Belahan Dunia

Bhutan, Negeri Terbahagia di Dunia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Hati senang walaupun tak punya uang,” Koes Plus, Bujangan.

TEKS INDAH NURAZIZAH

FOTO NET

Terdapat sebuah negara di Asia Selatan yang dijuluki sebagai negara paling bahagia di dunia, padahal tanahnya tidaklah subur dan hasil tambangnya pun tidak banyak, bahkan pendapatan warganya cukup rendah.

Ya Bhutan, negara ini terlelak di bawah pegunungan Himalaya, di mana wilayahnya terhimpit antara India dan Republik Tiongkok. Selain itu negara ini juga memiliki julukan sebagai Druk yul, yang artinya ‘Negara Naga’.

Secara Historis, Bhutan telah dihuni sejak awal 2000 SM. Namun sejarahnya tidak begitu jelas karena sebagaian besar catatan telah musnah setelah kebakaran di Punakha, ibu kota kuno pada 1827. Peristiwa juga menulis, paling awal di Bhutan adalah lewatnya tokoh suci Buddha Padmasambhava yang disebut Guru Rinpoche pada abad ke-8. Dalam perkembangan politik pun Bhutan sangat dipengaruhi oleh sejarah religiusnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tahun 2005, melalui ciptaanya yakni ‘Model Bhutan’, negara ini menjadi perhatian berbagai media besar seantero dunia. Konsep ini, memfokuskan perhatiannya terhadap perkembangan yang seimbang antara materi dan spiritual. Perlindungan terhadap lingkungan hidup dan proteksi terhadap kebudayaan tradisional diletakkan di atas perkembangan ekonomi dan standar untuk pengukuran perkembangan yaitu Gross National Happiness (GNH).

Teori GNH yang diusulkannya ini memperoleh perhatian seksama masyarakat internasional, juga menjadi tema pelajaran ilmu ekonomi yang digandrungi para pakar dan institut penelitian di berbagai negara. Konsep baru yang diusung sebagai pandangan negara maju di abad-21 ini, ternyata Bhutan diam-diam telah menjalankannya selama hampir 30 tahun.

Hal itulah yang mendasari penduduk Bhutan menjalani kehidupan yang bahagia, tidak ada tindak kriminal serta lingkungan yang sehat membuat Bhutan dikenal sebagai negara yang bahagia. Selain itu, yang membuatnya bahagia dan damai adalah selalu memikirkan dan mengingat kematian selama lima menit setiap hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bhutan juga disebut sebagai ‘Shangrilla di kaki gunung Himalaya’ yang 97 persen rakyatnya menganggap diri mereka sangat berbahagia. Kebahagian itu berasal dari iman dan kosep tahu-cukup, bukan dari pemuasan nafsu dunia yang fana. Negara inipun beranggapan bahwa kemiskinan yang sesungguhnya adalah apabila tidak mampu beramal kepada orang lain dan sudah sangat puas dengan hanya memiliki sawah dan rumah.

Kebahagian Bhutan pun berasal dari Jigme Singye Wangshuck IV, mantan raja yang tidak mendahulukan perkembangan ekonomi melainkan mendirikan sebuah negara yang berbahagia sebagai amanah jabatanya, dengan kesetaraan, kepedulian dan konsep ekologi. Meski menjadi salah satu negara terkecil di dunia, kini ekonomi Bhutan telah berkembang pesat sekitar 8 persen pada 2005 dan 14 persen pada 2006. Per Maret 2006, pendapatan per kapita Bhutan menjadi tertinggi se-Asia Selatan dengan US$1.321.

Negara ini juga memiliki mata uang yang namanya cukup aneh, Ngultrum adalah mata uang Bhutan sejak tahun 1974. Ngultrum dibagi menjadi 100 chhertum jika nilainya disetarakan dengan Rupee India. Negara ini juga memiliki banyak sekali benteng-benteng atau yang biasa di sebut Dzong dalam bahasa setempat dengan arsitektur indah yang masih berdiri megah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dengan keunikan dan keyakinanya, berhasil membuat negara dan penduduknya bahagia. Masyarakat Bhutan menganggap bahwa yang membuat kehidupan bernilai, bukan karena berlimpah materi melainkan hidup tenang secara spiritual dan kaya akan kebudayaan. Oleh karena itu, tidak salah jika Bhutan dijuluki sebagai negara yang paling bahagia di dunia berdasarkan Gross National Happiness.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *