Joker dan Simbol Kesehatan Mental

Ilustrasi Joker. (Ifsani Ehsan/SM)

Suaramahasiswa.info – Siapa sangka seorang pelawak periang justru membuat malapetaka seantero kota, menyebabkan kericuhaan besar di kota Gotham. Pembunuhan di banyak tempat dan pengrusakan fasilitas bertebaran di kota tersebut. Satu-satunya yang bisa memporak-porandakan kota Gotham ialah sang badut Joker.

Cerita Joker dimulai dengan tokoh Arthur Fleck (Joaquin phoenix) yang bekerja sebagai badut sewaan, ia tinggal serba kekurangan bersama ibunya. Bekerja sebagai badut penyebar kebahagiaan bukan jalan yang mudah bagi Happy (sebutan Arthur di rumah) yang direndahkan oleh orang sekitar. Belum lagi pekerjaan yang ia gemari hilang begitu saja, karena kesalahpahaman.

Meski berjudul Joker artinya komedian, kebanyakan komedinya menyajikan kategori “dark jokes” yang membuat risau untuk tertawa. Seperti adegan rekan Arthur yang memiliki keterbelakangan fisik, adegan scene ini dikemas lucu-menyeramkan, karena setelah adegan sadis scene ini bisa membuat tertawa.

Secara narasi, karakter Arthur Fleck memunculkan sosok Joker sebagai akumulasi tidak adilnya masyarakat dari orang-orang berkuasa nan licik. Joker menjadi bentuk perlawanan terhadap gilanya justifikasi masyarakat dan kondisi kemiskinan.

Dilain sisi, isu kesehatan mental juga ditonjolkan Arthur Fleck. Ia mengalami penyakit bernama Pseudobulbar Affect (BPA) yaitu seorang yang tidak bisa mengontrol tertawa atau menangis tanpa sebab apapun. Sebelum bekerja menjadi badut, ia sendiri merupakan mantan pasien rumah sakit jiwa gotham, dan beberapa kali menghajar kepalanya ke dinding sampai retak.

Sayangnya, stigma negatif masyarakat terhadap pengidap gangguan mental masih tinggi. Alih-alih berkomunikasi dengan cara menganggap mereka baik-baik saja, justru bukan sebuah jalan keluar yang tepat. Berinteraksi dengan pengidap gangguan mental, diperlukan orang-orang yang sadar akan kesehatan mental.

Menurut kementerian kesehatan Indonesia, mental atau jiwa yang sehat adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari serta menghargai orang lain. Berbeda dengan penyakit fisik, justru penyakit mental acapkali tidak disadari dan terlambat untuk ditangani.

Berinteraksi dengan individu yang mengalami gangguan mental diperlukan cara khusus. Perlu diperhatikan kapan serta bagaimana cara kita berucap, mendengarkan, dan membangun kepercayaan untuk membantu memulihkan mentalnya.

Adapun kategori gangguan jiwa yang dinilai dalam data Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2013 diketahui terdiri dari gangguan mental emosional (depresi dan kecemasan), dan gangguan jiwa berat (psikosis). Riskedas 2018 menyebutkan, hanya 9% masyarakat Indonesia pengidap depresi yang menjalani pengobatan medis. Sedangkan menurut WHO regional Asia Pasifik (WHO SEARO) jumlah kasus gangguan depresi di Indonesia sebanyak 9.162.886 kasus atau 3,7% dari populasi.

Film Joker besutan Tod Phillips sendiri sangat memuaskan dengan tawa, sadis, kegilaan yang diperankan Joaquin Phoenix setelah pemeran sebelumnya Heath Ledger. Bukan hanya mengisahkan asal mula Joker semata namun, cara membangun kesadaran kesehatan mental juga perlu diapresiasi.

Adapun prestasi Film ini sukses menyabet penghargaan Golden Lion dalam Festival Film Internasional Venezia 2019. Semenjak tayang 2 Oktober 2019, Joker mendapat rating RottenTomatoes 68% dan IMDB 9/10.

____

Jika anda memiliki gangguan kejiwaan silahkan hubungi pihak-pihak yang bisa mengatasi. Dan film ini tidak dianjurkan bagi anak-anak serta siapa saja yang mengidap penyakit gangguan mental.

Penulis: Muhammad Sodiq

Editor: Puspa Elissa Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *