Menutup Perjalanan Panjang lewat Avengers: Endgame

Ilustrasi Avengers Endgame (Foto/ Radio Times) 

Babak akhir untuk pahlawan super sudah di depan mata. Lewat seri keempat Avengers, Avengers: Endgame (2019), Captain America, Iron Man, Thor, dkk yang mencoba mengembalikan semesta yang carut-marut karena ulah sang Mad Titan, Thanos di seri Avengers: Infinity War (2018). Ia berhasil mendapatkan semua Infinity Stones (batu-batu sakti), lalu menghilangkan setengah populasi di galaksi.

Usai bertarung dengan Thanos di Avengers: Infinity War (2018), Tony dan Nebula terombang-ambing di galaksi selama 22 hari. Namun, Carol Danvers (Captain Marvel) datang seperti malaikat, mengantar mereka balik ke Bumi. Kemudian Tony dan Steve Rogers (Captain America) bertemu, masih berselisih sejak film Captain America: Civil War (2016).

Dalam event Endgame, semua superhero berduka. Tony kehilangan Peter Parker (Spider-Man), Steve Rogers (Captain America) kehilangan Bucky (The Winter Soldier) dan Sam Wilson (Falcon), Rocket Racoon dan Nebula kehilangan anggota Guardian of The Galaxy, Danvers kehilangan Nick Fury, serta Clint Barton (Hawkeye/Ronin) kehilangan keluarganya. Mereka berambisi memukul balik Thanos.

Thanos yang tengah menikmati hidup setelah visinya tercapai, didatangai Avengers. Avengers meminta batu-batu sakti itu, tetapi Thanos sudah menghancurkannya karena sudah tidak ada manfaatnya. Avengers hilang harapan mengembalikan semesta. Seketika, Thor memenggal kepala Thanos. He’s gone for the head.

Berselang 5 tahun, Scott Lang (Ant-Man) berhasil keluar berkat tikus yang tidak sengaja menekan tombol gerbang Quantum Realm. Realita menyebut 5 tahun, namun waktu di Quantum Realm relatif berbeda – bisa maju dan mundur. Hal ini yang membuka harapan baru untuk Avengers: membuat mesin Time Travel untuk mengambil Infinity Stones sebelum Thanos.

Formula Time Travel di Endgame adalah hal baru. Semisal, perjalanan waktu ke masa lalu tidak akan mengubah masa depan (butterfly effect), tetapi malah membuat kisah alternatif baru. Selain sebagai jalan keluar, Time Travel juga membuat penonton bernostalgia dengan peristiwa di film-film sebelumnya.

Perjalanan waktu ke peristiwa Battle of New York di The Avengers (2012), misalnya. Ini adalah momen pertama Avengers menyelamatkan dunia dari invasi Loki dan pasukan alien. Momen lain yang berkesan, ketika Tony bertemu ayahnya, Howard Stark yang masih muda. Lalu Rogers bertemu kekasihnya, Peggy Carter.

Dalam pencarian batu-batu sakti, pengorbanan harus ditempuh para pahlawan super. Natasha Romanoff (Black Widow) dan Clint pergi ke planet Vormir untuk mengambil Soul Stone. Natasha dan Clint berebut siapa yang harus berkorban demi batu itu. Namun, Natasha lah yang jatuh.

Tony membuat Infinity Gaunlet untuk memasangkan batu-batu sakti itu. Hulk yang menjentikannya, namun keadaan belum terlihat normal. Thanos pun datang dari masa lalu karena ulah Nebula yang masih mengabdi kepadanya. Markas Avengers dibombardir.

The Trinity; Captain America, Iron Man, dan Thor berusaha menghentikannya dengan cara apapun. Thanos memang sejatinya kuat tanpa Infinity Stones. The Trinity kewalahan meski Captain America sudah worthy untuk menggunakan Mjolnir – yang Thor dapatkan saat Time Travel.

Cap, on your left”, kata Falcon kepada Captain America. Karakter-karakter yang terkena The Decimation-nya Thanos, akhirnya kembali. Thanos pun mengejar batu-batu sakti, satu-satunya cara untuk selamat. Captain Marvel datang menembus atmofir untuk menghentikannya. Thanos masih tak gentar. Ia hampir menjentikannya.

Thanos tidak mungkin menang. Di Infinity War (2018), Doctor Strange sudah melihat 14 juta kemungkinan mengalahkan Thanos, dan hanya satu yang berhasil. Satu kesempatan itu lah yang terjadi di Endgame. Iron Man merebut Infinity Gaunlet, menjentikannya. Thanos menjadi debu.

Doctor Strange enggan mengatakan apa yang akan terjadi selanjutnya, jika satu kesempatan ini sudah dilakukan. Ternyata Tony Stark harus menanggung akibatnya. Sang pembuka jagat MCU ini meregang nyawa dengan heroik. Steve Rogers juga pulang ke masa di mana harusnya dia berada. Menuntaskan hutang berdansanya dengan Peggy Carter.

Endgame adalah konklusi yang spektakuler untuk 21 film-film MCU. Penonton, khususnya penonton sejak Iron Man (2008), dimanjakan dengan nostalgia dan melihat perjalanan akhir  superhero. Marvel begitu bijak menutup kisah superhero yang begitu manis.

Meski begitu, Endgame tidak melulu menonjolkan aksi-aksi pertarung pahlawan dengan penjahat. Ekspetasi pergulatan sedikit dipatahkan Endgame. Sang nahkoda, Russo Brothers menekankan pada keputusasaan pahlawan super yang mencari jalan keluar.

Russo Brothers membawa penonton lama MCU melihat adegan lain dari suatu film. Semisal The Ancient One ternyata membantu Avengers di The Avengers (2012) mengusir pasukan Chitauri. Lalu Captain America menaiki lift bersama penyusup S.H.I.E.L.D dari Hydra percis seperti Captain America: The Winter Soldier (2014). Memorble.

Eksekusi peran pun sama baiknya. Misalnya peran Natasha dan Clint dari awal kemunculannya, tidak begitu mendapat porsi. Namun keduanya rela berebut untuk berkorban demi semesta. Marvel sangat visioner, menghadirkan karakter yang tidak sia-sia kehadirannya.

Marvel juga sudah memperlihatkan sedikit teaser untuk kisah-kisah fresh selanjutnya. Misalnya Sam Wilson (Falcon) akan melanjutkan kiprah sang veteran, Steve Rogers untuk menjadi Captain America masa depan serta Papper Potts sebagai Rescue yang hadir di final battle. Sepertinya Marvel juga memberi jalan untuk all-female karakter muncul ataupun regenerasi Avengers.

Tidak lupa juga, saya akan terus mengenang sang supervillain terbaik, Thanos. Tujuannya begitu mulia: menyeimbangkan semesta. Thanos berhasil membuat derita yang mendalam para pahlawan super. He is invertible.

Saya hanya berharap, diberi umur yang panjang untuk menikmati kisah-kisah MCU yang lainnya. Saya juga mengharapkan Marvel dapat selalu memberi pengalaman-pengalaman indah dalam menikmati filmnya.

Penulis: Febrian Hafizh/SM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *