Bidik

Bantu Permasalahan Sosial Indonesia Melalui Matahari Kecil

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial di Indonesia melalui pendekatan pendidikan dan Keagamaan,” begitulah bunyi tujuan komunitas Matahari Kecil.

TEKS PUSPA ELISSA

FOTO DOK. PRIBADI

Setelah melewati padatnya Kota Bandung kala itu, ditemani pula asap tebal bus Damri. Aku sampai di Jl.Gading Barat III No.14 Arcamanik, tujuanku menyambangi Komunitas Matahari Kecil (Matcil). Satu bangunan berwarna abu menyambut, melongok aku pada kaca bangunan itu, ku dapati siswa-siswi berseragam putih biru yang sedang duduk rapih.

Usai mereka keluar, aku pun berkeliling melihat suasana isi bangunan itu bersama seorang siswi bernama Wati. Ia memperlihatkan dua rak buku tertata rapih yang mereka sebut perpustakaan. Terlihat pula hiasan dinding bertuliskan SMP Terbuka Gading Regency. “Sekolah ini ada karena kakak – kakak Matahari lho,” pamer gadis polos itu.

Puas melihat bangunan itu, tak ku dapati ketua dari komunitas itu, hingga aku pulang dengan banyak pertanyaan. Seminggu usai kedatanganku, kami pun bertemu di kawasan Raden Patah Dago, Bandung.

***

Setelah melewati hujan aku tiba di kedai kopi yang telah dijanjikan. Terlihat pemuda berambut gondrong melambaikan tangannya. Itu dia Amora Juna Ketua Matcil Bandung, sontak aku menghampirinya. Jabatan tangan hangatnya menjadi awal perbincangan kami.

Ditemani alunan musik pop, pemuda itu mulai bercerita. Matcil yang berawal dari inisiatif ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), Dede Trisnahadi beserta Karang Taruna daerah Gading Regency, Bandung melakukan survei ke Parakaan Saat. Dengan wajah muram ia menceritakan ternyata disana banyak anak yang tidak melanjutkan pendidikan. “Bahkan tidak bersekolah,” jelasnya.

Amora mengungkapkan, DKM beserta Karang Taruna memutuskan untuk membentuk SMP Terbuka yang berinduk ke SMP 8 Bandung. “Soalnya syarat sekolah terbuka itu, harus ada sekolah negeri sebagai induknya.”

Sekolah terbuka itu berdiri pada Agustus 2015. Terhimpunlah 14 murid dan pengajar yang berasal dari warga beserta Karang Taruna daerah Gading Regency. Terlukis senyum di bibirnya, ia mengatakan, kala itu mereka masih belajar dengan fasilitas dan lokasi yang seadanya. “Mereka belajar di teras masjid dan masih menggunakan meja lipat,” ucap mahasiswa Public Relations, Universitas Padjadjaran itu.

Setelah sekolah terbuka berjalan selama dua periode, Ketua DKM mengeluhkan tentang identitas mereka. Amora beserta Yaser, Rafi dan Levin membentuk komunitas ini agar memiliki identitas dan kepengurusan yang benar.

“Matahari kecil, Matahari itu gunanya banyak banget untuk kehidupan manusia. Kenapa kecil? maksudnya kita membantu orang lain ga harus nunggu jadi seseorang dulu untuk berbuat. Memulai dari yang kecil juga bisa,” paparnya menjelaskan asal-usul nama komunitas itu.

Selanjutnya, Amora menuturkan bahwa Matcil sudah bercabang ke daerah Jakarta. Namun, di Jakarta Matcil memperjuangkan TK, yang sebelumnya akan digusur karena menggunakan tanah fasilitas umum, milik masyarakat. Melihat itu, Yaser memutuskan untuk mendirikan Matcil di daerah Kebon Kacang, Jakarta. “Tapi, Yaser sekarang menjadi ketua Matcil Indonesia. Sebelumnya dia ketua di Jakarta, sekarang diambil alih sama Noval.”

Sampai lah mengenai program yang Matcil sudah lakukan. Di antaranya, Langkah cahaya, Tiga hari dekati agama. Ada juga program pengembangan minat baca. “Program itu melibatkan para ahli dari satu bidang, bertujuan memberi benefit positif,” jelasnya sambil mengelus rambutnya.

“Gimana nih, tetehnya tertarik ga buat jadi tim komunitas Matcil,” goda pemuda yang kerap melukiskan senyum di wajahnya itu.

Di akhir perbincangan kami, Amora melengkapi perbincangan kami dengan salah satu pencapian Matcil. Anak didik Matcil, Rehan berhasil mencapai prestasi lomba pidato dan diundang Pemerintah Jepang. “Sebenarnya banyak pencapaian besar komunitas Matcil, adanya sekolah terbuka itu termasuk pencapaian besar kami juga.”

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi orang lain. kita hidup jgn mikirin diri sendiri tetap berbagi dan berguna buat orang lain,” itulah kalimat penutup Amora.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *