Unisba Raih Premier Meski Luput di Dua Area

Unisba mempresentasikan hasil akreditasi internasional saat jumpa pers di Gedung Rektorat Unisba, Jalan Tamansari No. 20, Kota Bandung, pada Senin (1/7). (Puspa Elissa Putri/SM)

Suaramahasiswa.info, Unisba – Unisba membeberkan hasil akreditasi internasional yang diasesori Accreditation Service for Internasional Colleges (ASIC) saat jumpa pers pada Senin (1/7) di Gedung Rek. Rektor Unisba, Edi Setiadi menyebutkan bahwa dirinya menerima pesan dari Lee Hammond selaku CEO ASIC yang menyatakan bahwa 13 Program Studi (Prodi) lulus akreditasi internasional. “That 13 Study Programs in Unisba has been Accredited Premier Level,” bunyi pesan elektronik yang dikirimkan Lee pada Rabu (26/6).

Sebanyak 13 prodi tersebut, terdiri dari 12 prodi Sarjana dan satu prodi Pascasarjana. Dari ke-13 prodi tersebut, dalam Fakultas Kedokteran dibagi kembali menjadi dua, yaitu pendidikan kedokteran dan profesi kedokteran. Sehingga berjumlah empat belas prodi yang telah lulus akreditasi.

Di dalam penilaian ASIC, Unisba mendapatkan predikat Premier. Edi jelaskan, terdapat tiga tingkatan predikat, yaitu: Premier, Qualified, dan Failed. Premier merupakan predikat tertinggi yang artinya Unisba memenuhi enam hingga delapan area operasi yang dipersyaratkan. Sedangkan Qualified  hanya memenuhi empat hingga lima area operasi, dan Failed hanya memenuhi tiga area operasi saja.

Gagal dua dari delapan Area Operasi

Walaupun menyandang predikat Premier, Unisba gagal dalam dua persyaratan area operasi. Area tersebut merupakan, area F: Ijazah dan gelar, dan H: Hubungan dengan mahasiswa internasional. Edi mengaku bahwa kedua area tersebut tergolong sangat sulit untuk dipenuhi. “Memang belum ada yang bisa memenuhi area F, dan H. Karena memang tidak mudah,” tuturnya.

Menurut Edi, ijazah dan gelar sulit dipenuhi karena jumlah dosen lulusan internasional yang sangat terbatas. Berikut pula hubungan dengan mahasiswa internasional, area tersebut sulit diterapkan karena membutuhkan kepengurusan imigrasi. Sedangkan Unisba belum memiliki fasilitas tersebut.

Namun, selain area F dan H, Edi menuturkan bahwa area lainnya terhitung aman dan mendapatkan nilai bagus. Area A mendapatkan skor sempurna, B cukup bagus, C mendapatkan keunggulan dalam penelitian dan interaksi kegiatan belajar, D pada tahun 2017 Unisba menjadi satu-satunya perguruan tinggi Islam yang mendapatkan pengakuan dari kementerian, E mendukung kegiatan-kegiatan Mahasiswa, G promosi dan publikasi memadai.

Kendati demikian, Wakil Rektor I, Harits Nu’man menekankan bahwa kebersihan dan tatanan dalam sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) menjadi perhatian oleh inspektur ASIC. Hal ini didasari oleh kondisi sekretariat yang kurang layak, karena sirkulasi udara yang dirasa tidak memadai. “Masa waktu masuk ke sekre ada yang ngejemur handuk.”

“Karena kita sudah terakreditasi internasional, jadi harus ditingkatkan lagi. Jangan sampai ruang mahasiswa tidak mencerminkan predikat Premier kita,” ucap Harits ketika ditemui di gedung Rektorat Senin (1/7).

Harits berharap nantinya bukan hanya prodi atau universitas yang “go international”. Namun, mahasiswanya pun harus turut terinternasionalisasi. Kemampuan dasar seperti English Speaking perlu ditingkatkan lagi.

Mahasiswi Fakultas Teknik Planologi 2013, Wa Minal Uyuun turut menuturkan harapannya. Ia mengharapkan kedepannya bukan hanya status akreditasi saja yang ditingkatkan.”Dosen-dosennya dan kurikulumnya juga harus di sesuaikan,” ucapnya.

Reporter: Shella Mellinia Salsabila

Penulis: Shella Mellinia Salsabila

Editor: Puspa Elissa Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *