Ketika Jurnalisme Menjadi Agama

Berisi 268 halaman, buku ini terbagi menjadi 4 bab yaitu Laku Wartawan, Penulisan, Dinamika Ruang Redaksi, dan Peliputan. Andreas Harsono dengan gamblangnya menjelaskan bagaimana itu makna sembilan elemen jurnalisme, keadaan pers di luar Jawa, bagaimana seharusnya penulisan yang benar, metode investigasi, dan sebagainya. Disini juga ia bercerita secara subjektif mengenai dinamika ruang redaksi di media tempat ia bekerja dulu, topik-topik seputar jurnalistik, hingga contoh kasus seperti Tomy Winata versus majalah Tempo, nasib sedih mengenai temannya yang bekerja di Harian Equator, hingga masalah keindependensian wartawan.

Buku ini memberikan edukasi dan realita seputar ilmu jurnalistik. Kita dapat mempelajari segala aspek, dari hal elementer namun perlu diperhatikan seperti byline, hingga kasus-kasus berat. Namun meski begitu, ada juga beberapa komentar-komentar subjektif dari Andreas Harsono yang perlu kita cermati dan tanggapi dengan cerdas, karena terkesan ‘berat sebelah’. Tapi secara keseluruhan, A9ama Saya Adalah Jurnalisme memberikan ilmu yang positif untuk segala kalangan, khususnya untuk mahasiswa, wartawan, dan dosen.