Batman Ninja (2018): Sensasi Batman Versi Anime

Foto: Net

Batman Ninja merupakan film animasi Batman yang dirilis pada tahun 2018. Film ini disutradarai langsung oleh Junpei Mizusaki, sedangkan skenarionya ditulis oleh Bill Finger dan Leo Chu. Film animasi ini adalah kolaborasi Jepang dan Amerika Serikat yang dibuat oleh DC Comics, DC Entertainment, dan Kamikaze Douga. Film ini diedarkan dengan menggunakan bahasa Inggris dan Jepang oleh Warner Bros pada 24 April 2018 lalu.

Mulanya diawali ketika Batman yang secara tidak sengaja terlempar ke zaman feodal Jepang karena ulah mesin waktu buatan Gorilla Grodd bersama dengan Bat Family lainnya seperti Alfred Pennyworth, Red Robin, Red Hood, dan Night Wing. Dan tentu saja, juga dengan Catwoman, Two-Face, Penguin, Deathstroke, Poison Ivy, juga si sumber masalah utama penyebab ini semua, yakni Gorilla Grodd. Tidak lupa dengan Joker dan Harley Quin.

Para penjahat itu mengambil alih kekuasaan sebagai tuan tanah di zaman feodal Jepang, lengkap dengan sekelompok samurai yang menjadi kaki-tangan mereka.  Sedangkan Para Bat Family ini kemudian bergabung dengan clan ninja yang ada saat itu, yang seperti versi anime dari The League of Shadow cabang Jepang zaman feodal.

Pada zaman itu, perang saudara antarclan di Jepang adalah permasalahan utama negara tersebut. Mereka memperebutkan tahta untuk menjadi Shogun, untuk mempersatukan Jepang di bawah satu kepemimpinan monarki, dan mengubah nasib Jepang. Inilah tujuan utama para villain Gotham, yang masing-masing punya visi- misinya tersendiri. Jadi menarik, siapakah yang akan mampu menjadi Shogun Jepang nanti? Dan apa sejarah Jepang serta dunia akan berubah?

Batman di era Feodal Jepang

Apa jadinya jika Batman tersesat di Jepang masa lalu? Setelah menyadari bahwa ia secara tidak sengaja time travel ke zaman feodal Jepang, Batman tidak merasa ada kesulitan yang berarti, karena ilmu beladiri Batman salah satunya adalah Ninjutsu (ilmu ninja) dan Kenjutsu (ilmu pedang), yakni ilmu menyusup ala ninja dan pertarungan seni beladiri menggunakan berbagai senjata tajam. Selain itu, kemampuan ilmu beladiri Batman memang di atas rata-rata, meski tidak dilengkapi sejata dan teknologi canggih miliknya. Tak heran, ia adalah murid terbaik dari Ra’s Al Ghul.

Sejumlah Bat Family dan para Villain dari Gotham tampil dengan menekankan kombinasi desain kostum masing-masing karakter dengan elemen-elemen era klasik Jepang. Mulai dari baju perang ala samurai, ninja, sampai senjata yang juga sarat akan ciri khas pada masa perang di Jepang.

Bahkan adegan pertarungan di dalam film animasi ini menggunakan senjata tradisional Jepang, menyesuaikan dengan teknologi militer Jepang saat itu yang belum semaju Gotham era modern. Adegan pertarungan antara Batman dan Joker salah satunya melibatkan duel pedang di atas atap bangunan Jepang layaknya serial anime ninja dan samurai yang sangat seru untuk disaksikan. Batman Ninja menunjukkan kisah Batman yang tidak pernah kita saksikan sebelumnya.

Dengan situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan Batman untuk menggunakan senjata dan gadget ber-teknologi canggih miliknya. Batman mau tidak mau harus menggunakan kecerdasan dan kemampuan fisiknya, serta mengandalkan bantuan dari Bat Family untuk menangkap para penjahat yang ada satu persatu dan mengembalikan mereka ke Gotham City zaman ini. Janganlah menanyakan apakah Batman mampu. Because he’s batman! There’s a time when batman wipe out the entire Justice League on his own hands.

Batman versi Anime

Sebagian besar kru dalam film ini adalah orang Jepang. Tak heran, gaya animasi, koreografi dan adegannya, sangat mirip dengan anime khas Jepang. Di antaranya, terlalu banyak percakapan saat pertarungan, dan teriakan serta penyebutan nama jurus yang dilakukan para tokoh utama dalam pertarungan, yang sangat menyakitkan telinga, karena kita terbiasa melihat animasi superhero Hollywood yang tidak se-vocal anime Jepang dalam adegan pertarungan.

Penulis harapkan dari film animasi ini, kita akan melihat Batman melakukan pertarungan dengan kondisi persenjataan seadanya. Namun dalam film ini masih banyak plothole yang terlalu dipaksakan, seperti konsep time travel yang masih pincang, serta penggunaan teknologi yang tidak masuk akal, walaupun mesin-mesin modern yang terlibat. Dalam film animasi ini juga terbawa bersamaan dengan para tokoh di atas bersamaan dengan leap mereka ke masa lalu. Mesin-mesin yang ada dalam film animasi ini “terlalu anime”. Yakni, terlalu mengkhayal, yang bahkan dalam versi animasi Hollywood-nya tidak ada sama sekali. Robot-robot sebesar Gundam dan Transformer, ada-ada saja.

Namun, apa yang terjadi di film animasi ini sungguh menghibur, sebagai selingan saja. Karena itu, di tahun 2018 ini hanya Aquaman saja yang hadir dalam waralaba DC Extended Universe. Selamat menonton!

Ditulis oleh Raden Muhammad Wisnu Permana

Penulis adalah alumni Fakultas Ilmu Komunikasi Jurusan Jurnalistik 2012.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *