Category Archives: Mosas

Akhir dari Tanah Indah di Ujung Pelangi

Tarikan nafas kian lama, kian tak berima. Imaji gelap, buram, muram, dan segalanya yang terasa menyayat hati terkumpul dan begitu menyesakan dada. Fiuuh… asap-asap ini masih saja menari-nari di sekeliling, seolah mengajak

Si Pemuas Nafsu

Oleh: Indiana Primordi Abriansyah Ada yang bersembunyi ada yang datang lalu pergi ada yang hinggap untuk memaki bahkan sampai ada yang ber-dramaturgi berkelana tuk mendapat mangsa bermain demi sebuah harta memanjakan hasrat

[Puisi] Izinkan Aku

Oleh : Bobby Agung P. Izinkan aku memandangi perangai manismu Izinkan aku menguasai interaksi apa yang tak kuasa kau tuju Izinkan aku menjadi dambaanmu tanpa ada spektrum semu Izinkan aku menempa diri

Jeritan Proletar Untuk Demokrasi

Oleh: Nahjul Istihsan Demokrasi Sedang hangat diperbincangkan Di tanah Ibu Pertiwi Kami atas nama kaum proletar Hidup Kami Pun Terlantar Nafkahi anak dan istri terasa sulit Lantaran ekonomi terus menghimpit Perdebatan di

Cahaya

Oleh : Fadhillah Dzikri* Ia abstrak, yang ku nikmati hanya warna dan kehangatannya. Entah berapa banyak dentuman membuat ia melalui abstraksi. Terkadang ia indah, terkadang busuk. Ia seolah berbanding lurus dengan energi

[Puisi] Langit Biru

Oleh: Fadhillah Dzikri* Lanskap luas segala imajinasi dan harap bergantung. Menari hingga biru menyetubuhi semburat oranye. Awan adalah saksi yang menertawakan sementara ilalang tersenyum. Jemari mengait dan bersenggama hingga meracau. Kupu-kupu penuhi

Hilang

Oleh : Fadhillah Dzikri*   Sebuah angan palsu ledakkan akal sehat berselimut semu. Kecewa menjadi teman semalam yang butakan alur inspirasi. Diri yang kosong memaksa akal berbuat sesuatu. Akal pun enggan dan

Aku Yang Buta

Aku yang buta… Hitamkan bayanganku Buramkan penglihatanku Goyahkan pikiranku Lengah… Aku yang buta, hanya diam Aku yang buta, tak pernah karam Aku yang buta, selalu terpejam Aku yang buta, hanya tahu malam