Jendela Hati

Berhenti ‘tuk Sikap Apatis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagi seorang muslim apatis terhadap sesuatu yang negatif adalah tidak benar. Muslim seharusnya respek dan peka karena punya kewajiban berdakwah agar dampak negatif itu tidak menyebar lebih luas.

OLEH KOMARUDIN SHALEH

DEKAN FAKULTAS DAKWAH UNISBA

Ada orang yang berpandangan bahwa apatis merupakan sikap yang negatif, pandangan tersebut suatu kewajaran karena, secara teoritis istilah apatis diartikan tanpa perasaan, dalam psikologi diartikan “ketidak pedulian”. Pandangan itu tidak dapat mutlak disalahkan, juga belum tentu kebenaran yang hakiki. Ketika sesorang apatis terhadap sesuatu yang berdampak negatif itu merupakan bentuk proteksi diri agar tidak terjebak dalam situasi buruk dan merugikan diri.

Bagi seorang muslim apatis terhadap sesuatu yang negatif adalah tidak benar. Muslim seharusnya respek dan peka karena punya kewajiban berdakwah agar dampak negatif itu tidak menyebar lebih luas.

Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa yang melihat kemungkaran (yang pasti berdampak negatif), maka ubahlah dengan tanganmu (kekuasaanmu), bila tidak mampu dengan tanganmu. Ubahlah dengan lisanmu (tabligh), bila tidak bisa dengan lisanmu. Maka ubahlah dengan hatimu (do’a) dan itu selemah-lemah iman”. HR. Muslim no. 78).

Seseorang yang bersikap apatis terhadap sesuatu yang positif adalah sebuah kekeliruan atau penyimpangan kepribadian. Karena orang itu akan menjadi manusia yang egois, individualis, dan keras hati.

Mahasiswa adalah generasi pengusung Iptek dan moral, yang harus jadi motor penggerak lahirnya berbagai produk budaya dan peradaban baru, yang sarat dengan kecerdasan, nalar keilmuan, penuh inovasi, dan kaya pernuh kreatif. Lahir dari perguruan tinggi atau universitas sebagai lembaga ilmu pengetahuan, riset (penelitian), dan pengabdian. Hingga akhirnya dapat memberi warna baru dalam kehidupan sosial masyarakat yang mampu memelihara marwah universitas. Itulah peran mahasiswa, selain pimpinan dan dosen.

Seorang mahasiswa di sebuah universitas besar, yang tekun dengan studinya saja, dan apatis terhadap kegitan kemahasiswaan, tipe itu hanya dapat sukses menyelesaikan studi lebih cepat dari teman-temannya. Sikap seperti itu hanya untuk kepentingan dan kesenangan hidup diri, atau orang tuanya sendiri. Mahasiswa tersebut akan menjadi orang yang egois, dan kuper, senang sendiri, pencemburu, dan emosional. Bahkan frustasi saat dia minta bantuan orang lain, karena akan sulit jika dia mengeksklusifkan diri, padahal manusia tidak bisa itu makhluk sosial.

Unisba memotivasi seluruh mahasiswanya untuk peka. Tidak boleh apatis terhadap situasi sosial yang terjadi, terutama dengan perspektif ajaran Islam sebagai, pijakan awal hati berniat, akal berpikir, dan kaki melangkah.

Sebaiknya hindarkan diri dari sikap apatis terhadap apa yang terjadi, karena dalam ajaran Islam “Sebaik-baik manusia adalah yang banyak memberi manfaat bagi orang lain”.

Wallahu a’lam bish-showab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *