Mediasi dengan Pemda, Mahasiswa Tunanetra Memilih Bertahan di Trotoar

Mahasiswa tunanetra melakukan aksi di depan Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN) Wyata Guna sebagai tindakan protes terhadap perlakuan pihak balai yang mengusir secara sepihak, pada Selasa (14/01/2019). (Ifsani Ehsan/SM)

Suaramahasiswa.info, Bandung – Perubahan nomenklatur dari Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyata Guna menjadi Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN) Wyata Guna merupakan perkara awal diusirnya 32 mahasiswa tunanetra dari Panti Wyata Guna.

Mahasiswa tunanetra, Elda Fahmi menceritakan pengusiran paksa bermula dari desakan aparat kepada penghuni panti untuk segera meninggalkan panti. Pada saat desakan terjadi, beberapa dari mereka melakukan negosiasi untuk meminta waktu hingga sore hari. “Pada hari kamis (9/1) ada oknum TNI yang mengintimidasi. Lalu, tiba-tiba jendela sudah dibongkar, langsung disegel dan ditumpuk kayu dan lain-lain,” tutur Elda.

Dari 32 orang yang telah diusir dari Wyata Guna, beberapa ada yang mengungsi ke kostan temannya. Sementara yang lain mengumpulkan tabungan untuk menyewa tempat tinggal, dan sisanya memutuskan untuk tidur di trotoar dengan barang-barang mereka. Pengusiran oleh pihak balai rehabilitasi hanya kepada mahasiswa yang tinggal disana, namun untuk siswa SD, SMP, dan SMA masih dapat melakukan aktifitas belajar formal.

Perubahan nomenklatur yang berujung pengusiran paksa tersebut dilatarbelakangi Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2018 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas di Lingkungan Direktorat Jendral Rehabilitasi Sosial. Mahasiswa panti tunanetra, Muhammad Sofwan mengatakan perubahan nomenklatur tersebut akan berdampak pada pendidikan formal maupun pelatihan kerja.

“Dengan adanya perubahan nomenklatur ini mereka (pihak balai) beralasan mereka sudah tidak bertanggung jawab mengurusi pendidikan formal. Bahkan awalnya anak SD, SMP, SMA ada kemungkinan dikeluarkan, cuman terjadilah negosiasi dan untuk sementara ini mereka aman. Cuman yang mahasiswa ya sudah di sini (di luar),” pungkasnya ketika diwawancarai di depan BRSPDSN Wyata Guna, Jalan Padjajaran.

Mediasi dengan Pemerintah Daerah Jawa Barat

Pemerintah Daerah (Pemda) Jawa Barat pun melakukan mediasi dengan perwakilan mahasiswa penghuni Wyata Guna terlaksana di Gedung Pakuan, Jalan Cicendo No.1 pada Rabu (15/1). Pertemuan ini membahas solusi masalah pengusiran mahasiswa penghuni Wyata Guna. Selaku perwakilan dari mahasiswa tunanetra, Tubagus Abim meminta memulihkan kembali fungsi panti yang sudah dikosongkan paksa.

Kepala Biro Hukum dan HAM Pemda Jabar, Eni Rohyani dalam pertemuan itu menyarankan solusi sementara, yaitu direlokasi ke Cibabat. Jika ke tempat lain, kata Eni, anggaranya tidak ada.

“Di sana [Cibabat] kami akan fasilitasi semuanya. Pemindahan barang – barang akan dibantu Dishub (Dinas Peruhubungan). Kalau untuk permintaan mereka ditempatkan di aula, kami tidak bisa janji hasilnya, tetapi kami akan menyampaikan amanah tersebut.”

Tubagus meminta untuk relokasi tidak terlalu jauh dari Wyata Guna dan menempatkan perempuan di Aula balai untuk sementara. Untuk mahasiswa tunanetra yang bertahan di trotoar, pihak Dinas Kesehatan memastikan akan mengerahkan timnya untuk berjaga di lokasi. Tubagus khawatir dengan kondisi kesehatan anak-anak yang tidur di trotoar.

Biro hukum dan HAM Pemda Jabar, Imam Nur Falah menjelaskan untuk saat ini mahasiswa tunanetra masih mempertimbangkan beberapa tawaran yang di ajukan oleh Pemda.

“Alasannya memang karena jarak tempuhnya jauh, karena Dinsos (Dinas Sosial) posisinya di Cibabat. Mereka (pihak mahasiswa tunanetra) mengajukan ke Pemda untuk tempatnya difasilitasikan di dekat PSBN Kota Bandung. Jadi mungkin kedepannya akan ada pertemuan lagi” Tutup Imam melalui pesan elektronik.

Reporter: Puspa Elissa, Ifsani Ehsan, Verticallya Yuri, Sophia Latamaniskha

Penulis: Verticallya Yuri & Sophia Latamaniskha

Editor: Ifsani Ehsan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *