PPMB Hanya Sebagai Wadah Agresi Senior, Bukan Membimbing

Ilustrasi senior marah. (Ifsani Ehsan Fahrez/SM)

Suaramahasiswa.info, Unisba – Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) sudah mulai dilaksanakan di beberapa Perguruan Tinggi. Setiap kampus memiliki nama tersendiri untuk Ospek. Di Unisba rangkaian Ospek terdiri dari Ta’aruf Universitas, Ta’aruf Fakultas, dan PPMB Fakultas. Praktik PPMB ini yang menjadi wadah senior untuk menunjukkan tajinya.

Praktik senioritas di dalam Ospek sudah ada sejak zaman Kolonial Belanda, yang tercakup dalam sistem feodalisme. Dalam sistem tersebut seringkali terjadi hal yang tidak berprikemanusiaan dan tidak sesuai dengan hak asasi manusia.

Di Indonesia, Ospek sudah menelan korban, seperti Ery Rahman, praja baru Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) atau sekarang Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Kemudian, Donny Maharaja yang merupakan mahasiswa Universitas Gunadarma yang meninggal akibat kekerasan fisik usai mengikuti studi pengenalan lapangan di Cileungsi, Bogor (Dilansir Okezone). Beberapa kasus itu seakan menyebut senioritas sebagai pemicu kekerasan seperti itu dapat terjadi dalam Ospek.

Imania Fitri Fauzy, panitia Komisi Disiplin (Komdis) di PPMB Fikom 2018 mengatakan dirinya tidak terlalu menggubris stigma buruk mengenai Komdis tukang marah-marah, karena ia merasa ada alasan baik di balik semua itu.

“Kenapa kita marah pasti ada esensinya, termasuk problem solving ‘kan? Dengan begitu kita ngasih tau ke mereka bahwa dunia kampus itu seperti apa,” tuturnya menjelaskan dengan menggebu-gebu.

Sedangkan Komdis Fakultas Dakwah 2018, Ramadhan Abdul Rozak berdalih hal itu sebagai ujian mental ketika di posisi tertekan dan cara menghadapi masalah. “Teriakan atau bentakan di sini berarti luas, bisa jadi sebagai penegasan supaya tidak melanggar terus menerus peraturan yang telah ditetapkan.”

Komdis Rawan jadi Wadah Agresi Senior

Menurut Psikolog Anak dan Remaja, Stephanie Raihanna, kekerasan yang dilakukan senior pada juniornya adalah bentuk agresi yang berarti sebuah tingkah laku yang memiliki tujuan menyakiti orang yang tidak ingin disakiti, baik itu secara fisik maupun secara psikologis.

Hal itu terjadi karena adanya perasaan frustasi, yaitu sebuah rasa kecewa atau jengkel karena tidak tercapai dalam pencapaian tujuan. Frustasi dapat diartikan juga sebagai sebuah kondisi terhambat dalam mencapai suatu tujuan. Hingga muncul keinginan untuk melakukan agresi.

Ia lanjut menjelaskan, kepanitiaan yang menghadirkan Komdis memungkinkan jadi wadah pembuangan sikap agresi para senior yang merasa frustasi. Menurut pengalamannya sendiri, mahasiswa yang mengisi Komdis juga banyak berasal dari mahasiswa dengan IPK rendah, sering telat, dan tidak disiplin kemudian mereka mencari tempat untuk melakukan agresi.

Imania sendiri tidak memungkiri jika Komdis tidak semuanya orang yang disiplin, “Tapi ‘kan kita bisa mengedukasi. Walaupun kita enggak tahu apakah ada hasil atau enggak, setidaknya dia bisa mengerti gitu.”

Stephanie menyayangkan agresi seperti itu menjadi budaya di Indonesia yang sulit terputus. Padahal, katanya, sebagai senior harus menjadi tutor atau pembimbing. Biasanya mahasiswa baru membutuhkan dukungan emosi, informasi, dan bimbingan dalam menghadapi lingkungan baru.

“Bukan malah dibentak seperti itu, yang ada mereka malah memiliki pandangan negatif pada kehidupan kuliah bahkan kampusnya,” jelas Stephanie yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan III Fakultas Psikologi.

Sebagai solusi atas hal itu, ia mengusulkan pendekatan berdakwah ala Islam. Bahwa mengajak atau membimbing itu diawali dengan ajakan yang baik. Sambil sesekali tertawa, Stephanie mengambil contoh zaman Jahiliah, tidak mungkin pada masa itu Rasulullah memerintahkan Sayyidina Ali melakukan bending jika membuat kesalahan.

Bagaimana Jika Komdis Dihapus?

Jika Komdis dihapus, Imania mempertanyakan fungsi adanya Ospek tanpa Komdis. “Mereka kan datang kesini tanpa ada disiplin, menurut aku kayak badut doang. Misalnya fakultas bilang untuk memberi materi juga, emang kuliah enggak ada materi? Sekalian aja Ospek dihilangkan, langsung aja ke perkuliahan biasa,” responnya memberi tanggapan.

Sedangkan Rozak menyebut sah-sah saja asalkan sesuai konstitusi yang berlaku. Namun, menurutnya akan terasa hampa jika tidak ada, karena Komdis berperan untuk menjalankan SOP.

Reporter: Eriza Reziana & Verticallya Yuri S.E Pratiwi

Penulis: Verticallya Yuri S.E Pratiwi

Editor: Febrian Hafizh Muchtamar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *