Unisba Jadi Tuan Rumah Pelatihan SAPTO

Seorang trainer tengah menjelaskan proses penggunaan website Sistem Akreditasi Perguruan Tinggi (SAPTO) di Gedung Hj. Kartimi Kridhoharsojo pada Senin (7/8/2017). SAPTO merupakan fasilitas ciptaan BAN-PT untuk memudahkan proses akreditasi perguruan tinggi. Hasil Rapat Kerja Nasional BKS-PTIS memutuskan, Universitas Islam Bandung (Unisba) menjadi tuan rumah penyelenggara pelatihan SAPTO zona Pulau Jawa.

Suaramahasiswa.info, Unisba – Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) bekerjasama dengan Badan Kerja Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKS-PTIS) menyelenggarakan pelatihan Sistem Akreditasi Perguruan Tinggi Online (SAPTO). Universitas Islam Bandung (Unisba) menjadi tuan rumah penyelenggara pelatihan SAPTO zona Pulau Jawa. Pelatihan tersebut berlangsung di Gedung Hj. Kartimi Kridhoharsojo pada Senin (7/8). Sebanyak 130 perguruan tinggi Islam swasta diundang dalam pelatihan tersebut.

Menurut Sekretaris Satu BKS-PTIS Jamhur, BAN-PT memfasilitasi perguruan tinggi untuk meningkatkan proses akreditasi. “Sebelum ada fasilitas ini, proses administrasinya rumit, kita harus mengirimkan dokumen hardcopy, hasilnya pun lama diterima,” ungkapnya yang juga menjabat Kepala Bagian Kerjasama dan Perencanaan Unisba, saat dimintai keterangan di Gedung Rektorat Lantai 3, Jalan Tamansari No. 20, Kota Bandung.

Memasuki proses akreditasi, pengaju dapat mengakses sapto[dot]banpt[dot]or[dot]id lalu memasukkan kode username yang tersedia pada Pangkalan Data Pendidikan Tinggi. Sedangkan cara memperoleh password, perguruan tinggi mesti mengirimkan surat pengajuan resmi ke BAN-PT yang berisi permintaan untuk mendapatkan akses ke SAPTO. Surat pengajuan juga berisi data alamat surat elektronik resmi untuk korespondensi dengan BAN-PT dan pejabat penanggung jawab akun tersebut.

Salah satu tamu undangan dari Universitas Garut, Deden Windasuwandi mengapresiasi pelatihan tersebut. Ia mengungkapkan, dengan adanya pelatihan SAPTO, proses akreditasi nantinya akan lebih mudah. “Pelatihan ini memudahkan kita dalam proses akreditasi. Nantinya, perguruan tinggi atau prodi tidak bingung untuk menggunakannya,” jelasnya. (Febrian/SM)