Profanatik – Deadsquad (2013)

Lama menanti, akhirnya unit brutal death metal asal Jakarta Deadsquad, secara resmi merilis album terbaru mereka bertitle “Profanatik” pada 29 November lalu. Album kedua dari band yang dihuni oleh Daniel Mardhany (vokal), Stevie Item (gitar), Coki Bollemeyer (gitar), Boni Sidharta (Bass), dan Andyan Gorust (Drum) ini memiliki konsep yang berbeda dengan album terdahulu mereka.

Dalam album ini, mereka terlihat lebih lepas dalam memainkan setiap part musik yang mereka mainkan. Penulisan lirik lagu di album ini pun terkesan lebih menyindir terhadap fanatisme berlebih terhadap sesuatu hal dan tidak ada unsur amarah seperti yang mereka perlihatkan di album perdana mereka berjudul “Horror Vision”.

“Ode Kekekalan Pusara” didaulat menjadi ayat pembuka dalam album berisikan delapan lagu ini. Diawali intro yang yang dihiasi balutan petikan gitar dan gesekan violin yang mencekam, layaknya merepresentasikan potret kelam negeri ini. Resonansi gitar dengan tempo cepat dan skill tingkat dewa dipadupadankan dengan dentuman drum yang bisa membuat jantung berakselerasi tak beraturan.

Di ayat kedua mereka menempatkan “Anatomi Dosa” sebagai anthem kedua. Konsep musik tidak jauh beda, balutan brutal death metal masih kental terasa di lagu ini. Para pendengar pun masih belum akan berhenti untuk terus memutar leher mereka mengikuti resonansi gitar dan drum dengan distorsi dan hentakan yang terus bergema.

“Natural Born Nocturnal” kejutan mereka berikan di lagu ini untuk para pasukan mati. Bagaimana tidak, unsur musik death metal yang kelam dari awal lagu disisipi permainan solo gitar dari musisi jazz kenamaan Joppie Item. Dia mengisi part pada pertengahan lagu ini dengan komposisi gitar dengan balutan musik Jazz yang cukup mendominasi.
“Merakit Sakit” tema kekecewaan dan rasa sakit yang mendalam terhadap sesuatu hal kental tercurah dalam lirik lagu yang menjadi ayat keempat dari album ini. “Patriot Morak Prematur” ini adalah lagu yang menceritakan tentang representasi mereka terhadap tindakan anarkisme dari para ormas-ormas yang bertindak seenaknya dan bertingkah seperti tiran dengan mehalalkan kekerasan atas nama kebaikan.

“Altar Eksistensi Profan” Lagu yang pas untuk para hamba pecandu kekuasaan yang seenaknya menjadikan para kaum proletar sebagai pion industry yang dipaksa menjadi pemuas nafsu mereka yang tak pernah menemui ujung.

“Misantorpis” Lagu yang menjadi visualisasi tentang geliat modernisasi yang semakin militan mengikis norma lama dan menciptakan dogma baru yang membentuk masyarakat di zaman ini. Hal tersebut menjadi masyarakat yang apatis dan skeptis terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Apa lagi, kemajuan teknologi yang semakin hari semakin menunjukan tanda kemajuan yang sebenarnya menjadi awal dari kehancuran dunia, dan menjadi tanda dari repetisi dari peradaban baru yang tak mengenal kata ramah tamah dan nilai-nilai kesopanan.

“Jurnal Gagak” menjadi ayat terakhir dari album ini, lagu ini menceritakan tentang bagaimana masyarakat sekarang benar-benar sudah dirasuki oleh pemberitaan sampah dari para tiran media yang menjunjung tinggi panji kapitalisme. (Septian Nugraha/Kontributor)