Ini Tanggapan Presma, Terkait Skorsing Mahasiswa Telkom

Dua orang mahasiswa melakukan aksi teatrikal dengan tema demokrasi dan kebebasan akademik di Gedung Sate, Sayap Timur, Jalan Cisanggarung No. 2, Bandung, Jawa Barat. Aksi ini dilakukan untuk menuntut pencabutan skorsing terhadap mahasiswa Telkom University (Tel-U), Selasa (14/03/2017). (Meilda/SM)

Suaramahasiswa.info, Unisba – Komite Rakyat Peduli Literasi menggelar konferensi pers terkait skorsing mahasiswa Telkom University (Tel-U) terhadap perpustakan jalanan yang dianggap menyediakan buku-buku berpaham komunis. Bertempat di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan, aksi berbentuk solidaritas ini dilakukan pada Rabu (15/3).

Terkait hal itu, menuai tanggapan dari Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Islam Bandung (Unisba) yang turut menghadiri konferensi pers tersebut. Muhram Fauzi mengatakan, kebijakan yang dilakukan pihak rektor (Tel-U) ini dianggap seperti pembungkaman terhadap mahasiswa. Pasalnya, rektor dinilai tidak objektif untuk melandasi Surat Keputusan (SK) atas  skorsing yang diterima tiga mahasiswa tersebut. 

“Saya pribadi kecewa dengan SK yang diterima oleh tiga mahasiswa tersebut. Dalam islam pun membebaskan penganutnya membaca buku asalkan masih sesuai dengan koridornya,” jelasnya.

Pihak Badan Eksekutif Mahasiswa (BEMU) Unisba pun belum bisa memutuskan untuk pengambilan sikap kejadian ini. Menurut Fauzi, hal tersebut perlu  dikaji terlebih dahulu dengan musyawarah sebagai bentuk menguatkan aspirasi mahasiswa dalam pergerakan. “Hal ini harus dikecam agar pemerintah atau siapapun bisa menghargai kemerdekaan manusia serta  keharusan universal dari setiap manusia itu sendiri.”

Agar kejadian ini tidak kembali terulang, Fauzi mengantisipasinya dengan cara mendiskusikan bersama rekan-rekan mahasiswa. “Jika mahasiswa itu tidak peka terhadap apa yang terjadi terhadap lingkungan sekitar maka yang paling  penting itu harus dilakukan penyadaran melalui diskusi. Masalah ini berefek kepada mahasiswa,” ujarnya. Fauzi  mengharapkan, mahasiswa sudah sepatutnya menjadi agent of change dengan melakukan gerakan-gerakan perubahan dan tertanam dalam diri mahasiswa. (Intan/SM).

Share Button