Individu (belum) Merdeka

Pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) sedang berjalan setelah menurunkan bendera di Lapangan Gasibu Bandung, pada Rabu (17/8). Dalam upacara tersebut Gubernur Jawa Barat bertindak sebagai inspektur upacara. (Dokumentasi SM)

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”

Suaramahasiswa.info, Indonesia – Begitu kira kira ucap Soekarno puluhan tahun ke belakang. Apakah hal tersebut masih diamini oleh muda-mudi dewasa ini? Tak bisa dielakan, bahwa ada segelintir pemudi-pemuda yang mengharumkan nama bangsa melalui berbagai cara. Ada yang menggeluti teknologi, otomotif, terorisme, prostitusi, bahkan narkotika.

Beberapa waktu yang lalu, saya berdiskusi dengan beberapa teman asal Jatinangor, kami membahas suka duka mahasiswa era sekarang. Dahulu, mahasiswa memerangi hal yang sama, ketidak-adilan. Indonesia, memerangi kapitalis bersama-sama. Ya, Indonesia sempat ‘jaya’ karena memiliki musuh yang sama. Pemuda sempat jaya ketika memerangi masa pemerintahan Soeharto. Sekarang? Melawan siapa? Perang melawan narkoba Nyatanya, manusianya dibunuh kemudian sistem dan kepalanya dibiarkan hidup makmur dan terus berkembang subur.

Mari membayangkan, Indonesia merupakan seorang wanita berusia 71 tahun. Ia telah menjadi saksi banyak hal menarik yang terjadi di belantara nusantara. Pertikaian demi sepetak tanah, berebut pulau dengan negara tetangga, konspirasi budaya, dan banyak lagi. Mungkin, rakyat negeri ini dilanda euforia nasionalisme hanya ketika budayanya diakui negara tetangga, atau saat atlet bulu tangkis masuk final kejuaraan internasional.

Wanita renta ini, menonton dari balik jendela. Tak bisa apa-apa ketika hartanya dieksploitasi gila-gilaan. Tak bisa melawan ketika keperawanannya dijual ke negeri tetangga. Tak bisa balas mengutuk, ketika harga diri bangsa dipertaruhkan. Mungkin, anak mudanya terlalu nyaman menikmati selfie dengan barang impor nan menawan. Tak peduli lagi, walaupun mungkin lagi, almarhum para pahlawan menangis di sana karena sejahtera dan makmur yang dulu mereka perjuangkan, kini hanyalah sebuah sejarah untuk dikenang, bukan dipertahankan.

Wanita lainnya, barasal dari Korea Selatan. Ia lahir di tahun yang sama dengan wanita asal Indonesia. Apabila dilihat dari luar, mungkin wanita kulit kuning dengan mata sipit ini lebih menarik dan bahagia. Bukan berarti pesimis dan menjatuhkan negara sendiri, semoga Indonesia mampu bersaing baik secara kreatifitas maupun finansial, dengan negara-negara sebayanya.

Saya sempat menanyakan perihal kemerdekaan secara individual. Adakah sebuah patokan nyata mengenai kemerdekaan itu sendiri? Diakui. Ya, sebagai manusia bentuk pengakuan dari orang lain tentu menjadi pokok penting. Bagi saya, tidak ada kemerdekaan yang ideal. Manusia pada umumnya memiliki tuntutan yang berbeda-beda. Agama, yang menuntut untuk tidak melakukan hal-hal tertentu. Hipotalamus sebuah bagian otak, yang menuntut kita memenuhi rasa lapar. Tidak ada manusia merdeka, kecuali mereka yang (punten) memiliki masalah kejiwaan, atau dalam Bahasa Arab disebut maj’nun. Mereka adalah manusia-manusia merdeka dari tuntutan apapun, bahkan dari diri sendiri. Mereka bisa bertelanjang di mana pun, tidur di mana pun, makan apapun, bahkan mereka bisa memaki siapapun yang mereka mau. Mereka adalah bentuk kemerdekaan yang sesungguhnya, merdeka secara emosional dan rasional.

Itu merdeka menurut saya, banyak merdeka-merdeka menurut orang lain. Salah satunya, Adew Habtsa. Ia adalah sosok budayawan yang kerap aktif di Museum Konferensi Asia Afrika. Menurutnya, kemerdekaan secara individu adalah menjadi sosok yang damai dan tidak menjadi ancaman bagi siapapun, kemerdekaan itu adalah jalan panjang berliku demi mencapai puncak indah tertinggi.

Ya, menilai kemerdekaan merupakan sesuatu yang subjektif. Barangkali, para terpidana hukuman mati itu merdeka di jalannya. Para pasangan sesama jenis yang menikah di negeri sana, merdeka juga di jalannya. Para sastrawan, merdeka lewat tulisan mereka. Dan seniman, merdeka saat menetaskan karya mereka.

Jadi, di hari kemerdekaan Indonesia ini. Apakah kita secara manusia, sudah menjadi individu yang merdeka? (Raisha H./SM)