Justice League (2017): Harapan Terakhir dari DC Extended Universe

(Foto: Net)

Pencinta cerita superhero sungguh dimanjakan di tahun 2017 ini. Diawali Logan, di mana Hugh Jackman menutup akhir kisah Logan dengan elegan, lalu film standalone Wonder Woman pada pertengahan Maret yang lalu, kemudian Guardian of the Galaxy Vol. 2, lalu Spiderman Homecoming; yang merupakan reboot kedua kalinya, dan juga, Thor: Ragnarok. Bulan November ini disajikan Justice League, yang merupakan harapan terakhir dari DC Extended Universe. 

Berbeda dengan Marvel Cinematic Universe; yang sudah memulai shared universe movie di tahun 2008 silam, di mana berbagai film yang dibintangi oleh berbagai aktor dan aktris serta berbagai produser dan sutradara film yang kemudian berbagi “satu dunia” yang saling terhubung satu sama lainnya sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan terlebih dahulu, DC Extended Universe sangat terlambat dalam mengembangkan Universenya, yaitu di tahun 2013 yang diawali oleh Man of Steel. Terlambat dan dapat dikatakan gagal. Begitulah DC Extended Universe.

Poster Man of Steel (2013)

 

Film pertama, Man of Steel fokus menceritakan bagaimana Planet Krypton hancur karena ulah keserakahan dan keegoisan penduduknya yang terpaksa membuat Jor-El dan Kara-El mengirim anak semata wayang mereka yang baru lahir, Kal-El ke Bumi. Man of Steel memang bagus secara audio visual, tidak heran, karena film ini dipimpin oleh sutradara kawakan Zack Snyder yang sebelumnya sukses membawakan Watchmen di tahun 2009. Film origin dari tokoh superhero paling terkenal di dunia ini, Superman, sungguh memanjakan mata dan telinga penonton. Adegan perkelahian Kal-El alias Superman melawan Jenderal Zod yang begitu spektakuler. Ratusan gedung pencakar langit di Metropolis dan belahan dunia lainnya hancur karena ulah mereka berdua. Namun, Man of Steel tidak ramah untuk penonton pemula karena alurnya yang terus maju mundur dengan sangat cepat. Saya yakin, bagi yang tidak pernah mengikuti DC Universe akan sangat kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam film tersebut. Sebagai film pembuka, tidaklah terlalu buruk.

Poster Batman V Superman: Dawn of Justice

 

Film kedua, Batman V Superman: Dawn of Justice yang dibuka dengan kebencian Bruce Wayne (Batman) pada Superman karena dianggap sebagai alien yang mampu menghancurkan seluruh kehidupan umat manusia jika ia menginginkannya. Untuk mencegah hal tersebut terjadi, Batman berusaha untuk membunuh Superman sebelum Superman berniat menghancurkan seluruh kehidupan umat manusia. Batman akhirnya dapat menyudutkan Superman hingga sekarat, sekaligus membuktikan bahwa manusia biasa pun dapat mengalahkan Superman. Terlebih, berbeda dengan Superman yang masih memiliki rasa belas kasihan, Batman sudah tidak memilikinya lagi. Film ini ditutup dengan aksi Trinitas DC, yaitu Batman, Wonder Woman dan Superman yang bersatu melawan Doomsday dan Superman gugur dalam pertempuran tersebut. Sebagai klimaks, Alexander Luthor juga ditangkap karena kejahatannya.

Lagi-lagi, sama seperti film pembukanya, Batman V Superman memanjakan audio visual para penonton yang sebelumnya hanya mampu menyaksikan pertempuran ini pada kartun dan komiknya. Untuk urusan audio visual, tidaklah sulit untuk menyajikannya di tahun 2017 ini dengan perkembangan teknologi CGI yang semakin canggih dan murah. Namun, terlalu banyak kejanggalan dalam cerita ini sehingga terpaksa membuat pihak Warner Bros untuk merilis Batman V Superman Extended Version dalam versi Blueray yang memuat adegan yang dipotong pada versi bioskopnya, yang menjelaskan hal yang ganjal tersebut. Lagi-lagi, DC Extended Universe gagal dalam membuat film, yang membuat warga net bereaksi negatif, terutama dari fans Marvel.

Poster Suicide Squad

Film ketiga, Suicide Squad, alih-alih menyajikan film yang lebih berkualitas, malah pantas disematkan sebagai sebuah film yang gagal total meski dibintangi aktor papan atas Will Smith sebagai Deadshot. Suicide Squad berlatar waktu setelah kejadian Batman V Superman dimana para penjahat yang memiliki kekuatan super diminta oleh pihak agen rahasia pemerintah Amerika yang dikelola oleh Amanda Waller (Viola Davis) bernama A.R.G.U.S untuk melakukan sesuatu pekerjaan kotor dengan imbalan dibebaskan dari segala tuntutan yang ditujukan pada mereka. Sebagian dari para penjahat ini adalah penjahat yang sudah ditangkap oleh Batman jauh sebelum pertempurannya dengan Superman, terutama Joker (yang diperankan Jared Letto) dan Harley Quinn (yang diperankan oleh Margot Robie).

Terlihat mengesankan dari apa yang dipertontonkan dalam trailer dan sinopsisnya, bukan? Namun, apa yang dipertontonkan dalam filmnya sangatlah mengecewakan. Ikatan yang terjalin sesama penjahat tersebut terlalu cepat dibangun. Aktor kawakan seperti Will Smith pun tidak menunjukkan akting terbaikya. Dan Joker versi Jared Letto ini gagal total, tidak seperti aksi mendiang Heath Ledger dalam The Dark Knight Trilogynya Nolan. Film ini gagal tidak hanya semata kesalahan para aktor, namun oleh penulisan skrip cerita yang sangat-sangat buruk, bahkan setelah pihak Warner Bros kembali merilis versi Extendednya.

Poster Wonder Woman (2017)

Film Keempat, Wonder Woman. Diana Prince, seorang anak Zeus yang dibesarkan oleh bangsa Amazon, yang dipersiapkan untuk membela kebenaran sejak dini, dilatih kemampuan fisik dan pertempuran baik tangan kosong maupun menggunakan senjata, Wonder Woman adalah film terbaik dari empat waralaba DC Extended Universe yang sudah dirilis. Tidak mau mengulangi kesalahan sebelumnya, Wonder Woman disajikan lebih ringan dengan alur cerita yang cenderung datar dan happy ending dimana sang superhero dapat mengalahkan musuhnya pada akhirnya, meski berakhir dengan gugurnya sang kekasih dari si tokoh utama Wonder Woman merupakan satu-satunya film waralaba DC Extended Universe yang menuai pujian dari berbagai kritikus film dan juga warga net karena dianggap bagus. Tidak heran, karena sang pemeran Wonder Woman, Gal Gadot telah mati-matian berlatih fisik dan teknik memainkan pedang pada instruktur yang berpengalaman.

Setelah pertarungan dua superhero paling populer di DC Universe, Batman dan Wonder Woman merekrut tim yang berisikan sekelompok metahuman (manusia berkekuatan super) untuk menghadapi ancaman yang akan mengancam Bumi ini. Tidak lain dan tidak bukan, mereka berdua berusaha merekrut The Flash, Aquaman, dan Cyborg dalam tim mereka. Trailer yang sudah dirilis pihak Warner Bros pun masih menyisakan banyak misteri yang membuat para warga net berspekulasi seperti munculnya Superman atau Supergirl, atau bahkan Green Lantern yang dibuat samar pada adegan Alfred yang terkejut oleh sebuah sosok misterius yang muncul di hadapannya.

Namun satu hal yang pasti, villain pada film ini adalah Steppenwolf, sebuah makhluk kuno dari Planet Apocalypse dan pasukannya, Parademons. Akankah mereka berempat (atau berlima beserta sosok misterius di hadapan Alfred tersebut) dapat melindungi Bumi dari ancaman Steppenwolf? Atau justru mereka dihabisi olehnya? Semoga saja film yang dikatakan akan berdurasi 2 jam 50 menit ini akan berhasil yang tidak mengharuskan pihak Warner Bros terpaksa merilis versi Extendednya.

Dan, pada bulan November ini, Justice League adalah harapan terakhir dari DC Extended Universe jika Warner Bros ingin menyaingi Marvel Cinematic Universe yang tidak hanya memulainya 5 tahun lebih awal, namun menyajikannya dengan kualitas yang jauh lebih baik. Bukan hanya menyaingi keuntungan finansial belaka, namun kualitasnya. Tidak mudah mengadaptasi cerita superhero pada film, terlebih DC Universe selalu menyajikan cerita yang lebih “gelap” dibandingkan Marvel, terlebih setelah Disney ikut ambil alih dalam Marvel Cinematic Universe yang berusaha menyajikan cinematic universe yang dapat dinikmati oleh sumua umur.

Nah, akankah Justice League menjadi sebuah oase diantara kegagalan yang terus menerus dilakukan oleh DC Extended Universe?atau justru kembali mengulangi rentetan kegagalan tersebut? Kita tunggu jawabannya dalam bulan November ini.

 

Ditulis oleh Raden Muhammad Wisnu Permana

Alumni Fakultas Ilmu Komunikasi jurusan Jurnalistik 2012