Kisah Dara-Bima dari Tertawa Hingga Menangis Bersama

Ilustrasi Dua Garis Biru. (Meilda Amdza/SM)

Suaramahasiswa.info, Unisba – Sempat menjadi perbincangan di masyarakat, film Dua Garis Biru ini ternyata berhasil mencuri perhatian masyarakat sejak trailernya diliris. Kontroversial ini berhasil diatasi oleh Sutradara sekaligus penulis Film, Gina S. Noer yang mengemas dengan rapih maksud yang ingin ia sampaikan, bahwa sex education perlu dibicarakan.

Ketika memasuki scene pertama, penonton langsung dibuat tertawa oleh sikap pasangan yang dimabuk asmara, Bima (Angga Yunanda) dan Dara (Adhisty Zara). Mereka berdua layak pasangan  ideal karena memiliki kemampuan yang berbeda dalam belajar. Ketika memasuki menit-menit selanjutnya, penonton dibuat tersenyum geli karena sikap manis yang Bima berikan pada Dara.

Layaknya film remaja, semua berjalan mulus tanpa cacat. Namun, penonton dikejutkan oleh adegan klimaks yang langsung berada di awal film. Perasaan senang yang dirasakan penonton berakhir dengan ketegangan karena kelakukan fatal yang dilakukan pasangan ini, hingga menimbulkan kehamilan Dara.

Selain itu, Scene selanjutnya disuguhkan oleh adegan yang dirasa sangat sesuai dengan kehidupan zaman sekarang. Gina berhasil mengatur segalanya dengan detail, seperti keinginan aborsi Dara yang dianalogikan dengan “buah stroberi”.  Hal tersebut mencerminkan janin Dara akan dengan mudah dihancurkan. Hal tersebut Membuat penonton tercengang dibuatnya.

Bukan hanya di scene pertama, Klimaks pun terjadi ketika orang tua Dara yang menginginkan bayi mereka diadopsi oleh Om dan Tante Dara. Perdebatan yang disuguhkan cukup membuat penonton berdecak heran karena kelakuan kedua orang tua Dara yang dianggap tidak menyenangkan. Adegan yang seharusnya tegang malah berhasil membuat penonton gagal sedih karena ucapan Dewi (kaka Bima) tentang Bima yang tidak menggunakan alat kontasepsi saat melakukan sex.

Selain itu, adegan Bima yang salah menafsirkan “dua garis biru’ pada testpack, menjadi satu adegan yang dianggap bersangkutan dengan judul film tersebut. Bima mengganggap bahwa anak yang dikandung Dara berjenis kelamin perempuan karena dua garis biru itu. Hal itu pula yang membuat penonton mengerti bahwa itu adalah reaksi polos yang dikeluarkan oleh anak SMA.

Semuanya terkemas manis, apik, detail, dan menyentuh. Gina berhasil mematahkan anggapan penonton tentang film ini. Bahkan hingga scene terakhir, penonton dibuat tercengang karena ending yang diluar ekspetasi. Perpaduan antara visual, music, dan dialog para pemain juga terkemas dengan indah. Namun sayang, unsur komedi yang dimasukan dalam film ini cenderung memaksakan. Selain itu, tidak ada sikap cibiran yang diperlihatkan teman SMA nya, seakan hamil diluar nikah adalah hal yang biasa.

Penulis: Tazkiya Fadhiilah

Editor: Puspa Elissa Putri

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *