Kilas balik Hooliganisme Inggris dalam Green Street

Masalah adalah hal yang harus dihadapi, bukan untuk disesali dan dihindari. Pesan itu sangat kental pada Film “Green Street”, sebuah tontonan yang menggambarkan kehidupan hooligan Inggris. Film yang dirilis pada 9 September 2005 ini menghadirkan nilai moral dalam alur jalan cerita yang disusun manarik dan apik.

Disutradarai Lexi Alexander, film ini menceritakan tentang seorang mahasiswa jurnalistik bernama Matt Buckner (Elijah Wood) yang di-DO oleh Universitas Harvard karena diduga menyimpan kokain. Barang haram itu sebenarnya milik teman sekamar Buckner, Jeremy Van Holden (Terence Jay). Setelah tragedi itu menimpa Bukcner. Ia memutuskan untuk pergi ke Inggris agar dapat melupakan masalahnya di Amerika Serikat. Sesampai di Inggris, ia berjumpa dengan adik sang ipar Pete Dunham (Charlie Hunnam). Pertemuan itu membuat Matt Buckner terjebak dalam fanatisme gila sepak bola Ingrgris. Berrgabunglah ia pada sebuah firm bernama Green Street Elite (GSE), sebuah jaringan pendukung dari tim West Ham United.

Matt Buckner disambut hangat oleh seluruh anggota GSE, kecuali Bovver (Leo Gregory) teman dekat dari Dunham. Ketidak senangannya atas kehadiran Buckner menumbuhkan rasa benci karena ia curiga Buckner adalah seorang jurnalis dan Buckner telah berkontribusi besar dalam membangun GSE menjadi firm yang kembali disegani di Inggris. Apa yang akan dilakukan Bovver selanjutnya? Apakah rasa benci pada Buckner sikap yang benar dan membawa hal yang baik untuk firm Green Street Elite atau sebaliknya?

Berdurasi 109 menit dengan sajian alur yang tidak membosankan, film ini patut ditonton untuk para hooligan Inggris lainnya. Walau terdapat banyak adegan kekerasan di dalam film ini namun terselip nilai moral yang sangat positif. Contohnya, ketika mantan ketua dari GSE yang sangat dihormati dan sekaligus kakak kandung dari Pete Dunham berjanji kepada istrinya. Janji itu, untuk tidak kembali dalam kehidupan kelam yang pernah dialaminya, orang itu bernama Steve Dunham. Kejadian ini, mengajarkan pada kita arti bahwa kepercayaan dan keluarga adalah segalanya.

Terlalu banyak adegan fisik, film “Green Street” tidak dianjurkan untuk ditonton oleh anak-anak. Kekerasan yang terjadi di film ini bertujuan untuk mempertahankan harga diri dan eksistensi setiap firm bahwa hoologanisme di Inggris memang sarat akan kekerasan. (Insan Fazrul/SM)

Share Button