Budaya

Ragam Ungkapan Rasa Syukur di Desa Cikondang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Istiadat tentu sulit dipisahkan dari masyarakat tradisional. Dilakukan secara turun temurun, sebuah kegiatan menjadi tradisi yang wajib dilestarikan. Seperti halnya Kampung Cikondang, Kabupaten Bandung yang mempertahankan tradisi. leluhurnya.

TEKS DAN FOTO MUHAMMAD SODIQ

Nama Cikondang diambil dari kata ‘ci’ berarti nurani dan ‘kondang’ yaitu terkenal yang dinamakan oleh pendatang asal Cirebon. Mereka datang untuk berdakwah pada abad ke-16. Tidak ada yang tahu pasti mengenai identitas para pendatang. Namun, warga sekitar menganggapnya sebagai leluhur dan menyebutnya dengan Uyut Istri dan Uyut Pameget.

Kedatangan saya disambut oleh Ilin Dasyah. Abah Ilin, panggilannya, mengatakan warga kampung rutin melakukan ritual Wuku Tawun. Tradisi ini merupakan wujud syukur kepada Tuhan dan leluhur yang telah memberikan lahan pertanian, tempat tinggal serta mata air.

Persiapan Wuku Tawun berlangsung sejak tanggal 1 sampai 14 Muharam setiap tahunnya.

Sekitar 170 warga setempat berpartisipasi menyiapkan hidangan untuk acara puncak pada 15 Muharam. Perempuan menumbuk padi huma, sawah, dan ketan di lisung (perkakas tradisional).

Sedangkan pria kurang lebih memotong 100 ayam kampung. Nantinya bahan makanan dicampur bumbu dan rempah-rempah pemberian warga luar Kampung Cikondang. Selain itu disajikan pula kue tradisional seperti ampengan ketan, opak, wajit, dan rujak si manis madu.

Hasil tumbukkan padi diolah menjadi sekitar 220 tumpeng. Terdapat tiga jenis tumpeng yang wajib dihidangkan; padi huma berisi ayam berbulu abu-abu, padi sawah dengan ayam berbulu hitam, dan padi ketan berisi ayam berbulu putih.

“Perbedaan bulu ayam memiliki makna masing-masing; hideung (hitam) yang bersinonim hideng (giat) berarti rajin, putih artinya suci, dan abu-abu jangan serakah,” jelas pria berumur 83 tahun itu.

Selain Wuku Tawun, warga Kampung Cikondang pun rutin melakukan upacara Hajat Lembur. Upacara tersebut merupakan ungkapan raya syukur terhadap kelancaran mata air yang dilakukan setiap bulan Safar.

Beranjak dari rumah Abah Ilin, saya bertemu Djuhana sang juru kunci Kampung Cikondang. Ia mengajak saya mengunjungi Hutan Larangan. Dulu, hutan tersebut digunakan tempat berdiskusi orang Cirebon ketika akan berdakwah. “Mereka merancang strategi berdakwah di hutan ini,” tutur pria berpenampilan adat Sunda tersebut.

Hutan larangan sangat dijaga kelestariannya, terlihat dari aturan yang megikat. Siapapun yang masuk ke hutan harus melepas alas kaki. Waktu berkunjung pun hanya diperbolehkan pada Senin, Rabu, Kamis, dan Minggu. Pada Selasa, Jumat, dan Sabtu hanya keturunan leluhur yang diperbolehkan masuk.

Konon, di tahun 1942 terjadi kebakaran di dalam hutan yang menyisakan satu rumah adat. Hingga saat ini rumah tersebut masih berdiri kokoh. Bentukan rumah hingga kini masih seperti dulu. Beratap julang ngapak (bentuk atap rumah yang melebar di kedua sisi), berbahan kayu bambu dan ijuk, lima jendela beserta teralis, dan satu pintu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Rumah berbahan kayu alasannya menghindari penggunaan bahan dari tanah, lalu lima jendela artinya waktu ibadah, sembilan teralis simbol jumlah walisongo, dan satu pintu yang berarti ‘dari sana pulang ke sana’,” kata Djuhana.

Djuhana bertutur kehidupan warga masih kental dengan adat Sunda-nya. Sebagai contoh, rumah panggung berdiri berdasarkan adat Sunda yakni bangunan tersebut tidak menggangu kondisi tanah. “Nu lamping diawian, nu datar mah prak imahan, nu legok mah dibalongan (tanah miring ditanam bambu, tanah datar dijadikan rumah, tanah cekung dijadikan kolam).”

Warga Kampung Cikondang pun peduli dengan masalah lingkungan hidup. Sambil menunjukkan pin Gerakan Hejo yaitu simbol program pemulihan lingkungan hijau Jawa Barat, Djuhana mengatakan Kampung Cikondang merupakan demontration plot karena warganya antusias dengan pertanian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *