Mengenal dan Mencegah Ancaman Pedofilia

Ilustrasi: Pedofil

Suaramahasiswa.info, Unisba – Akhir-akhir ini Masyarakat Indonesia digegerkan oleh sebuah grup Facebook pedofilia, bernama “Official Candy’s Groups”. Hal ini terungkap ketika pihak berwenang mendapat pengaduan dari masyarakat, hingga akhirnya para tersangka yang menjadi aktor utama di dalam grup tersebut berhasil tertangkap.

Tidak main-main, grup tersebut memiliki pengikut sebanyak 7000 lebih. Di dalamnya, anggota dapat saling berbagi konten; gambar dan video ketika melakukan kejahatan seksual pada korbannya. Juga, saling bertukar pengalaman dan cara untuk mendapatkan korban.

Geram dan kesal. Itulah berbagai respon  yang bermunculan di masyarakat. Wacana untuk mengkebiri ‘predator anak’ pun kini muncul kembali. Tidak ketinggalan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terkait kasus ini meminta pertanggungjawaban dari pihak Facebook sebagai pemilik produk media sosial.

Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Indonesia

Menilik sejarah kemunculannya, dalam artikel ilmiah yang berjudul “Pedofilia Kekerasan Seksual: Masalah dan Perlindungan Anak” yang ditulis oleh Ratih Probosiwi dan Daud Bahransyaf mengungkapkan, kasus pedofilia mulai ramai diperbincangkan di Indonesia pada tahun 2001. Yakni pada kasus seorang turis asal Italia, Mario Manara yang mencabuli sembilan bocah di Pantai Lovina, Buleleng, Bali. Namun Manara saat itu hanya diberi hukuman penjara selama sembilan bulan. Musababnya tidak ada payung hukum yang melindungi persoalan ‘pedofilia’.

Pasca kejadian tersebut, dibuatlah Undang-Undang perlindungan anak sebagai payung hukum untuk mencegah tindak kekerasan seksual pada anak. Namun, tindak kekerasan seksual terhadap bocah di bawah umur tak kunjung selesai. Terhitung pada awal kasus 2001, kejadian pedofilia bahkan hampir terjadi setiap tahun. Sampai masyarakat Indonesia dihebohkan oleh kasus pencabulan anak di Jakarta International School (JIS) dan kasus Emon pada tahun 2014. Di tahun itu pula pemerintah menetapkan, sebagai tahun Darurat Nasional Perlindungan Anak dari Kejahatan Seksual.

Masih dalam artikel ilmiah “Pedofilia Kekerasan Seksual: Masalah dan Perlindungan Anak”, berdasarkan data yang dipantau Pusat Data dan Informasi Komisi Nasional Perlindungan Anak diketahui pada tahun 2013 terjadi kasus kekerasan terhadap anak sebanyak 1.620 kasus. 817 kasus atau 51 persennya merupakan tindak kekerasan seksual terhadap anak. Beberapa latar belakang kasus kekerasan seksual di antaranya karena pengaruh media pornografi sebanyak 81 kasus (8 %), terangsang oleh korban 178 kasus (17 %), hasrat tersalurkan sebanyak 298 kasus (29 %).

Pedofilia dari Pandangan Psikolog

Suara Mahasiswa mewawancarai Wakil Dekan II Fakultas Psikologi Unisba, Eni N. Nugrahawati perihal pedofilia serta pencegahannya. Menurut Eni, ketertarikan seksual seorang pedofil kepada anak kecil; yang biasanya masih di bawah SMP, di latar belakangi karena anak kecil tidak akan mengancam pelaku serta mudah diperdaya. Pula, faktor lingkungan bisa menjadi alasan lain tindakan pedofilia bisa terjadi.

Eni memberikan beberapa cara–kepada orang tua khususnya–untuk mencegah tindak pedofilia. Pertama, ajari anak untuk tidak mau disentuh oleh sembarang orang sekalipun kerabat terdekat. Kedua, orang tua harus meminimalisir dalam mengunggah foto anak, kecuali dengan pakaian tertutup. Ketiga, jangan mudah percaya kepada orang-orang, termasuk keluarga. Dan terakhir, orang tua dianjurkan untuk mengikuti parenting class.

“Karena saat parenting class kan orang tua diajarkan bagaimana menghadapi anak harus seperti apa,” ungkap Eni yang juga Kepala Pusat Pelayanan Psikologi dan Pengembangan Kepribadian (P4K) Unisba. (Insan dan Wulan/SM)

Share Button