Unggah Video Demonstrasi, Mahasiswa Unisba Terima Pesan Kontroversial

Massa aksi terlibat bentrok dengan pihak kepolisian di Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro No. 27, Kota Bandung pada Senin (23/9/2019). (Aryana Catur/SM)

Suaramahasiswa.info, Unisba – Jagat maya sempat diramaikan oleh postingan pemilik akun Instagram @anitaaramdini pada 23 September 2019 lalu. Belakangan diketahui pemilik akun tersebut adalah Anita Ramdini Delviana, mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unisba. Dalam postingan yang telah disukai 81 ribu-an orang itu, Anita memposting screenshot pesan pribadi yang memperlihatkan percakapan dirinya dengan akun @ranandamp.

Sebelumnya Anita sempat memposting video demonstrasi mahasiswa pada 23 September lalu di insta story. Postingan tersebut kemudian dibalas oleh akun @ranandamp. “Semoga mati semua yaa aamiin yaalah” tulis akun @ranandamp, yang diperlihatkan Anita kepada Suara Mahasiswa, Jumat (27/9/2019).

Percakapan tersebut lalu di-screenshot oleh Anita dan diunggah di Instagramnya. Hasilnya, unggahan tersebut menjadi perbincangan ribuan pengguna Instagram dan kemudian menjadi viral. Anita mengaku dirinya tidak mengenal akun @ranandamp namun, ia menduga jika pengguna akun tersebut merupakan aparat kepolisian.

“Pas dia ngomong gitu langsung di-screenshot (sebelum dihapus), dari situ aku liat profilnya enggak di-private. Aku screenshot foto profilnya, foto dia yang pake seragam,” tuturnya saat diwawancarai di Taman Tambang Unisba.

Anita menilai perkataan yang diduga anggota aparat kepolisian tersebut tidak layak untuk disampaikan. Polisi seharusnya mengayomi masyarakat. “Secara aparatur negara itu untuk mengyomi masyarakat, di sini yang kita demo itu didoain sama orangtua sama kawan-kawan kita untuk selamat, tapi ini seorang apratur negara berbicara agar semua yang ikut demo itu mati,” ucapnya.

Anita sempat melakukan komunikasi melalui panggilan video dengan akun tersebut. Melalui panggilan video, pemilik akun @ranandamp sempat mengajak Anita untuk bertemu. Setelah melakukan panggilan video, akun Instagram @ranandamp ditutup.

“Dia tiba-tiba videocall minta maaf di situ ada kata-kata dibilang ‘ya udahlah mba sekarang mah minta kerjasamanya kita ketemuan, bakal dapet feedback dari saya’,” tuturnya.

Ancaman Lain

Kemudian pada 25 September, Anita menerima ancaman yang pertama kali dilayangkan padanya lewat pesan dari akun anonim. Anita mengaku jika dirinya mendapatkan ancaman melalui pesan pribadi ke akun Instagram miliknya.

“Besoknya (25 September) liat di direct message tuh ada yang ngirim ‘kau ku culik baru tau rasa’, aku enggak bisa nyimpulin itu dari aparat, karena akun palsu, dari situ posisinya panik, aku nangis, ini ada ancaman, pas mau bales itu udah ga ada pesannya jadi ga sempet aku screenshot karena aku panik itu ya udahlah gapapa, ini ancaman yang pertama,” tuturnya.

Anita mengaku akan membawa peristiwa ini ke ranah hukum. Pasalnya, ia merasa takut jika postingannya dikaitkan dengan pelanggaran hukum. Oleh karena itu untuk mengantisipasi, Anita telah mengontak sejumlah pengacara, dan melakukan konsultasi dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung.

“Saya konsul sama pengacara temen saya, selain ke LBH ke pengacara sama aku sudah bikin laporan ke Propam,” kata dia.

Rekan Anita, Muhammad Aldy Firdaus menyebut jika pemilik akun @ranandamp adalah teman satu SMA-nya. Ia pun kaget atas perlakuan temannya.

“Itu temen sekolah satu angkatan, mantan ketua MPK di SMA. Dia kelas IPA 4 sedangkan saya IPA 5. Saya kenal dekat dan orangnya tidak mencerminkan sifat dia yang waktu SMA makanya saya kaget,” tuturnya ketika diwawancarai.

Aldy membenarkan jika pemilik akun @ranandamp merupakan aparat kepolisian. Ia mengatakan tidak akan mempedulikan status pertemanan dirinya dengan pemilik akuntersebut. Ia akan terus membantu Anita ke depannya.

Anita mengatakan bahwa dirinya memiliki alasan kuat dalam tindakannya, ia beralasan jika sejumlah temannya mengalami peristiwa yang sama namun tidak berani bertindak. Anita juga menjelaskan jika dirinya mendapatkan dukungan dari teman-temannya.

“Intinya sih ingin ada keadilan, jangan hanya mahasiswa aja yang kalau salah di up sampai ke media. Aku juga pingin oknum-oknum polisi ini juga di up masuk ke media sosial atau televisi. Intinya ingin ada keadilan terus biar jera. Kalau yang bikin saya kuat selama ini tetep sih support kawan-kawan” tuturnya.

Reporter: Fadil Muhammad

Penulis: Fadil Muhammad

Editor: Febrian Hafizh Muchtamar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *