Ta’aruf, Ajang Persaingan Berjualan Pedagang dengan Mahasiswa

Salah satu pedagang perlengkapan Ta’aruf menjaga lapaknya di trotoar kampus Unisba Jalan tamansari No.1 bandung pada (3/9/2019) (Fahriza Wiratama/SM)

Suaramahasiswa.info, Unisba – Momen Ta’aruf ternyata tak hanya disambut antusias oleh para mahasiswa baru (maba) saja. Para pedagang juga ikut antusias dengan datangnya momen ini, merasa mendapat celah mengais rezeki dari datangnya maba ke kampus biru. Acara pengenalan kampus perjuangan ini dimanfaatkan para pedagang membawa barang keperluan maba yang harus dibawa selama Ta’aruf berlangsung.

Seorang pedagang bernama Amin di temui Suaramahasiswa saat tengah menjajakan dagangannya ke para maba. Ia menawarkan keperluan maba seperti peci, pita, nametag dan karton pada para maba yang lewat, meski tak jarang maba hanya lewat dan tidak menanggapi. Sembari memainkan game di ponselnya Ia bercerita bahwa sudah berdagang di Unisba dari tahun 1986.

Amin menyayangkan, mahasiswa yang sekarang ikut berjualan seringkali memanfaatkan koneksinya sebagai mahasiswa atau kakak tingkat untuk menawarkan dagangannya kepada para maba. Hal itu membuatnya risau, pasalnya keuntungannya berjualan menjadi berkurang, “ mahasiswa ya fokus saja belajar, jangan ikut – ikutan dagang,” sambil meninggikan nada bicaranya.

Begitupun dengan Rina, pedagang selama tujuh tahun di Unisba setiap Ta’aruf itu merisaukan hal yang sama. Jika dulu Ia bisa mendapat Rp300.000,00 – Rp.400.000,00 sekali berdagang, kini dia hanya mendapat Rp.100.000,00 – Rp.200.000,00 saja. Perempuan berkerudung hitam yang menjual kaus kaki dan peci tersebut merasa hal itu karena perubahan pemberitahuan informasi yang telah berubah. Mereka tidak bisa mempersiapkan barang dagangannya dengan baik, menurutnya perubahan tersebut lebih menguntungkan mahasiswa yang berjualan juga.

“Jadi susah kalau sekarang neng, dulu dikasih tahunya tiap pulang acara, sekarang apa – apa lewat Internet. Ibu biasanya suka liat pedagang atau tanya mahasiswa baru nya aja. Tapi kan nggak secepat mahasiswa yang pada dagang itu, “ jelasnya sambil membereskan barang dagangan bersiap pulang.

Berbeda dengan Amin yang hanya berjualan di Unisba, Rina sering mejajakan barangnya di kampus lain sekitar Bandung. Rina adalah Ibu rumah tangga, sedangkan Amin adalah buruh serabutan yang mengambil kesempatan mengambil untung di masa taaruf seperti ini, untuk mengepulkan dapur rumah mereka.

Di sisi mahasiswa sendiri, salah satunya yang berdagang di masa Ta’aruf ini yakni Paduan Suara Mahasiswa (Pasuma). Pasuma biasa menjual camilan seperti kue basah, dan gorengan dengan berkeliling, membuka lapak di sekretariatnya dan mengisi stand di parkiran dekat Resimen Mahasiswa (Menwa) selama Ta’aruf. Nurulita Salsabila, selaku anggota Pasuma mengatakan keuntungan mereka hanya berkisar Rp.100.000,00 – Rp.130.000,00. Menanggapi keluhan para pedagang, mereka tidak merasa mengambil lahan keuntungan. Pasuma merasa terus berinovasi agar tidak menjual barang yang sama dan memicu persaingan yang tidak sehat.

Terkait hal ini, Wakil Rektor III Asep Ramdan Hidayat ikut berkomentar jika mahasiswa ingin ikut berjualan tidak jadi masalah. Karena kebanyakan mahasiswa hanya berdagang di moment tertentu. Moment tertentu disini seperti taaruf, event kampus dan lain sebagainya, “ Jadi para pedagang tidak usah mengeluh, “ ucapnya.

Reporter: Verticallya Yuri S.E Pratiwi

Penulis: Verticallya Yuri S.E Pratiwi

Editor: Puteri Redha Patria

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *