bukit ini hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki. Untuk bisa masuk ke kawasan ini dikenakan biaya sebesar Rp 2.000 per orang. Jarak yang ditempuh menuju puncak bukit sekitar 800 meter dari pintu masuk.

Setibanya di puncak, hal yang pertama saya lihat adalah tugu bambu bertuliskan “#SaveGunungSunda” yang tertancap tepat di titik tertinggi. Di bawah tulisan tagar tersebut terdapat kata-kata “Kami hanya ingin anugerah tuhan tetap terjaga tanpa terenggut paksa penguasa dan pengusaha nan serakah”. Di balik tulisan tersebut, memiliki peristiwa yang memilukan. Kawasan tersebut terjerat masalah sengketa oleh PT Holcim yang merupakan sebuah perusahaan semen besar di Indonesia. Perusahaan tersebut membuat surat peringatan untuk menghentikan segala aktivitas pariwisata.

Hingga saat ini status sebagai tempat pariwisata masih dipertahankan oleh warga setempat. #SaveGunungSunda ini sempat ramai diperbincangkan melalui media sosial pada tahun 2016. Tagar tersebut diusungkan oleh pemuda dalam rangka menyelamatkan lahan bukit, mewakili penolakkan masyarakat lokal terkait tindakan eksploitasi yang masih dilakukan pihak perusahaan.

Sangat disayangkan jika proses eksploitasi berupa pengerukan terus dilakukan, maka Gunung Sunda ini tinggal sejarah. Padahal di bukit ini menyuguhkan pemandangan panorama Sukabumi. Bahkan, jika cuaca mendukung terdapat view point berupa menara dari kayu untuk melihat pemandangan Gunung Gede dan Pangrango secara utuh dari ujung ke ujung.

Setelah puas melihat dan mengambil foto pemandangan alam hingga 360 derajat saya memutuskan kembali turun bukit untuk beristirahat. Ketika di bawah, saya mengunjungi kedai kopi yang saat itu sepi pengunjung. Hujan deras, saya segera berteduh dan memesan secangkir hot latte untuk menghangatkan badan. Sambil menikmati, saya berbincang dengan seorang barista bernama Aiman Fatarhman.

Aiman bercerita, pada awalnya gerakan menyelamatkan bukit Gunung Sunda dipelopori oleh dua orang kakak beradik Dede Rizal dan Faris Rahmat. Hingga pada tahun 2015 kawasan ini dibuka sebagai tempat wisata, Aiman berharap nasib bukit ini menjadi lebih baik. “Bukit ini memiliki potensi pemandangan yang menjadi daya tarik tersendiri,” ujarnya.

Mencicipi Kudapan Lembut Khas Sukabumi, Mochi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disetiap perjalanan, hampa rasanya jika tidak membawa buah tangan dari tempat yang telah dikunjungi. Saat menyambangi Sukabumi tidak lengkap jika melewatkan oleh-oleh dari Sukabumi, mochi. Kudapan ini dapat ditemui disalah satu kawasan penghasil mochi terbaik yang berada di Jalan Bhayangkara gang Kaswari, Cikole, Salabatu kota Sukabumi. Kawasan ini menjadi pelopor kudapan mochi.

Saat mengunjungi kawasan tersebut, saya berkesempatan memasuki salah satu tempat produksi mochi ternama di kota ini. Ketika memasuki ruangan produksi terlihat para pekerja bersenda gurau saat melakukan aktivitasnya. Bangunan yang bertingkat tiga tersebut, diperuntukkan khusus pembuatan mochi, dari mulai pengadonan hingga pengemasan.

Dalam rumah produksi tersebut, terdapat 30 orang pekerja setiap harinya. Setelah selesai berkeliling, saya bertemu dengan Ayi Firvriyadi yang merupakan salah satu anggota keluarga pemilik mochi ternama di kawasan tersebut. Ia pun sempat bercerita bahwa mochi ini sudah ada sejak tahun 1983 yang dikenalkan oleh penjajah Jepang di masa kolonialisme.

Dari waktu ke waktu, pengemasan mochi ini sendiri menjadi semakin modern, yang awalnya menggunakan anyaman bambu dan kini beralih menggunakan kertas karton. Di tengah perbincangan, saya pun disuguhkan satu wadah yang berisikan mochi dengan empat varian rasa yakni kacang, durian, coklat, dan suji pandan. Tanpa menunggu waktu lama, saya pun langsung menyantap si manis yang kenyal khas Sukabumi ini. Rasa coklat yang meleleh di mulut, membuat saya tertarik untuk membeli sekotak mochi rasa coklat dengan harga Rp 40.000.

Berakhirlah perjalanan saya di Sukabumi. Banyak pengalaman baru saya dapat di sini. Namun saya rasa belum puas, masih banyak tempat wisata yang belum saya jajaki. Memang benar, Sukabumi ini jadi surga wisata. Terkhusus dengan alamnya yang menyegarkan. Saking banyaknya, destinasi pariwisata di Sukabumi tidak kunjung habis untuk di datangi. Tak lupa kudapan lembutnya, buat saya ingin singgah ke kota ini lagi.

Itulah Sukabumi, kota dengan segala keindahan dan keunikanya. Potensi alam Sukabumi tak akan bisa dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia, bila Bali memiliki pantai yang eksotis ,Yogyakarta memiliki candi–candi megah. Kota Sukabumi memiliki wisata alam yang menawan untuk disinggahi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *