Binatang Jalang yang Ingin Hidup 1.000 Tahun

Buku “Chairil Anwar Bagimu Negeri Menyediakan Api”

Suaramahasiswa.info, Unisba – Apa yang diharapkan masyarakat dari manusia parasit, pencuri, pembangkang dan egois? Mungkin bagi sebagian orang, manusia tersebut merupakan sampah adanya. Namun nyatanya, kita tak mampu mendebat;  bahwa sampah tersebut – bernama Chairil Anwar, ialah sosok yang paling berpengaruh dalam menegakan sastra Indonesia, yang masih berupa embrio kala itu.

Puisi-puisinya mengaum di setiap panggung tujuh-belasan. Chairil yang urakan, kurang ajar dan bangsat,  nyatanya mampu menelurkan karya-karya cemerlang dan hebat. Seolah, “Binatang Jalang” ini mampu menerawang hingga puluhan tahun ke depan –seolah puisi tersebut baru diciptakan kemarin sore.

Tempo mengulas habis obituari Chairil Anwar dalam majalah khususnya, yang  kemudian diterbitkan dalam bentuk buku. Betapapun patut diakui, Tempo mampu bercerita dengan cukup renyah dan pendalaman wawancara yang memikat. Dalam buku ini, fragmen hidup Chairil terbagi dalam lima bab: Si Mata Merah yang Ingin Hidup 1.000 Tahun; Medan, Sastra, dan Tragedi Keluarga; Bohemian Pertama di Jakarta; Yang Patriot, yang Eros, dan yang Belum Rampung; dan Makam Terlupakan dan Sebuah Ikon.

Nyatanya, buku ini memang cocok bagi pemula untuk memahami Chairil Anwar secara garis besar. Gaya hidupnya yang flamboyan ketika kecil, pindah ke Jakarta dan mengalami kenyataan hidup, patah-hati sang penyair,  hingga akhir hidupnya digambarkan jelas. Beberapa puisinya pun dituangkan dalam buku ini.

Memahami Chairil memang tidak cukup hanya melalui sajaknya. Dengan membaca buku biografi Tempo ini, setidaknya kita akan mampu memahami Chairil melalui pendekatan jurnalistik. Bahwa penyair urakan ini,  memang patut disegani. Disiplin diri dan cermat dalam mengolah kata adalah teladan yang patut kita contoh.

Selain itu, dengan buku ini kita pun tersadarkan,  bahwa membangun bangsa tidak hanya melalui kalangan militer dan politikus; seniman dengan kejujurannya dalam menangkap realitas sosial, pun demikian.  Runtuh kan saja kesenian dan kata-kata, niscaya negara tersebut akan hilang dari sejarah dunia.

Oh iya, apa kabar kesenian di kampusUnisba? (Hasbi/SM)