Seribu Lima Ratus untuk Juru Parkir

Seorang Mahasiswa membayar parkir di Pos Parkir Resimen Mahasiswa (Menwa) Unisba, Jalan Tamansari No.1 pada Selasa (30/7/2019). (Aryana Catur/SM)

Suaramahasiswa.info, Unisba – Universitas Islam Bandung (Unisba) atau juga dikenal dengan sebutan kampus biru, belum lama ini mendapatkan predikat premier dalam Akreditasi Internasional untuk ke tiga belas program studinya. Mengingat predikat premier yang disandang oleh Unisba, tentunya kamu akan membayangkan kampus biru ini memiliki fasilitas dan pelayanan yang terbaik.

Namun, ketika memasuki gedung-gedung Unisba perhatianmu akan tersita oleh parkiran yang mungkin tidak sesuai dengan ekspektasi kamu. Bukan fasilitas modern layaknya parkiran di mall-mall kota besar, melainkan sistem manual yang dilakukan antara pengguna fasilitas dan juru parkir. Belum lagi mahasiswa juga masih diharuskan membayar tagihan parkir.

Munculah pertanyaan dari para mahasiswa, “Lho kok masih manual dan berbayar? Bukannya sudah terakreditasi Internasional?”

Sebelumnya, piranti parkir Unisba sempat dijanjikan rampung pada akhir Maret 2019, namun terus mengalami kendala sehingga saat ini harus melakukan sistem manual. Kepala Pengelola Parkir Unisba, Mulyadi menjelaskan sistem tersebut harus di jalankan sementara ini karena pihaknya belum menyiapkan rencana target pembenahan piranti. “Perihal bayar parkir, itu diharuskan karena uangnya dipakai untuk menggaji juru parkir,” ujarnya pada Selasa (30/7).

Ia menjelaskan, parkiran yang dimaksud ialah parkiran yang berlokasi di dalam kampus, seperti parkiran Menwa dan basement Fakultas Kedokteran. Uang yang perlu dibayarkan sebesar seribu lima ratus rupiah, total uang yang masuk tiap harinya tidak menentu sehingga tidak bisa di rata-rata kan. Kemudian uang tersebut akan masuk ke yayasan dan diberikan kepada juru parkir sebagai gaji mereka.

Upah yang di berikan sebanyak 1,6 juta rupiah per-orang, dan diberikan kepada ke dua belas juru parkir yang kini bekerja di Unisba. Pendapatan tersebut juga belum termasuk uang lembur dan insentif yang akan diterima juru parkir sebagai tambahan. Selain untuk gaji, uang dari parkiran juga digunakan untuk biaya kegiatan kemahasiswaan yang mengajukan pendanaan ke yayasan.

Dirinya menekankan kepada mahasiswa agar membayar tagihan tersebut, selain karena keperluan penggajian, ia juga merasa imbalan tersebut sebanding dengan jam kerja yang mereka jalani, yaitu selama delapan jam. “Belum lagi mahasiswa sering enggak sopan juga. Saya lihat dari CCTV, ada yang suka ngelewatin juru parkir gitu saja tanpa bayar, ada juga yang datang-datang suka nendangin piranti,” jelas Mulyadi ketika ditemui di Sekretariat Yayasan Unisba.

Mahasiswa Fakultas Hukum 2018, Keisya Aulia pun turut merasa keberatan untuk mengeluarkan uangnya guna membayar parkiran. Ia menilai dengan universitas yang telah menyandang predikat premier, seharusnya kualitas parkiran ditambah dan disesuaikan dengan penilaian yang saat ini dimiliki.

Reporter: Shella Mellinia Salsabila

Penulis: Shella Mellinia Salsabila

Editor: Puteri Redha Patria

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *